search tickets in here

Pernyataan Sikap Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua D I Yogyakarta

“D I Y TIDAK LAGI NYAMAN BAGI KAMI WARGA (MAHASISWA) PAPUA”


Massa Aksi IPMAPA DIY Saat Menggelar Aksi Damai (Doc.Dedy P)
Daerah Istimewa Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan dan kota budaya, yang berhati nyaman, julukan D I Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan dengan semboyan berhati nyaman ini pula yang memicu banyak pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia datang untuk menimbah ilmu di sini, termaksud pelajar dan mahasiswa asal Papua.  Namun semboyan D I Yogyakarta sebagai kota yang berhati Nyaman hanyalah sekedar semboyan yang tidak diperuntukan bagi pelajar dan mahasiswa Papua di D I Y. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya kasus terror, intimidasi, pengeroyokan, penikaman dan pembacokan yang bahkan mengakibatkan nyawa pelajar dan mahasiswa melayang, tak mampu diusut secara tuntas oleh pihak Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun terakhir saja, tercatat ada puluhan kasus yang kekerasan menimpa pelajar dan mahasiswa Papua di D I Y, namun tidak satupun kasus tersebut diselesaikan secara tuntas oleh Kepolisian, bahkan terkesan ada pembiaran yang dilakukan, sehingga aksi kekerasan terhadap pelajar dan mahasiswa Papua terus berlanjut, hingga semakin meningkat di setiap tahunnya. Masih tergambar dengan jelas kasus penculikan, pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan terhadap Jessica Elisabeth Isir, seorang mahasiswi alumni STPMD-APMD, jenasahnya ditemukan tergeletak di rel kereta api daerah Timoho pada tanggal 01 Mei 2010, belanjut kasus pemukulan dengan benda tumpul di tempat keramaian Malioboro (Nol KM) terhadap Phaulus Petege, pada bagian kepala belakang, yang mengakibatkan Phaulus merenggang nya pada tanggal 04 Juni 2014, kasus pembacokan terhadap Yaved Adii di daerah Selokan, dekat OB pada tanggal 16 Maret 2015 yang menyebabkan kepala Yaved mengalami luka sobek yang cukup serius hingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Tidak hanya itu, masih banyak kasus-kasus kekerasan terhadap pelajar dan mahasiswa Papua namun tidak satupun pelaku kekerasan ini ditangkap oleh pihak kepolisian D I Y, meskipun telah dialporkan, beserta bukti dan saksi yang mengarah pada para pelaku. Baru-baru ini saja, dalam waktu kurang dari dua bulan terakhir (Agustus – September 2018), terjadi rentetan kasus yang mengganggu keamanan dan kenyamanan pelajar dan mahasiswa Papua di D I Y, diantaranya; Pengepungan dan Penodongan menggunakan senjata api (pistol) dan senjata tajam (pedang) di asrama Puncak Jaya pada tanggal 08 Agustus 2018, penusukan terhadap Kemis Murib pada tanggal 12 September 2018 di ST Bear, Perampasan sepeda motor dan pemerasan terhadap Aprilia W di Ring Road Utara, pada tanggal 21 September 2018, hingga yang terakhir terjadi pembacokan terhadap Rolando Nauw di Timoho, pada tanggal 29 September 2018.
Meskipun dua kali telah dilakukan penandatanganan surat pernyataan bersama antara Papua dan Maluku (Kei, Ambon, Samlaki) yang disaksikan langsung oleh pihak Kepolisian, TNI dan Pemerintah, guna mengantisipasi kejadian-kejadian tersebut terus berulang, namun nampaknya penandatanganan surat pernyataan tersebut sama sekali tidak berefek kepada kelompok Maluku (Ambon, Kei, Samlaki) yang mana masih saja terus berulah pasca penanda tanganan surat pernyataan dilakukan, bahkan terror, dan intimidasi kepada pelajar dan mahasiswa Papua semakin marak dilakukan oleh kelompok orang asal Maluku yang ada di D I Yogyakarta. Semakin maraknya tindak kekerasan, terror dan intimidasi yang dialami pelajar dan mahasiswa Papua di D I Yogyakarta belakagan ini, dan kurang tegasnya kepolisian D I Y dalam pengusutan kasus-kasus kekerasan yang menimpa pelajar dan mahasiswa Papua, semakin memperkuat keyakinan pelajar dan mahasiswa Papua bahwa DIY Tidak Lagi Nayaman Bagi Warga Papua.
Untuk itu, sebagai bagian dari warga masyarakat D I Yogyakarta, yang memiliki hak sama dalam mendapatkan rasa aman dan nyaman di DIY, maka Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMA-PAPUA) menyatakan: “D I Y TIDAK LAGI NYAMAN BAGI KAMI WARGA (MAHASISWA PAPUA), dan menuntut:
1.      Usut dan Tuntaskan Semua Kasus Kekerasan Yang Menimpa Pelajar dan Mahasiswa Papua di Daerah Istimewa Yogyakarta
2.      Berikan Kenyamanan Bagi Kami Pelajar dan Mahasiswa Papua di Daerah Istimewa Yogyakarta
3.      Kepolisian Harus Bersikap Adil Dalam Mengusut Semua Kasus Yang Menimpa Pelajar dan Mahasiswa Papua
4.      Berantas Premanisme di Daerah Istimewa Yogyakarta
5.      Berikan Jaminan dan Ruang Kebebasan Kepada Mahasiswa Papua
Demikian pernyataan dan tuntutan ini  kami bacakan, atas perhatian dan kerjasama semua pihak dalam menciptakan kedamaian dan kenyamanan bagi seluru warga masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, termaksud pelajar dan mahasiswa Papua kami sampaikan terima kasih.

Yogyakarta, 04 Oktober 2018


Presiden
Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua

Aris Yeimo

Post a Comment