Berita

Jurus Jitu Mama-Mama Papua Menjual Noken

Noken Papua di emperan toko atau pinggir jalan. (Liputan6.com/Katahrina Janur)
Jayapura - Kalangan perajin noken masih terkendala memasarkan tas khas Papua tersebut. Noken pun dijual eceran secara konvensional. Paskalina Totoki dan Mariana Pigay, koordinator mama-mama perajin noken di Abepura serta Bhayangkara, mengatakan kesulitan memasarkan noken buatan perajin karena sampai saat ini belum ada pengusaha yang menampungnya.
"Kami lebih banyak menjual dengan cara menggelar noken serta dagangan lainnya seperti gelang di atas trotoar atau di emper toko serta di pasar saat berjualan sayur," ucap Paskalina Totoki, dilansir Antara.
Noken masuk dalam warisan dunia sejak 2012. Awalnya berbahan dasar kulit kayu dan kulit anggrek, tapi saat ini banyak yang dibuat dari benang, termasuk benang wol. Harga noken bervariasi tergantung bahan. Yang termahal dibuat dari kulit anggrek yang harganya mencapai sekitar Rp 5 juta.
Dalam rangka memperingati Hari Noken Sedunia 2017, sekitar 300 perajin tas noken atau tas rajutan asli Papua, menggelar pameran noken yang dipusatkan di kawasan Taman Imbi, Kota Jayapura, Senin, 4 Desember 2017.
Pameran yang dipusatkan di Kota Jayapura, dilaksanakan sehari diikuti ratusan perajin noken yang sebagian besar adalah mama-mama.
Ketua Asosiasi Noken Papua Meri Dogobia mengatakan, pameran yang dilaksanakan dalam rangka Hari Noken Sedunia itu bertujuan untuk lebih memperkenalkan noken kepada masyarakat sekaligus menjadi sarana bagi para perajin untuk menjual hasil karyanya.
Sebagian besar perajin noken, selain sebagai ibu rumah tangga ada juga yang berprofesi sebagai pedagang di Pasar Paldam atau Pasar Mama-Mama.

About Karoba News

Powered by Blogger.