search tickets in here

Freeport Jual Alat Tambangnya di Papua ke Benua Amerika

Foto: Ardhi Suryadhi
Jakarta - PT Freeport Indonesia sejak 2018 mulai mengirim peralatan tambang ke sejumlah perusahaan pertambangan di luar negeri, khususnya di wilayah Amerika Selatan dan Amerika Utara. Hal ini dilakukan karena akan berakhirnya masa penambangan Grasberg Open Pit Tembagapura, Mimika, Papua.

Juru Bicara PT Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan dengan akan berakhirnya operasi penambangan Grasberg Open Pit maka sejumlah peralatan tambang terbuka seperti truk tambang berkapasitas besar (haul truck) itu keberadaannya sudah tidak efektif, sebab Freeport kini berkonsentrasi pada pengembangan operasi tambang bawah tanah (underground mining).

"Saya dengar memang ada pengiriman 'haul truck' itu. Grasberg ini memang sebentar lagi akan selesai masanya. Sekarang memang masih berproduksi tapi sudah tahap final atau hampir selesai," kata Riza dikutip dari Antara di Timika, Papua.

Manajer Ekspor Impor PT Freeport Indonesia Edwin Kailola mengatakan pada Desember 2018 pihaknya mengirim sebanyak 60 unit truk tambang Komatsu tipe 930 ke tambang di Peru, Amerika Selatan.

Tahun ini Freeport berencana mengirim beberapa truk tambang lainnya ke sejumlah perusahaan pertambangan di wilayah Amerika Utara.

"Kami akan sibuk dengan pengiriman beberapa peralatan tambang ke luar negeri," kata Edwin saat pertemuan dengan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Khusus Papua Akhmad Rofiq di Timika, pekan lalu.
tambang bawah tanah masih belum maksimal, maka diperkirakan kegiatan ekspor konsentrat PT Freeport pada 2019 akan mengalami penurunan drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Pada 2019 ini prioritas kami yaitu mendukung pengelolaan konsentrat melalui pabrik smelter yang ada di Gresik. Memang masih ada ekspor konsentrat ke luar negeri, namun volumenya tidak signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya," jelas Edwin.

Memang, tambang terbuka (open pit) Grasberg yang dikelola Freeport kini tak lagi sibuk. Grasberg sudah menua, dan tengah menunggu hari-hari terakhirnya.

Kepala Teknik Tambang PT Freeport Indonesia (PTFI), Zulkifli Lambali mengatakan kegiatan tambang di Grasberg bisa berakhir pada akhir tahun 2018.

"Tambang open pit kita di Grasberg merupakan tempat produksi utama saat ini, Kita rencanakan akan berakhir di tahun ini, kita menyebutnya akan ditutup," kata Zulkifli, seperti yang dikutip detikFinance saat berbincang dengan media di Tembagapura, Papua pada tahun lalu.

Produksi harian Freeport saat ini berada di angka 240 ribu ton per hari, dan sekitar 170-180 ribu ton di antaranya merupakan hasil dari pengerukan di Grasberg. Sisanya dari tambang bawah tanah underground, itupun belum maksimal eksplorasinya.

"Jadi pada tahun 2019, produksi Freeport akan turun sekitar 60%, karena Grasberg tutup dan tambang bawah tanah belum optimal memproduksi. Ini memang masa-masa sulit bagi kita, tetapi ini sudah kita prediksi," lanjutnya.

Bila ditilik sejarahnya, Gunung Grasberg ditemukan pertama kali oleh seorang Geologis Belanda, Jean Jacques Dozy pada tahun 1936. Kisahnya, Dozy melihat dan melaporkan adanya keganjilan tumbuhan di sebuah gunung yang terletak kurang lebih 4 km di sebelah utara-barat Ertsberg, tambang pertama yang dieksplorasi Freeport di Papua.

Pada tahun 1997, berdasarkan klasifikasi besar cadangan dan kadar tembaganya, Grasberg diidentifikasi sebagai tambang tembaga tipe propiri terbesar ketiga di dunia yang kandungan tembaganya diperkirakan lebih dari 1 miliar ton.

Kalau berdasarkan kadar emasnya, Grasberg menjadi tambang terbuka tunggal tipe propiri dengan kandungan emas terbesar. Bahkan, jumlahnya pun lebih dari 55 juta ons emas.

Namun setelah bertahun-tahun terus dieksplorasi, tambang terbuka Grasberg yang juga menjadi tumpuan terbesar penyuplai hasil tambang utama Freeport telah mencapai titik akhirnya.
Alhasil, untuk mengejar ketertinggalan pasca era Grasberg, Freeport harus menjadi agresif membangun infrastruktur di tambang bawah tanahnya. Tak kurang dari 600 km jalur sudah tersambung di sepanjang tambang bawah tanahnya. Selain itu, kendali jarak jauh (MineGem) untuk mengeruk hasil tambang pun sudah dioperasikan lantaran risiko di tambang underground yang lebih tinggi.

Belum lagi crusher (mesin penghancur bijih) terbesar, kereta bawah tanah yang sampai sekarang juga terus dikembangkan termasuk lift di area tambang GBC untuk memperpendek waktu tempuh bagi pekerja dan distribusi alat.

Harapannya, tambang bawah tanah bisa menjadi mesin produksi utama Freeport utama usai era Grasberg open pit. Targetnya adalah, usai produksi anjlok di 2019, masuk tahun 2020 mereka bisa memaksimalkan tambang bawah tanah.

"Tambang bawah tanah memang sulit diprediksi. Cuma yang pasti investasi di sini lebih tinggi, risikonya lebih tinggi, dan tantangannya juga semakin tinggi. Cuma memang masa depan Freeport ada di sini," sambung Zulkifli.
Tambang Grasberg merupakan tambang open pit yang potensinya tercatat 34 juta metrik ton. Dengan konsentrat tembaga 1,29 gram per metrik ton, kandungan emas di Grasberg Open Pit ini juga lebih besar dibandingkan tambang lain, jumlahnya mencapai 2,64 gram per metrik ton dan untuk perak mencapai 3,63 gram per metrik ton.

"Untuk tambang bawah tanah kita baru produksi dari DOZ dan Big Gossan. tapi setelah Grasberg tutup tahun depan maka semuanya akan datang dari underground, dan akan kita capai 160 ribu ton per hari, tapi setelah dua tahun kemudian," papar Zulkifli yang sudah hampir 30 tahun bekerja di Freeport.


Post a Comment

0 Comments