Berita

Korban Penembakan Polisi di Manokwari Tak Bisa Bicara, Kini Dirawat di Jakarta

Orang tua korban penikaman saat berada di Rumah Sakit Manokwari. Inz. Erikson Inggabouw sedang dalam perawatan di salah satu rumah sakit di Jakarta - Dok. Jubi
Jayapura - Erikson Inggabouw, salah seorang korban penembakan aparat kepolisian di Insiden Manokwari 26 Oktober 2016, kini dirawat di Jakarta dalam kondisi tidak bisa berbicara akibat peluru tajam di leher yang tembus hingga ke dagu dan mematahkan dua gigi.

Saat ini Erikson sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Jakarta menurut tim Papua Itu Kita, komunitas solidaritas kemanusiaan untuk Papua, kepada Jubi Selasa (1/11/2016).

“Erikson tidak mampu bicara dan hanya berkomunikasi dengan kami lewat tulisan. Erikson tidak bisa makan, untuk menelan air liur saja kesulitan. Hasil CT-scan menunjukkan ada serpihan-serpihan di area leher Erikson,” demikian laporan dari Veronika Koman, tim advokasi Papua Itu Kita yang ikut mendampingi korban selama di Jakarta.

Tim Papua Itu Kita mengunjungi korban Senin (31/10/2016) yang terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta hasil rujukan dokter di Manokwari. Korban ditemani oleh beberapa orang keluarganya.

Menurut keterangan tertulis langsung dari Erikson, (1/11/2016), pada tanggal 26 Oktober 2016 sekitar jam 19.30 WIT, Erikson bersama dengan teman-temannya sedang berada di kompleks perumahannya di Sanggeng. Tiba-tiba ia mendengar suara huru-hara. Mereka beramai-ramai mendekati sumber keramaian itu dan menonton tawuran antara masyarakat dengan kepolisian dari depan Pasar Sanggeng.

Sekitar jam 21.00 WIT ketika sudah mati lampu dan gelap gulita, tiba-tiba Erikson merasakan darah mengalir di leher. Menyadari hal tersebut, Erikson kemudian segera lari menyelamatkan diri ke rumah salah seorang pendeta yang lalu membawanya ke RSUD Manokwari.

Hari berselang, Erikson dirujuk ke rumah sakit di Jakarta. Dokter berkesimpulan kemungkinan besar Erikson terkena peluru tajam di leher yang tembus hingga ke dagu dan mematahkan dua gigi. Hasil CT-scan juga menunjukkan ada serpihan-serpihan di area leher Erikson.

Pihak keluarga korban juga menceritakan situasi pada 27 Oktober pagi kepada Tim Papua Itu Kita.

“Ternyata pagi hari itu kepolisian melakukan sweeping dan mengangkut sekitar 7 orang. Mereka dihajar oleh kepolisian di dalam truk polisi. Ketika tiba di rumah sakit dimana saksi berada, saksi melihat bagaimana polisi melempar para korban sweeping ke rumah sakit seperti “melempar karung atau binatang” begitu saja,” ujar pihak keluarga.

Berdasarkan keterangan Erikson dan pihak keluarga, pihak Papua Itu Kita menyimpulkan polisi menembakkan peluru tajam, bukan peluru karet; polisi melakukan penembakan secara sporadis; polisi tidak menembak ke arah kaki seperti yang disampaikan ke media; Erikson adalah korban peluru nyasar akibat tembakan sporadik kepolisian.

Saat ini, Erikson sedang akan menjalani pengobatan dan operasi bedah plastik. “Sayangnya sejauh ini seluruh biaya pemindahan ke Jakarta dan perawatan masih ditanggung oleh pihak keluarga. Kami menganggap seharusnya seluruh biaya pengobatan harus ditanggung oleh negara,” ujar Veronika Koman.

Sebelumnya seperti dilansir Mediapapua.com (31/10) Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Drs. Royke Lumowa, MM menyatakan diri siap diperiksa atas terkait insiden Sanggeng, Manokwari. Dirinya juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan menyatakan tidak ada pihak manapun yang menginginkan adanya korban jiwa pada insiden Sanggeng.

 “Saya adalah orang yang paling bertanggungjawab atas insiden ini. Apa pun yang terjadi, saya siap diperiksa,” demikian ujarnya seperti dikutip media tersebut. (*)

About Roy Karoba

Powered by Blogger.