Australia

Sorong Samarai: Menari Untuk Pembebasan West Papua

Panggung yang menampilkan gabungan para musisi dan artis yang
 menampilkan pertunjukan Sorong to Samarai - Supplied/Benjamin Bayliss
Sydney – Januari tahun 2006 Yosua Roem baru berusian 12 tahun ketika ia dan 42 orang pencari suaka West Papua lainnya terombang-ambing dan mendarat di peraian Cape York setelah empat hari dan empat malam yang tak pasti di tengah lautan.
Kesemua pencari suaka tersebut telah membuat heboh Australia dan Indonesia. Segera pemerintah Indonesia menarik duta besarnya, para kartunis berperang gambar di media, bahkan halaman The Australian juga mengilustraliskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menjabat saat itu seoalah-olah ‘seekor anjing menghadang rakyat Papua yang malang sambil berkata “jangan salah sangka”. Jakarta pun menuntut penjelasan Australia saat semua pengungsi itu mendapatkan visa.
Tapi Roem dan kakak laki-lakinya, Sam, tidak tahu menahu asal usul kehebohan itu. Yang mereka tahu adalah bagaimana menari. Lalu menarilah kedua bersaudara itu hingga mengambil studi tari pada koregrafer dan performer ex-Bangarra yang terkenal, Albert David.
“Anda bisa bayangkan kami tidak tahu bahasa Inggris sama sekali, tapi kamu selalu suka musik dan menari. Begitulah kami ekspresikan diri kami,” ujar Roem seperti dilansir The Australian (26/11/2017). “Sekarang kami sudah terhubung dengan orang-orang asli Australia, pemilik tanah ini, dan tarian tradisional serta musik kami mirip; ini menjadi perjalanan pengetahuan kami tentang bagaimana kita semua sebenarnya terhubung.”
Keterhubunganlah yang menjadi inti dari penampilan mereka di Sydney Opera House minggu lalu. Dalam pertunjukan yang  berjudul Sorong Samarai, bersama David, Airileke Ingram seorang produser nominator ARIA asal Papua Nugini, serta aktivis dan seniman asal West Papua Ronny Kareni serta seniman-seniman lainnya.
Pertunjukan itu mengambil tema dari dua populasi (Sorong dan Samarai) di pulau besar yang oleh sejarah memaksa adanya perbatasan pemisah dua entitas Melanesia yang dapat bersatu.
Ingram, yang tumbuh besar oleh kebudayaan Australia dan Papua, mengatakan kehadiran 43 pencari suaka asal West Papua itu untuk pertama kalinya menarik perhatian publik Australia terhadap penindasan Indonesia atas setengah pulau besar itu. Diperkirakan 10,000 lebih pengungsi West Papua hidup tak pasti di Papua Nugini. Ingram tak tahu menahu apa yang terjadi, hingga kehebohan pengungsi itu membuka mata dan pengetahuannya.
Dirinya mengakui momen tersebut sebagai “pencerahan” baginya. Itulah awal mula langkah lebarnya, dari pertunjukan musik dan “kebudayaan secara luas” menjadi lebih kaya dengan kandungan sikap politik.
Ingram juga menyebutkan pembunuhan terhadap musisi dan budayawan Arnold Ap tahun 1984 oleh tentara Kopassus sebagai contoh alas an penampilannya.
“Saya dapat melakukan berbagai hal seperti yang saya lakukan sejauh ini di negara bebas; namun di West Papua, anda dapat dibunuh karena melakukan hal yang sama,” ujarnya.
Sorong Samarai menampilkan kibaran bendera Bintang Fajar (Kejora) yang dilarang di Papua, bersama pertunjukan music hip hop, hentakan drum dari Pulau Manus dan tarian urban modern West Papua.
Acara ini adalah bagian dari festival tahunan Homeground kebudayaan First Nations (Bangsa-bangsa pertama) yang juga menampilkan Yothu Yindi, band Yolngu dengan hit internasionalnya Treaty menyangkut hak konstitsional orang-orang asli Australia yang ditolak oleh Malcolm Turnbull.
“Saya percaya sebuah perjanjian dibutuhkan di negeri ini agar Australia memperlakukan orang-orang asli secara berbeda … dengan itu mereka akan menghormati perspektif orang-orang asli, tak hanya perspektif para penjajah,” kata Ingram kepada The Australian.(*)

About Karoba News

Powered by Blogger.