Berita

Menekuni kerajinan noken hingga bisa membiayai kuliah

Nahom Kotouki memperlihatkan baju tenun hasil karyanya - Jubi/ Yance Wenda.
Sentani - Belajar menenun itu bukan hal yang gampang. Memang terlihat gampang, namun sulit melakukannya. Tapi bagi pemuda asal Kabupaten Deiyai ini menjadi hal yang biasa dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Nahum Kotouki, pemuda asal Deiyai ini belajar menekuni membuat noken sejak masih duduk di bangku SMP. Ia merajut benang menjadi sebuah noken.
"Ini sudah menjadi budaya kami khususnya orang Paniai dan itu sudah menjadi turun- temurun dari orang-orang tua kami dulu, dulu mereka anyam noken anggrek, noken kulit kayu, hingga masuklah benang buatan pabrik," katanya kepada Jubi di Pasar Pahara, Sentani, Jumat (7/7/2017).
Nahum menjelaskan, noken yang dibuatnya tidak hanya satu macam, tapi dari tiga macam bahan. Selain dari benang biasa, juga dari anggrek dan kulit kayu.
"Di zaman orang tua dulu yang pegang noken anggrek atau di zaman orang tua dulu menyulam itu tete-tete dan yang dari kulit kayu itu nene-nene dorang," tuturnya.
Meski sudah belajar membuat noken sejak SMP, namun Nahum baru berani memasarkan kerajinannya setelah duduk di bangku SMA. Hasil penjualan karyanya dapat membantu biaya pendidikannya. Bahkan kemudian membantu biaya kuliahnya.
"Hasil jual noken-noken dan aksesoris lain itu untuk biaya kuliah, dari situ sampai saya selesai kuliah juga dari hasil jual noken-noken ini," ucap pemuda lulusan Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih ini.
Menurut Nahum mengerjakan sebuah noken besar bisa dua-tiga hari, sedangkan yang kecil satu hari. Selain itu jika banyak motif bisa satu-dua minggu. Ia biasa mengerjakan bermacam motif, seperti tifa, cenderawasih, dan bintang fajar. 
Sedangkan jenis produk ada noken, baju langsung, topi, anting, gelang, dan aksesoris lain. Harga Rp200 ribu ke atas dan benang pabrik Rp50 ribu ke atas. Sedangkan untuk yang besar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu dan aksesoris Rp10 ribu hingga Rp30 ribu.
"Sehari pendapatan saya paling tinggi Rp600 ribu hingga Rp700 ribu dan jika sepi Rp300 ribu," kata pemuda 27 tahun yang ingin jadi pengusaha muda terkenal ini.
Dorlllince Kotouki, kakak Nahum mengaku sangat bangga karena adik bungsunya bisa menekuni usaha kerajinan sulam yang ia ajarkan.
"Saya senang karena apa yang saya ajarkan ke dia itu bisa dia lanjutkan, waktu kami datang ke Jayapura ini awalnya saya ajak dia untuk berjualan sayur kangkung," katanya. (*)

About Roy Karoba

Life for Us
Powered by Blogger.