Warga Jepang Kaget 100 Warga Papua Meninggal Akibat Campak

1:47:00 AM
Seorang anak Papua sedang mendapat perawatan darurat. 
Tokyo - Seorang warga Jepang Aiko Kunihira merasa kaget mendengar 100 warga Papua umumnya anak-anak meninggal akibat penyakit campak dan malnutrisi (kurang gizi).
"Masalah penyebaran campak dan malnutrisi di wilayah timur Indonesia di Provinsi Papua, menurut pihak berwenang, penderita telah mencapai sekitar 800 anak dan lebih dari 100 orang meninggal dunia. Mayoritas korban tewas dianggap anak-anak," tulis AFP dalam bahasa Jepang, Jumat (26/1/2018).
Kunihira merasa sangat kaget setelah membaca berita tersebut dan mengkonfirmasikan kepada Tribunnews.com.
"Ini tidak salah ya? Parah juga 100 anak meninggal di Papua ya," lanjutnya.
Menurut berita AFP, di Provinsi Papua yang terletak di sisi barat Pulau New Guinea yang terbagi dengan wilayah tetangga Papua Nugini dan wilayahnya, pemberontakan kecil oleh kelompok separatis juga terjadi dengan latar belakang ketidakpuasan dengan kemiskinan.
Krisis kesehatan baru-baru ini dipublikasikan pertama kali di pertengahan bulan, menyoroti kekurangan layanan dasar seperti perawatan medis.
"Presiden Joko Widodo di Indonesia melihat situasi tersebut dan menginstruksikan pihak berwenang militer dan medis untuk memasok pasokan ke desa-desa terpencil di negara bagian tersebut," tulis AFP.
Menurut wartawan AFP, di Agatsu, para dokter sedang berjuang untuk merespons karena rumah sakit yang tidak siap meluap dengan pasien.
"Di koridor rumah sakit dengan bau busuk, kami bisa melihat anak-anak berjalan-jalan sambil menangis dan mereka terbaring di atas tandu yang compang-camping," tulis berita itu laporan dari wartawannya.
Pejabat lokal terkejut dengan lonjakan pasien campak.
Direktur menjelaskan wawancara dengan AFP bahwa "Karena kami terlambat untuk menerima informasi tentang penyebaran campak, banyak kematian muncul."
Salah satu penyebab penyebaran infeksi adalah penurunan fungsi kekebalan tubuh akibat kekurangan pangan.
Agatsu adalah tempat di mana ada satu-satunya rumah sakit di Asmat di daerah lahan basah dimana penyebaran campak, dan ada banyak orang tua yang berkunjung beberapa jam untuk membiarkan anak tersebut mendapat perawatan.
Karena banyak bangunan di daerah tersebut dan juga rumah sakit yang dibangun di atas tumpukan memiliki 80 tempat tidur dan kekurangan ruang, puluhan pasien menerima perawatan di gereja-gereja terdekat.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »