Berita

Pendeta Gereja Kingmi Puncak Selatan Minta Jemaatnya Jangan Dipaksa Mengungsi

Warga Banti yang diungsikan ke Timika - Jubi/Benny
Jayapura – Para pendeta gereja Kingmi wilayah Puncak Selatan, mendesak Freeport, TNI-Polri dan TPN-OPM, agar tidak mengganggu jemaat mereka di Klasis Tembagapura, Klasis Jita dan Klasis Mimika, yang berada di lokasi yang dianggap di dalam wilayah Freeport. Termasuk memaksa jemaat untuk mengungsi.
Desakan itu disampaikan serentak oleh Ketua Koordinator Gereja Kingmi wilayah Puncak Selatan, Pdt. Nikolaus Mom, bersama Ketua Klasis Tembagapura Pdt. Obet Jawame, Ketua Klasis Jita Pdt. Yopirius Piligame, Ketua Klasis Mimika Pdt. Henok Nawipa, Pdt. Deserius Adii, Ketua Keadilan dan Perdamaian Koordinator Puncak Selatan.  
"Dalam pertemuan disepakati, dengan alasan apa pun, tidak ada jemaatnya yang pindah dari wilayah domisili mereka. Orang Amungme yang sudah bertahun-tahun sejak nenek moyang tinggal di sini tidak boleh dipindahkan," kata Pdt. Deserius Adii mewakili para pendeta, Kamis (23/11/2017).
Keputusan itu, kata dia, menyusul adanya pengungsian ratusan warga penambang emas dari Banti, Utikini dan Kimbely, ke Kota Mimika pekan lalu. Pengungsian itu tidak termasuk orang asli Papua, sebab mereka masih bertahan walaupun telah didesak oleh aparat keamanan untuk mengungsi.   
“Mereka yang dipindahkan itu pedulang emas. Mereka datang dari luar. Kalau jemaat kami yang lain, orang asli, sudah lama tinggal di sini. Kami bilang tidak usah pindah. Karena ini negeri kami,” katanya.
Lanjutnya, jika pindah, maka wilayah mereka diduga akan direbut Freeport. Mareka sangat yakin, karena Freeport sudah lama mendesak warga asli yakni Suku Amungme agar meninggalkan wilayah itu dengan alasan tidak jelas.
“Sudah lama, sejak 2000 itu, perusahaan desak warga kosongkan wilayah itu dengan alasan wilayah itu bahaya longsor,” katanya.
Tambahnya, dengan alasan apa pun, jemaatnya tidak akan pindah dari tanah kelahiran. Jika TNI-Polri mau berperang dengan pasukan TPN-OPM, kata dia, silakan cari lokasi yang jauh dari pemukiman warga atau jemaatnya.
“Kita sudah dengar dalam seruan itu. Mau perang di Port Side hingga Grasberg, jadi silakan di sana."
Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua Kombes AM Kamal, di Timika, Rabu (22/11/2017), menegaskan ratusan warga asli Papua dari ketiga kampung itu memilih mengungsi sementara waktu ke Timika atas kemauan mereka sendiri, bukan atas paksaan.
"Keberadaan mereka di Timika sekarang ini atas kemauan mereka sendiri, bukan karena desakan aparat kepolisian dan TNI. Kami hanya memfasilitasi karena saat itu, (Senin, 20/11/2017), mereka merasa tidak aman dan nyaman untuk tetap bertahan di kampung," ujar Kombes Kamal.
Ia mengatakan pada saat aparat mengevakuasi 344 warga non-Papua dari Tembagapura pada Jumat (17/11), warga asli Papua yang bermukim di Kimbeli, Banti, dan kampung-kampung lainnya memilih tetap bertahan di kampung mereka. (*)

About Roy Karoba

Life for Us
Powered by Blogger.