Analisa

Program KB dan Pemusnahan Etnis Bangsa West Papua

Logo Program KB. (IST - SP)
Oleh: Dr. Socratez Sofyan Yoman)*
Sebagian Rakyat dan bangsa West Papua sepertinya tidak menyadari bahwa mereka menerima, mengikuti dan melaksanakan Program Keluarga Berencana (KB). Program ini sebagai siasat kekafiran pemerintahan Firaun moderen Indonesia dan tampil dengan wajah baru dengan istilah mengatur jarak kelahiran anak di West Papua.
Rakyat dan Bangsa West Papua tanpa kritis menerima semua produk program penguasa kafir yang bertentangan dengan Firman Allah, perintah Allah seperti dikutip di bawah ini. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ” Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi…” (Kejadian 1:28).
Perintah Allah ini pernah dilawan oleh penguasa kafir raja Firaun di Mesir. Firaun memakai para bidan untuk membunuh anak laki-laki keturunan Ibrani/Israel di Mesir. Raja Mesir memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya: “Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup” (Keluaran 1:16).
Walaupun ada perintah raja Firaun, kedua bidan ini tidak turuti perintah itu. Mereka takut Tuhan dan tidak mau membunuh manusia. Karena itu kedua bidan itu diberkati oleh Tuhan dalam hidup dan rumah tangga mereka.
Karena para bidan itu tidak patuhi perintah raja Firaun, maka dia perintahkan kepada seluruh rakyat Mesir: “Lemparkanlah segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani ke dalam sungai Nil; tetapi segala anak perempuan dibiarkan hidup” (ay.17-22).
Perintah penguasa dan pemerintahan kafir di Mesir, kita kontekskan Firaun moderen Indonesia terhadap rakyat dan bangsa West Papua. Penguasa moderen Firaun Indonesia dengan gemilang mengkampanyekan Keluarga Kecil dengan dua anak cukup.
Dua anak keluarga yang bahagia. Apakah benar keluarga kecil dengan dua anak selalu berbahagia? Pertanyaan ini silahkan dijawab oleh para pembaca sesuai dengan pengalaman masing-masing.
Beberapa Dokter di West Papua dan Perintah Firaun
Sepertinya Program Keluarga Berencana tidak efektif, maka siasat lain di West Papua adalah para dokter dipakai untuk menggunakan siasat baru, yaitu setiap ibu-ibu dari bangsa West Papua bersalin dengan cara operasi.
Salah satu pengalaman nyata di sebuah Rumah Sakit Umum (RSU) di West Papua, ada tujuh ibu hamil yang sudah waktu melahirkan datang ke Rumah Sakit ini untuk bersalin. Dari tujuh ibu itu dua ibu orang pendatang (Indonesia) dan lima ibu dari West Papua.
Dokter periksa semua ibu-ibu untuk memastikan posisi dan letak bayi dalam kandungan masing-masing. Setelah semua ibu diperiksa dan hasil pemeriksaannya adalah dua ibu dari Indonesia normal dan bisa bersalin dengan jalan biasa dan lima ibu dari West Papua posisi anak tidak normal, maka semua ibu harus melahirkan anak melalui jalan operasi.
Biaya operasi setiap ibu yang harus dibayar kepada dokter adalah Rp 20.000.000; (dua puluh juta). Biaya ini ditanggung pemerintah dari dana Otonomi Khusus. Berarti dokter ini mendapat Rp 100jt rupiah.
Di luar dugaan dokter, ada suami dari salah satu dari lima ibu dari West Papua, dia tidak mau tanda tangan surat kesediaan istrinya melahirkan dengan proses operasi. Laki-laki bilang kepada dokter: “Maaf dok, saya tidak bisa tanda tangan surat ini. Anak saya posisi normal dan isteri saya harus melahirkan anak saya dengan jalan biasa”.
Rupanya dokter ini malu dan sangat marah kepada laki-laki ini. ” Silahkan, isterimu keluarkan anakmu dari mulut. Jangan panggil saya, kalau ada apa-apa dengan istrimu”.
Akhirnya, anak dari suami yang memprotes ini lahir anak laki-laki dengan normal hanya dalam waktu 20 menit. Sementara yang empat ibu dari West Papua itu dioperasi dan menutup alat kandungan dengan alasan berbahaya kalau ibu hamil lagi. Untuk dua ibu dari Indonesia melahirkan dengan keadaan normal.
Saya juga mendengar dari banyak saksi orang West Papua, bahkan ada salah satu teman pemimpin Gereja di West Papua tunjukkan isterinya dioperasi pada saat ibu itu melahirkan. Pak Pendeta ini mengatakan kandungan isterinya dipotong supaya tidak melahirkan lagi.
Penerapan ajaran kafir Firaun moderen Indonesia di West Papua adalah proses pemusnahan etnis sebuah bangsa secara terprogram, sistematis, terstruktur dan terus-menerus. Pemusnahan etnis bagsa West Papua benar-benar di depan mata kita. Cari bukti-bukti dan umumkan. Jangan Anda diam. Ada ancaman serius kelangsungan hidup bangsa West Papua. Selamat membaca.
Para pembaca yang mulia, kalau ada pengalaman yang sama, saya minta share kepada penulis. Kirim lewat email: socratezyoman_90@hotmail.com dan WashApp: +628124888458
)* Penulis adalah Ketua Umum/Presiden Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.

About Roy Karoba

Life for Us
Powered by Blogger.