Berita

Penerapan Bahasa Ibu di Dunia Pendidikan Masih Dikaji

Kepala Balai Bahasa Papua, Toha Machsum
saat memberikan sambutan pada seminar sehari
dengan tema Merawat Kebinekaan Melalui Sastra – Jubi/Roy Ratumakin.
Jayapura – Pencanangan penggunaan bahasa daerah Sentani (bahasa ibu-red) oleh pihak Distrik Sentani Timur yang digagas Kepala Distrik Sentani Timur, Steven Ohee, beberapa waktu lalu, bekerjasama dengan Balai Bahasa Papua dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hingga saat ini berjalan baik.
Namun untuk penerapan penggunaan bahasa Sentani di sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Jayapura, belum sepenuhnya berjalan baik, karena masih dilakukan pengkajian baik dari pihak Balai Bahasa Papua maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua maupun kabupaten.
"Revitalisasi bahasa Sentani berbasis komunikasi yang pernah kami lakukan akan kita tindak lanjuti dalam bentuk lomba-lomba pidato dengan menggunakan bahasa Sentani. Namun untuk diterapkan di sekolah-sekolah memang masih perlu dikaji lebih mendalam," kata Kepala Balai Bahasa Papua, Toha Machsum kepada Jubi, Kamis (27/4/2017) di sela-sela seminar sehari dengan tema Merawat Kebinekaan Melalui Sastra yang berlangsung di Aula Balai Bahasa Papua.
“Kita akan dorong agar bukan hanya bahasa Sentani saja, tetapi bahasa-bahasa daerah yang ada di Papua bisa diaplikasikan dalam kegiatan ekstra kulikuler atau dimasukan dalam kurikulum setiap sekolah di setiap daerah yang ada di Papua,” ujarnya.
Lanjutnya, paling tepat sasaran adalah melakukan berbagai perlombaan seperti debat, pidato menulis puisi maupun cerpen menggunakan bahasa daerah itu lebih memberikan nilai plus bagi masyarakat.
“Ini juga sebagai perwujudan bahwa saat ini kita berada di tempat yang menghargai nilai-nilai luhur yang menjadi jati diri kita sebagai masyarakat lokal,” katanya.
Belum lama ini, Kepala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar, Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura Herald Berhitu mengatakan akan mendorong penggunaan bahasa ibu di setiap sekolah, khususnya di Sekolah Dasar.
“Penggunaan bahasa lokal saat ini lambat laun mulai hilang di tengah generasi kita yang lahir di zaman modern, karena itu sangat penting mengembalikannya melalui kegiatan seperti ini, kami di dinas tentu akan mendorong melalui kurikulum yang diterapkan di sekolah,” katanya. (*)

About Roy Karoba

Powered by Blogger.