Selamatkan Bahasa Daerah Mulai dari Keluarga

9:50:00 AM
Sekretaris Komisi V DPR Papua bidang pendidikan,
seni dan budaya, Natan Pahabol – Jubi/Arjuna
Jayapura – Sekretaris Komisi V DPR Papua bidang pendidikan, seni dan budaya, Natan Pahabol menyatakan, ada beberapa cara yang dapat dilakukan pemerintah dan masyarakat asli Papua untuk menyelamatkan bahasa daerah suku yang ada di provinsi paling timur Indonesia itu, agar tidak punah seiring perkembangan zaman.
Katanya, beberapa hal yang dapat dilakukan menjaga bahasa daerah setiap suku di Papua agar tidak punah, diantaranya orangtua wajib menggunakan bahasa daerahnya dalam komunikasi sehari-hari dengan anggota keluarga, dan mengajarkan anak mereka bahasa daerahnya. 
Selain itu menurutnya, pemerintah provinsi dan kabupaten (kota) di Papua perlu membuat regulasi yang mengatur penggunaan bahasa daerah di Papua. Apakah ada hari-hari tertentu atau area wajib berbahasa daerah. 
Hal lain yang dapat dilakukan, pemerintah dapat menjaga keberlangsungan bahasa daerah lanjut Pahabol, dengan cerita rakyat atau lagu yang ditulis oleh penutur bahasa daerah setiap suku. 
“Gereja juga wajib menggunakan bahasa daerah dalam pelayanannya. Bahasa daerah itu identitas. Kalau bahasa daerah hilang, prinsip, identitas, ideologi tak ada lagi,” kata Natan Pahabol kepada Jubi, Selasa (9/10/2018).
Ia khawatir, jika sejak kini tak ada upaya menjaga keberlangsungan bahasa daerah suku di Papua, seiring waktu akan punah. Apalagi menurutnya, budaya orang Papua bukan menulis, tapi bertutur (berbicara) dan mendengar. 
Ia mengatakan, bahasa daerah bukan lagi dilestarikan, tapi digunakan. Kalau pemerintah ingin menjaga keberlangsungan bahasa daerah suku di Papua, sebaiknya bekerjasama dengan LSM, gereja, dan pihak terkait lainnya. 
“Pemerintah cukup memberikan dukungan dana dan sarana yang memadai, kalau mau turun tangan langsung, sulit karena banyak hal lain yang harus dipikirkan dan dikerjakan pemerintah,” ujarnya. 
Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat menyatakan, lima dari enam bahasa daerah di Teluk Humboldt terancam punah, yakni bahasa Sentani, bahasa Nafri, bahasa Kayu Pulo, bahasa Skouw, dan bahasa Tobati-Enggros. Hanya bahasa Moso yang tidak punah.
Peneliti Balai Bahasa Papua dan Papua Barat, Suharyanto mengatakan, untuk penggunaan bahasa Nafri, jika tidak ada penanganan serius, diperkirakan dalam tiga generasi ke depan, ikut punah.
“Beguti juga bahasa Tobati-Enggros dan Kayu Pulo. Untuk bahasa Kayu Pulo memang belum dilakukan penelitian, Namun, berdasarkan kedekatan tempat dan banyaknya penutur, bahasa ini juga terancam punah,” kata Suharyanto pekan lalu.
Menurutnya, berbagai hal menyebabkan beberapa bahasa itu terancam punah, di antaranya jumlah penutur yang berkurang, lokasi suatu daerah, kebutuhan, dan asimilasi. (*)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »