Aksi

Empat Organ Gerakan Papua Aksi Bisu Peringati Paniai Berdarah

Aksi organ pergerakan mahasiswa saat melakan aksi bisu dengan
jalan kaki bebagai bentuk rasa duka mereka terhadap kasus Paniai berdarah
8 Desember silam. - Jubi/Agus Pabika
Jayapura - Memperingati peristiwa tragedi Paniai Berdarah pada 8 Desember 2014, empat organ pergerakan di Papua Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat Papua (GEMPAR), Forum Independen Mahasiswa (FIM), Solidaritas Nasional Mahasiswa dan Pemuda Papua Barat (Sonamappa) dan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), melakukan aksi bisu dengan jalan kaki dari Perumnas III Waena sampai Taman Imbi Jayapura kota, Jumat (8/12/2017), Jayapura, Papua.
Perwakilan Gempar Papua, Nelius Wenda, saat ditemui Jubi mengatakan tragedi Paniai Berdarah, tidak bisa dilupakan. Oleh sebab itu, aksi terus dilakukan sebagai rasa duka. "Kami memperingatinya dengan melakukan aksi bisu dan jalan kaki," katanya.
Lanjutnya, rakyat Papua masih berduka begitu pun yang dirasakan keluarga korban. "Hari ini proses peradilan untuk mengungkap pelaku, tidak berjalan atau belum terselesaikan. Bahkan janji presiden pada Natal nasional 2014 di lapangan Mandala tidak terealisasi baik juga," sampainya.
Kata Nelius, dalam Natal bersama di lapangan Mandala, Presiden Jokowi berjanji untuk secepatnya menyelesaikan kasus Paniai Berdarah.
"Sampai sekarang masih banyak kasus yang belum pernah terselesaikan, baik Wasior Berdarah, Wamena Berdarah dan lainnya."
Sementara itu Ketua I Sonamappa, Pilipus Robaha, mengatakan aksi hari ini dengan harapan agar mereka yang menjabat di kursi pemerintahan tidak melupakan kasus ini.
"Kami mau kasih tahu buat kaka-kaka kami yang ada di DPRP, institusi penegak hukum yang ada di Papua, untuk tidak melupakan kasus Paniai. Karena kasus Paniai merupakan kasus yang sangat memukul hati orang Papua, sebab terjadi pada saat orang Papua sedang mempersiapkan diri untuk menyambut perayaan Natal."
Sekjen FIM, Alex Mujijau, mengatakan kasus Paniai sudah genap 4 tahun. Mereka meminta agar presiden menyelesaikan kasus-kasus HAM di tanah Papua.
"Pemerintah harus membuka ruang demokrasi untuk kami menyampaikan kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Papua, untuk diketahui dunia internasional," katanya.
Pada aksi bisu tersebut mahasiswa melakukan pemasangan lilin sebagai ucapan duka cita atas kasus Paniai, renungan singkat, dan doa bersama di Taman Imbi Jayapura kota. (*)

About Karoba News

Powered by Blogger.