Berita

Kijne dan Fondasi Pendidikan Papua

I.S.Kijne yang terpasang di ruang perpustakaan
STT GKI I.S. Kijne Jayapura – Jubi/I Ngurah Suryawan 
Oleh I Ngurah Suryawan
Pendidikan berbasiskan nilai-nilai kekristenan tumbuh mengawali interkoneksi di antara sesama orang Papua dan dunia. Pengaruh zending dan misi yang menyebarkan agama sekaligus pendidikan dipraktikkan salah satunya oleh Izaak Samuel (I.S.) Kijne yang meletakkan fondasi pendidikan kekristenan bagi orang-orang Papua. Pengabdiannya mendidik orang Papua melalui  sekolah asrama guru di Mansinam, Manokwari dan dilanjutkan ke Miei, Teluk Wondama dalam rentang waktu 1923-1953 merupakan inspirasi bagi dunia pendidikan di tanah Papua untuk mensinergikan nilai-nilai kekristenan dengan budaya Papua. 
Izaak Samuel Kijne menggali pendidikan lokal yang berbasis adat dan budaya Papua untuk diadopsinya menjadi bahan pengajaran membaca melalui tiga seri Itu Dia, Djalan Pengadjaran di Nieuw Guinea. Kijne juga menangkap kegemaran orang Papua bernyanyi dengan merekamnya melalui nyanyian-nyanyian dalam Seruling Mas Njajian Pemuda Pemudi dan Perkataanja. Kijne dengan demikian adalah seorang yang multitalenta yang mampu menggali nilai-nilai pengetahuan dan pendidikan lokal Papua yang dipadukan dengan nilai-nilai kekristenan.   
Hampir sebagian orang Papua yang saya temui mengenal dengan baik sebuah pernyataan yang menjadi doa dan roh “kebangkitan” rakyat Papua yang diciptakan oleh I.S. Kijne. Perkataan/nubuatnya yang terkenal dan dikenang oleh orang Papua, diucapkan di Miei, Wasior, 26 Oktober 1925. Ia mengatakan: 
“Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua, sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.” 
Kalimat inilah yang mulai berkembang dalam pemikiran orang Papua dan menjadi penyemangat untuk “memimpin dirinya sendiri” tanpa tekanan dari siapapun. Kutipan dari perkataan I.S. Kijne berimplikasi penting dalam tumbuhnya gerakan-gerakan sosial keagamaan di Tanah Papua. Perkataan ini dianggap juga sebagai suatu perkataan yang membangkitkan spirit pembebasan orang Papua dari penjajahan yang mereka rasakan selama ini. 
Berlandaskan iman Kristiani, nubuatan (doa) tersebut menjadi inspirasi gerakan-gerakan “pembebasan” orang Papua dan penjajahan yang masih mereka rasakan. Adaptasi tersebut terwujud secara kontekstual dengan mengaitkan nubuatan tersebut dengan ekspresi perlawanan orang-orang Papua terhadap peninadasan, kekerasan, dan ketidakadilan sosial yang selama ini mereka alami. Harapan tentang munculnya zaman bahagia, “pembebasan” bagi kehidupan mereka untuk bebas dari keterkungkungan dan penderitaan menjadi harapan yang tak akan pernah tajam.   
Sejarah gerakan pembebasan yang berlandaskan semangat messianistic memiliki sejarah panjang di Tanah Papua. Sebelum resmi bergabung dengan Indonesia, orang Papua memiliki gerakan untuk menentukan nasib sendiri dan semuanya itu terjadi pada zaman pendudukan Jepang tahun 1942-1946. Pada masa-masa inilah persinggungan antara agama-agama modern yang dibawa oleh zending dan misi bertemu dengan ideologi dan gerakan agama lokal yang masih tumbuh dan berkembang. Benturan inilah yang berimplikasi serius terhadap keberlangsungan pengetahuan dan agama-agama lokal (teologi-teologi pribumi) yang diberangus dalam kehidupan orang-orang Papua. 
I.S.Kijne melihat fenomena ini dan kemudian mencoba melihat pengetahuan-pengetahuan lokal dan karakter dari orang Papua sendiri. Ia berbekal pengetahuan dan “panggilan” sebagai seorang pendidik dan belajar untuk memahami apa yang menjadi isi hati dari orang Papua tersebut. Kijne adalah seorang penginjil zending yang berasal dari Belanda, datang dan diutus untuk mengajar dan mendidik orang Papua dahulu melalui sekolah-sekolah peradaban yang dibangun zending pada saat itu. Kijne memadukan sekaligus pendekatan agama, bahasa, dan budaya 
Kijne juga membuat buku yang sangat berguna bagi murid di sekolahnya dan memulai teknik mengajar secara global. Ia mengajar murid yang baru menggunakan buku dengan judul “Itu Dia”. Cara kerjanya dengan memulai memecahkan kalimat dan menggabungkan kalimat yang ada. Untuk berhitung, ia menggunakan “metode angka” berbaris. Dengan cara tersebut, anak-anak pada saat itu dapat memahami dengan benar pelajaran yang ada. 
Kijne dengan kemampuannya mengarang Mazmur dan Nyanyian Rohani yang dipakai sebagai nyanyian untuk beribadah bagi orang dewasa, Suara Gembira untuk anak sekolah minggu dan Seruling Emas yang dibuat untuk mengajarkan agar orang Papua mencintai tanahnya. Ia juga menyusun satu buku nyanyian yaitu Mazmur Maranu untuk orang di Wondama. Dengan kata lain, Kijne bermaksud secara khusus untuk mendidik orang Papua dalam bidang pendidikan yang akan membuat suatu peradaban baru (Hutabessy, 2013: 41-42).
Konteks kontemprer kini selayaknya kembali melihat fondasi pendidikan yang diletakkan oleh Kijne dengan pembaharuan dalam berbagai aspek. Pendekatan agama, sastra, dan budaya sangat penad (tepat) sebagai landasan awal untuk mentransmisikan nilai-nilai pendidikan karakter dan pengetahuan lokal (berkonteks Papua). Esensi ini penting sekali untuk dipikirkan dengan serius untuk merancang orientasi pendidikan Papua yang sesuai dengan jati diri dan identitas orang Papua itu sendiri. Dengan demikian, anak-anak Papua tidak akan tercerabut dari akar budaya dan identitasnya. Orang-orang Papua juga akan tersadarkan secara kritis untuk “bangkit dan memimpin dirinya sendiri”. (*)
Penulis adalah Dosen Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

About Roy Karoba

Powered by Blogger.