Momentum 1 Mei, Indonesia Memperbudak Papua Atas Nama Pembebasan

Markus Haluk saat berjumpa dengan Kardinal John Ribat di PNG
 dalam perjalanan diplomasinya demi pembebasan
Papua dari perbudakan,-Jubi/Ist
Jayapura -  Catatan Sejarah 1 Mei 1963 bertepatan pembebasan Irian Barat dalam aneksasi ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dinilai sebagai awal perbudakan tersistem terhadap Papua.
"55 tahun pula lamanya atas nama pembebasan kaum buruh internasional dari kapitalisme, justru memperbudak bangsa Papua," ujar kepala kantor Koordinasi United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) di West Papua, Markus Haluk, . 


Aneksasi ke negara Indonesia mengatasnamakan pembebasan yang terjadi sejak 55 tahun lalu itu justru memunculkan sistem perbudakan dan pembunuhan terhadap orang Papua.

“Selama orang Papua hanya menjadi objek dari pembangunan,” kata Haluk menegaskan.
Pejuang kemerdekaan Papua menyebutkan kondisi Papua sejak bergabung dengan negara Indonesia bertolak belakang dengan pidato presiden pertama Indonesia Soekarno yang menyatakan 1 Mei adalah hari bersejarah.
“Saat itu Soekarno menyebut hari pembebasan Internasional. 1 mei 1963 Irian Barat Kembali ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia," ujar Haluk menjelaskan.
Ia menilai pidato itu tak sesuai dengan fakta perbudakan Indonesia di Papua Barat yang mengatasnama pembebasan.
Anggota DPRP, John  Gobay, sepakat dengan pernyataan Haluk, ia menyebutkan selama ini orang Papua hanya menjadi obyek bukan subyek pembangunan, padahal selama ini orang Papua yang memiliki hak-hak atas sumber daya di daerahnya. 
"Orang Papua ini hanya terima uang bore (rayu) dari pemodal yang mengelola hutan dan pertambangan," kata Gobay.
Menurut dia, orang Papua tidak pernah punya posisi lebih dan hanya menjadi penonton atas perebutan dan pengerukan kekayaan alam di tanah kelahiran. 
Irenius Puhiri, salah satu tokoh Tabi, menyebut orang Tabi sudah minoritas di negerinya. Orang Tabi hanya sekitar 133 ribu dari total jumlah penduduk di tanah Tabi.
"Orang Tabi hanya 133 ribu. Apakah orang Tabi akan ada ke depan?,” kata Puhiri mempertanyakan,
Ia menyebutkan Wilayah adat Tabi meliputi kabupaten dan kota Jayapura. Keerom, Sarmi dan Mamberamo Raya. Sedangkan penduduk wilayah tersebut didominasi orang imigran Indonesia Barat dan Tengah melalui program transmigrasi awal 1980 an hingga 1990an. (*)
Share:

Search This Blog

Support

Facebook