Alam

KMK USTJ Serukan Wajib Selamatkan Bumi Papua

Jayapura — Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) menyerukan, semua pihak wajib selamatkan bumi Papua dari ancaman kehancuran karena berdampak langsung terhadap kehidupan manusia saat ini dan masa depan Papua.
Seruan itu mengemuka pada seminar sehari yang digelar KMK-USTJ, Sabtu (22/4/2017) di ruang H-3 Fakultas Kesehatan USJT, Abepura, Jayapura.
Seminar sehari bertema “Mari Selamatkan Bumi Papua”, menurut Thomas Fransiskus Saa, ketua panitia kegiatan, diadakan dalam rangka Hari Bumi Internasional yang biasa diperingati tiap tanggal 22 April.
Thomas saat diwawancarai suarapapua.com, menjelaskan, pada dasarnya seminar ini bagian dari kegiatan ilmiah yang diharapkan agar mahasiswa-mahasiswi mendapat banyak pengetahuan tentang bumi dan segala isinya.
“Kami memperingati hari bumi sekaligus saling berdiskusi tentang bagaimana pentingnya menjaga bumi agar setiap manusia tidak hanya tinggal, namun harus memiliki rasa kepedulian yang tinggi guna menjaga bumi dari ancaman manusia tidak bertanggungjawab,” tuturnya.
Untuk itu, kepada teman-teman yang mengikuti acara tersebut maupun tidak sempat hadir, ia mengajak agar sama-sama menjaga alam Papua yang saat ini menjadi paru-paru bagi dunia dan terlebih khusus demi generasi Papua yang akan melanjutkan kehidupan di Tanah Papua.
Alexander Gobai, penanggungjawab kegiatan ini, menyatakan sangat peduli dengan isu kerusakan bumi dan ekosistem di Tanah Papua.
Kata Alex, hari bumi yang setiap tahun diperingati di seluruh dunia tepat pada tanggal 22 April ini adalah momentum tepat untuk saling mengingatkan sekaligus menjaga tanah kita dan segala isinya.
Keberadaan Papua dengan segala ekosistem, tegas dia, wajib diselamatkan oleh semua pihak dari ancaman kerusakan dan kehancuran. “Anak Papua wajib menjaga hutannya masing-masing. Kita wajib rawat dan selamatkan,” ujar ketua KMK USTJ ini.
Agenda setelah ini, jelas Gobai, pihaknya pada pekan depan akan melakukan kegiatan penanaman kembali bibit pohon di sejumlah lokasi.
“Kegiatannya nanti kami pusatkan di Koya, kota Jayapura. Sementara kami masih koordinasi dengan pihak terkait guna mendapat informasi tempat yang tepat,” imbuhnya.
Ia juga mengaku prihatin dengan banyaknya kasus pengrusakan hutan sebagai pusat udara segar. “Fakta dimana-mana banyak pohon ditebang habis. Hutan dibakar. Ini sangat disayangkan. Dampaknya sangat besar terhadap kehidupan kita terutama generasi berikut,” tandas Gobai.
Seminar dibuka oleh Nelius Wenda, Presiden Mahasiswa USTJ. Hadir beberapa narasumber dari instansi pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat seperti WWF Indonesia Papua Program, Andhiani M. Kumalasari, Y. Maitindom dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Ayub Woisiri, kepala seksi Rencana Pembangunan Kehutanan pada Dinas Kehutanan Provinsi Papua yang juga dosen Fakultas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Universitas Ottow Geissler Jayapura.
Pewarta: Harun Rumbarar

About Roy Karoba

Powered by Blogger.