search tickets in here

Bahasa Indonesia Penyebab Punahnya Bahasa Papua

Sekretaris Komisi V DPR Papua bidang pendidikan,
seni dan budaya, Natan Pahabol – Jubi.Dok
Jayapura – Sekretaris Komisi V DPR Papua bidang pendidikan, seni dan budaya, Natan Pahabol menyatakan, salah satu penyebab bahasa daerah suku di Papua (bahasa ibu) terancam punah karena penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
“Salah satu penyebab yang bisa kita lihat langsung di lapangan, penggunaan bahasa Indonesia membunuh bahasa daerah. Kurang lebih ada 270 bahasa suku di Papua, dan bahasa pemersatu di Papua adalah bahasa Indonesia,” kata Natan Pahabol kepada Jubi, Selasa (9/10/2018).
Menurutnya, Papua tak memiliki bahasa standar yang dapat dipahami suku yang ada di provinsi itu seperti di Papua Nugini. Di negara itu katanya, ada tiga bahasa yang digunakan warga yakni bahasa daerah, bahasa Tok Pisin, dan bahasa Inggris.
“Masyarakat PNG menguasai tiga bahasa ini, tapi mereka punya bahasa pemersatu yaitu Tok Pisin,” ujarnya.
Kalau di Papua lanjut dia hanya bahasa ibu dan bahasa Indonesia. Tidak ada bahasa pemersatu lain yang dapat digunakan masyarakat dari wilayah adat Lapago, Meepago, Mamta, Saireri dan Animha. 
“Bahasa yang dianggap bahasa pemersatu di Papua adalah bahasa Indonesia yang dialegnya diubah,” ucapnya.
Faktor lain yang dinilai mengancam keberlangsungan bahasa ibu di Papua, karena orangtua tidak menggunakannya berkomunikasi dalam keluarga, dan tidak mengajarkan kepada anak mereka. 
“Faktor dari lainnya, karena orang dari luar datang misalnya guru-guru, pendeta dan lainnya datang menggunakan bahasa Indonesia,” katanya.
Sementara peneliti dari Balai Bahasa Papua dan Papua Barat, Suharyanto mengatakan, terancam punahnya bahasa ibu dapat disebabkan beberapa hal, di antaranya jumlah penutur yang berkurang, lokasi suatu daerah, kebutuhan, dan asimilasi.
Katanya, di mana pun kota di seluruh dunia dan terdapat berbagai etnik yang datang, mau tidak mau pasti akan mempengaruhi kondisi vitalitas bahasa daerah setempat.
“Ini sudah pasti akan terjadi interaksi soal kebutuhan, sehingga dipastikan memakai bahasa pengantar yang mudah dipahami bersama,” kata Suharyanto pekan lalu. (*)

Post a Comment