Berita

Sagu, Pangan Lokal Yang Penting Bagi Masyarakat Papua

Carles Toto dan Rudi Mebri, bersama warga masyarakat,
saat makan papeda pada festival makan papeda di kampung
Abar distrik Ebungfauw kabupaten Jayapura - Jubi/Engel Wally
Sentani – Sagu, salah satu pangan asli Indonesia, yang tidak hanya dikonsumsi masyarakat Papua tetapi juga di daerah lain seperti Ambon, Sulawesi, dan Lampung.
Penyaji makanan lokal Papua, Charles Toto, mengatakan sagu adalah pangan lokal yang sangat penting bagi masyarakat untuk terus dikonsumsi setiap hari. Menurutnya, sagu akan menjadi pangan lokal yang cukup kuat ketika kita berbicara sagu di taraf nasional karena sangat tidak mungkin kita mau berbicara diluar dengan pangan yang sama sekali tidak ada di daerah kita.
"Ajang festival makan papeda yang diselenggarakan masyarakat kampung Abar mengingatkan kita pada masyarakat lokal untuk tetap mencintai pangan lokal. Juga bagi tua-tua adat agar senantiasa menjaga dan melestarikan sagu ini dengan baik," ujar Cato, sapaan akrabnya, saat ditemui di Sentani, Minggu (1/10/2017).
Cato juga mengatakan dalam aktivitasnya sebagai juru masak pangan lokal yang sering dipresentasikan di luar Papua, sagu adalah menu yang tidak bisa dia tinggalkan dalam segala bentuk presentasi makanan dari bahan lokal.
"Sagu ketika dioleh menjadi apa saja sangat nikmat untuk dicicipi. Baik itu penganan ringan seperti kue atau sagu kering yang dibakar dengan campuran bahan lain seperti pisang dan kelapa. Atau seperti yang sudah biasa disantap, seperti papeda, sangat nikmat karena diolah tanpa bahan-bahan kimia lain yang biasa digunakan dalam makanan. Orang tua kita yang saat ini masih hidup hingga 70-80 tahun hanya karena konsumsi pangan lokal ini. Saya berharap agar ke depan pohon sagu yang masih ada supaya dijaga dan dipelihara dengan baik. Kepada pemerintah jangan gunakan kewenangan pembangunan lalu menebang hutan sagu seenaknya, karena lima sepuluh tahun ke depan bisa jadi kita tidak akan bisa makan papeda lagi kalau pohon sagu ditebang terus," ungkap Cato.
Tokoh muda Sentani, Rudi Mebri, mengatakan kebijakan pembangunan yang dilaksanakan pemerintah hendaknya memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Tidak serta merta, karena kebutuhan pembangunan, lalu apa yang menjadi kebutuhan masyarakat seperti pohon sagu dan hutannya ditebang dan bersihkan.
"Pertanyaannya, siapa yang akan menanam kembali pohon sagu kalau ditebang untuk kepentingan pembangunan. Menurut saya, menebang hutan sagu dengan sengaja untuk kepentingan lain sama saja dengan melanggari hak asasi orang Papua. Karena pohon sagu ini banyak manfaat yang bisa dikelola. Selain isinya bisa dimakan, bahan baku dari pohon tersebut dapat digunakan dalam sandang, pangan, dan papan bagi kebutuhan manusia. Oleh sebab itu, sagu dan hutannya harus benar-benar dilindungi oleh kita semua sebagai masyarakat adat tetapi juga yang mengkonsumsi sagu sebagai pangan kita setiap hari," ujarnya. (*)

About Roy Karoba

Life for Us
Powered by Blogger.