Berita

Dewan Gereja-gereja Pasifik: Rakyat Papua Berhak Merdeka

Sekretaris Jenderal PCC, Pendeta Francois Pihaatae bersama
 beberapa perempuan aktivis dari Papua - Jubi/Victor Mambor
Jayapura – Kelompok gereja-gereja di wilayah Pasifik menuntut keadilan atas berbagai isu HAM rakyat yang telah lama diabaikan di kawasan itu. Isu West Papua, perubahan iklim dan dampak ujicoba nuklir serta militerirasi Pasifik adalah isu-isu yang ditekankan dalam konferensi gereja-gereja Pasifik yang baru berlangsung beberapa waktu lalu di Auckland, Selandia Baru.
Sekretaris Jenderal  Konferensi Gereja-gereja Pasifik, Francois Pihaatae, menekankan terkait semakin bertambahnya kelompok-kelompok gereja yang bersatu menekan para pemimpin politik untuk angkat baicara terkait West Papua.
“Untuk pertama kalinya sejak badan ini didirikan 20 tahun lalu, Dewan Gereja-gereja Papua Nugini bergabung untuk mendukung kampanye dekolonisasi West Papua,” ujarnya.
Pihaatae juga mengatakan anggota-anggota dewan ingin pemerintah Indonesia mengakhiri apa yang disebutnya sebagai genosida terhadap rakyat Papua.
“Kami serukan agar Indonesia hentikan pembunuhan orang-orang Papua. Itulah prioritas kami paling pertama kepada militer Indonesia atau polisi, atau apapun cara lain yang digunakan (negara) untuk membunuh rakyat di sana. Dan hal kedua yaitu mengangkat isu West Papua ke daftar dekolonisasi,” kata dia. “Agar mereka bisa menikmati kebebasan seperti orang-orang Pasifik Selatan lainnya yang merdeka, bebas,” lanjutnya lagi.
Sementara aktivis HAM dari Selandia Baru, Maire Leadbeater senada dengan itu menekankan peran gereja-gereja dalam perjuangan penentuan nasib sendiri West Papua.
“Saya pikir hanya satu hal yang memungkinkan tujuh negara Pasifik bersuara keras di Sidang Umum PBB lalu, yaitu akibat tekanan akar rumput. Dan sebagian besar orang-orang akar rumput di Pasifik berasal dari gereja-gereja,” ujar Leadbeater.
Pihaatae, yang berasal dari Maohi Nui, French Polynesia, ini menegaskan bahwa dewan-dewan gereja memastikan West Papua tidak sendiri.
“Sekarang kami sudah punya dua anggota gereja di West Papua dan kami akan menyambut dua lagi tahun depan. Artinya melalui serangkaian kerja ini, kami sedang membawa rakyat West Papua kembali ke rumahnya.(*)

About Karoba News

Powered by Blogger.