Aktivis

Berita Meninggalnya Willy Esau Mandowen Tidak Diketahui Banyak Orang Papua

Berita meninggalnya Dr. Willy Esau Mandowen baru saja diketahui setelah sebuah situs perjuangan PapuaMerdeka papuapost.com menyiarkan belasungkawa.
Berita duka ini menyebutkan
“Pada tanggal 30 Oktober 2016, tepat pukul 09.10 WEST PAPUA Time di Rumah Sakit Dian Harapan Waena, dengan tenang telah berpulang ke Pangkuan Allah Pencipta Langit dan Bumi PAPUA, pencipta Alm. Willy Esau Mandowen.”
Tentu saja banyak generasi muda Papua tidak mengenal secara jelas siapa Willy Esau Mandowen, yang ada dosen Bahasa Inggris FKIP Universitas Cenderawasih, yang sudah mengorbitkan banyak mahasiswa Papua yang dengan keras berkampanye untuk Papua Merdeka, antara lain: Sem Karoba (Alm)., Paula Makabory, dan lain-lain yang tidak perlu disebutkan karena mereka ada di Tanah Papua.
Tragisnya, kisah berpulangnya para pejuang Papua Merdeka, yang dialami oleh Willy Mandowen ini menarik perhatian, karena jasa-jasanya kepada bangsa Papua begitu besar, tetapi meninggalnya beliau tidak diketahui publik. Bahkan berita duka di papuapost.com tadi juga disiarkan sangat terlambat.
Nasib sama juga dialami oleh Sem T. Karoba dan Demianus T. Wanimbo, ketika itu ditembak di Puncak Jaya pada saat terjadi kerusuhan pendukung dua calon yang mencalonkan diri menjadi Bupati Puncak waktu itu.
Kematian Demianus Tary Wanimbo memang disiarkan papuapost.com beberapa bulan kemudian, tetapi kematian Sem T. Karoba, sama sekali tidak disiarkan.
Black Brothers punya satu lagu berjudul “Pusara Tak Bernama”, untuk mereka yang meninggal tanpa dikenal pusara mereka di mana. Tidak hanya tidak dikenal pusara mereka, kita tidak tahu kapan mereka dibunuh dan meninggal, atau kapan mereka sakit dan meninggal. Ini menjadi kisah-kisah yang patut diperhatikan oleh kita semua.
Banyak pejuang kemerdekaan Indonesia juga tidak didokumentasikan dengan baik. Banyak keluarga kehilangan keluarga mereka, tetapi tidak pernah diakui oleh Negara Indonesia. Demikian juga dengan apa yang terjadi di Tanah Papua. Kami tidak tahu apakah hal serupa juga dialami oleh bangsa lain di dunia lain?
Sumber : www.kisah.us

About PAPUAtimes

Powered by Blogger.