Berita

Pasca Kematian Isak Dermuye Kua, Oknum Anggota TNI Diduga Ancam Keluarga Korban

Korban Isak Dermuye Kua (23), warga kampung Woner, distrik Kimaam,
yang dianiaya oknum anggota TNI Yalet  - Jubi/Frans L Kobun
Merauke – Ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merauke, Moses Kaibu, mengatakan buntut kematian Isak Dermuye Kua (23), warga kampung Woner, distrik Kimaam, setelah dianiaya oknum anggota TNI Yalet, Minggu (19/11/2017) lalu, keluarga korban dipanggil menandatangani berita acara sekaligus diberikan uang sebesar Rp 50 juta.
Dalam salah satu butir di berita acara itu disepakati agar kasus kematian Isak, tak boleh dibuka kepada siapapun, termasuk membawa hingga ke ranah hukum. Oleh karena keluarga takut, apalagi saat itu, hadir pula Danramil Kimaam, sehingga terpaksa menandatangani berita acara tersebut.
Hal ini disampaikan Moses, kepada Jubi, Senin (27/11/2017).
“Betul bahwa ada uang Rp 50 juta diserahkan TNI Yalet  kepada keluarga korban. Tetapi sebagai kompensasinya, tak membawa kasusnya sampai ke ranah hukum. Saya menggali secara mendalam kasus itu, karena yang meninggal masih keponakan. Lagi pula, saya juga anak asli Kimaam,” tegasnya.  
“Jadi, jelas disitu ada unsur pemaksaan dilakukan. Karena masyarakat berhadapan dengan militer,” katanya.
Moses juga mengaku dari keterangan beberapa masyarakat di kampung Woner, didapatkan korban Isak bukan meninggal di tahanan Polsek Kimaam. Tetapi sudah dalam perjalanan menuju Polsek, akibat luka di beberapa bagian tubuhnya.
“Keterangan dari masyarakat, korban diduga dipukul dengan balok dan laras senjata di beberapa bagian tubuh,” ujarnya.
Korban Isak, jelas Moses, sempat terjatuh ke parit. Setelah diangkat, diduga sudah tak bernyawa. Di situ baru beberapa oknum anggota Yalet, menelpon polisi untuk mengambilnya sekaligus dibawa ke sel tahanan.
“Memang pagi-pagi, keluarganya hendak antar makanan. Namun setiba di Polsek, korban sudah meninggal dunia,” tuturnya.
Moses menambahkan dari keterangan warga, korban tidak dalam keadaan mabuk. Namun saat itu, bersangkutan sedang tidur, setelah pagi sampai sore bersama ortunya ke hutan menyensor kayu.
Disaat sedang istirahat di rumah, hari Minggu sekitar pukul 22.30 WIT, tiga orang anggota TNI Yalet datang dan menjemputnya dibawa ke pos.
“Korban meninggalkan beban dan tanggung jawab terhadap isteri dan seorang anak,” katanya.
Ketua DPRD Kabupaten Merauke, Fransiskus Sirfefa, mengaku pasca meninggalnya korban, dirinya bersama seorang tokoh masyarakat Papua Selatan, John Gluba Gebze, ke Kimaam  bertemu keluarganya.
“Kami juga memberikan santunan kepada keluarga korban uang sebanyak Rp 50 juta,” tuturnya.  (*)

About Roy Karoba

Life for Us
Powered by Blogger.