search tickets in here

“Ayo, Pakai Noken!”

Mama-mama Papua menggelar noken di halaman
 auditorium Uncen Abepura, 4 Desember 2018 - Jubi/Timo Marten
SEJUMLAH mahasiswa di lima kampus di Kota Jayapura merayakan Hari Noken VI Sedunia dengan mimbar bebas. Mereka adalah mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), Universitas Cenderawasih (Uncen), Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH ) Umel Mandiri, Universitas Otto-Geisler (UOG), dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Muhammadiyah.
Kegiatan bertajuk “Ayo, Pakai Noken!”, kata penanggung jawab kegiatan, Abraham Goo, mengatakan untuk menumbuhkan kesadaran kepada generasi muda Papua. Hal itu juga sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian noken, lingkungan dan hutan, dan mendukung mama-mama perajut noken.
“Noken adalah tas tradisional masyarakat Papua. Bahan pembuatannya terbuat dari serat kulit kayu. Sama dengan tas pada umumnya, tas atau noken ini digunakan untuk membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari atau sesuai bentuk dan fungsinya masing-masing,” kata Goo, kepada Jubi di Abepura, Selasa, 4 Desember 2018.
Alumnus SMA Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik Teruna Bhakti Jayapura ini melanjutkan, HUT Noken pada 4 Desember juga sebagai bentuk dukungan terhadap pencetus noken ke UNESCO, Titus Christ Pekei.
“Karena keunikannya noken didaftarkan ke UNESCO. Olehnya sebagai salah satu karya tradisional dan warisan kebudayaan dunia dan pada 4 Desember 2012. Noken khas masyarakat Papua ditetapkan sebagai warisan kebudayaan takbenda UNESCO di Prancis oleh Arley Gill sebagai ketua komite, yang bertujuan untuk melindungi dan mengembangkan warisan budaya noken 250 suku bangsa di Papua terebut,” katanya.
Masyarakat Papua sebagai “tuan noken” perlu mempersiapkan segala sesuatu dalam melindungi dan mengembangkan noken yang telah dikenalkan dan diakui dunia tersebut. 
"Ketika noken kehilangan pengguna, ketika noken hilang, ketika bahan pembuatan noken habis, ketika tidak ada lagi pengrajin noken, ketika noken dipandang sebelah mata (tidak ada tempat) untuk dibagi kepada pengguna noken lainnya. Itu menandakan bahwa noken Papua yang telah diperjuangkan Titus Pekei tokoh noken tersebut sebagai warisan kebudayaan tak benda UNESCO ini sia-sia," katanya.
Presiden Mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), Aleksander Gobay, mengatakan momen ini memberikan peringatan tentang pentingnya kesadaran setiap orang di Papua untuk melestarikannya.
“USTJ turut berperan dalam mendorong berbagai pihak untuk melestarikan noken melalui kegiatan yang akan dilaksanakan, yaitu mimbar bebas dan jalan santai. Peran semua pihak di Papua tersebut khususnya para akademisi dalam mempersiapkan generasinya untuk melestarikan budaya noken (wajib pakai noken) saat berada di lingkungan kampus," katanya.
Alexander Gobay mengatakan kegiatan ini merupakan suatu bentuk kepedulian anak-anak Papua dalam mendorong pelestarian noken yang berkelanjutan. 
"Selain itu mendorong pihak lain di Papua sesuai bidang kekuasaannya untuk melestarikan noken sebagai warisan budaya Papua," katanya.
Ketua Noken Foundation, Titus Krist Pekei, mengatakan sedianya semua orang Papua mengetahui bahwa 4 Desember 2018 merupakan Hari Noken VI. Itu berarti siapa pun harus memakai noken, dan memfasilitasi mama-mama Papua dengan membeli noken rajutan mereka.
Menurut penggagas noken ke UNESCO ini, pemerintah harus memberdayakan mama-mama perajut dan penjual noken dan membudidayakan bahan baku pembuatan noken.
“Upaya pelestarian noken dilakukan dengan melestarikan dan melindungi hutan, membuat kurikulum lokal tentang noken. Dengan tidak menghargai noken, berarti otonomi khusus di Papua gagal,” kata Pekei.
Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, mengatakan masyarakat Papua masih aktif melestarikan budaya noken. Namun sejak noken diakui sebagai warisan budaya tak benda UNESCO enam tahun yang lalu, hingga saat ini museum noken di Waena masih mangkrak, belum difungsikan.
Kondisi tersebut dikhawatirkan status noken sebagai warisan budaya dunia dicabut. Salah satu program yang diminta oleh UNESCO dalam pelestarian noken adalah pembuatan museum noken. Museum ini selain sebagai tempat untuk memamerkan, menyimpan koleksi noken juga sebagai sarana edukasi tentang noken.
"Jika museum noken tidak difungsikan dan tidak ada kegiatan di museum tersebut maka dikhawatirkan status noken sebagai warisan budaya tak benda UNESCO akan dicabut," kata Hari seperti dilansir Antara, Selasa.
Noken atau tas rajutan khas Papua diakui sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Bergerak dalam Sidang UNESCO di Paris, Prancis, tanggal 4 Desember 2012. Usulan noken sebagai warisan dunia sudah dilakukan sejak empat tahun sebelumnya setelah beberapa kali direvisi. Pada 4 Desember diperjuangkan di hadapan 26 anggota komite warisan dunia yang dihadiri wakil dari 189 negara. (*)

Post a Comment