Berita

Legislator Papua: Jika Malu Dengan Budaya OAP, Biarkan Kami Urus Diri Sendiri

Ilustrasi Orang Asli Papua - Jubi/Arjuna
Jayapura - Legislator Papua, Emus Gwijangge mengatakan, jika pejabat di negara ini malu dengan budaya orang asli Papua (OAP), sebaiknya biarkan OAP mengurus diri sendiri.
Pernyataan politikus Partai Demokrat itu dilontarkan terkait dilarangnya para seniman tari tradisional dari Pegunungan Tengah Voice of Papua, agar tidak mengenakan koteka ketika tampil dalam Europalia Arts Festival Indonesia di Amsterdam, Belanda belum lama ini, sesuai pemintaan Wapres, Jusuf Kalla kepada pejabat Kemendikbud.
"Kalau malu dengan budaya kami orang asli Papua, biarkan orang asli Papua urus diri sendiri. Wapres harus minta maaf, kalau tidak saya akan minta para kepala suku dari wilayah pegunungan menduduki istana dengan menggunakan koteka," kata Emus kepada Jubi, Senin (27/11/2017).
Menurutnya, menggunakan koteka adalah budaya orang asli Papua dari wilayah pegunungan. Orang asli Papua sudah menggunakannya sejak zaman dulu, sebelum Papua menjadi bagian dari NKRI.
"Ini adalah budaya kami, kalau pemimpin di negara ini malu dengan budaya kami, kenapa selalu mengatakan kami ini bagian dari negara Indonesia," ujarnya.
Katanya, negara dan pejabatnya jangan hanya menginginkan kekayaan alam Papua, tapi tidak menghendaki orang asli Papua dan budayanya.  
"Setiap suku di Indonesia memiliki budaya sendiri, sehingga tidak boleh saling melarang. Kalau seperti ini di mana Bhineka Tunggal Ika yang selama ini selalu disebut-sebut para pejabat di negara ini," katanya. 
Europalia Arts Festival Indonesia digelar 10 Oktober 2017-21 Januari 2018 di tujuh negara yakni Belgia, Belanda, Prancis, Jerman, Polandia, dan Belanda. 
Namun ketika para seniman tari tradisional dari Pegunungan Tengah Voice of Papua akan tampil di Belanda, mereka mendapat instruksi supaya tak mengenakan pakaian tradisional koteka.
Dikutip dari reportasenews.com, Pimpinan Voice of Papua, Markus Rumbino mengatakan, ada pejabat Kemendikbud mengaku disuruh Wapres mintanya supaya penari tradisional jangan mengenakan koteka dan ditutup bagian belakangnya. 
"Mereka bilang Pak Wapres tidak berkenan,” kata Markus Rumbino. Menurut Markus, ia mengatakan kepada pejabat itu, jika penarinya dilarang menggunakan koteka, yang merupakan pakaian asli sukunya, pihaknya tidak akan tampil. 
“Dikira pakaian tradisional Papua itu semuanya pakai rumbai-rumbai seperti suku di wilayah pantai. Ini bukan soal sopan santun di depan orang luar negeri, tapi soal seni tradisi. Kalau penari tradisional Pegunungan Tengah itu dipaksa pakai rumbai-rumbai, malah akan dihukum adat di kampungnya," ujarnya. 
Ancaman tidak mau tampil di acara pembukaan itu, membuat Kemendikbud menyerah sebab akan menimbulkan insiden yang lebih luas.
Direktur Kesenian Ditjen Kebudayaan Kemendikbud Dr. Restu Gunawan tak mau berkomentar tentang insiden itu. 
“Tanya saja langsung sama pak dirjen,” kata Restu di Amsterdam, Belanda. (*)

About Roy Karoba

Life for Us
Powered by Blogger.