Aksi

Rakyat Papua Mencari Keadilan Untuk Rojit di Pinggir Jalan

Aksi demonstrasi menentang proses pengadilan kasus pembunuhan
 Almarhum Robert Jitmau yang tidak transparan - Dok. Jubi
Jayapura  -  Solidritas Rakyat Papua mencari keadilan bagi Robert Jitmau dari kantor Kejaksan, Pengadilan Negeri  hingga ke pinggir jalan raya. Namun tidak ada keadilan bagi Robert Jitmau (Rojit) dan juga bagi rakyat Papua di Pengadilan Negeri hingga di jalan-jalan.
“Kami meminta keadilan tetapi tidak mendapatkan jadi kita mencari keadilan di pinggir jalan ini saja,”kata kordinator aksi, Daniel Mahuze dalam arahannya ke Mama-mama Pedagang asli Papua di pintu pagar Pengadilan Negeri Kota Jayapura, Kamis (6/10/2016).
Massa Solidaritas  yang terdiri Perhimpunan Mahasiswa Katolik, Gerakan Mahasiswa Kristen Republik Indonesia, keluarga mendiang Rojit, aktivis dan  mama-mama pedang asli Papua itu berdiri di pinggir jalan Raya Abe Sentani. Tepatnya di depan Kantor Pengadilan Negeri Jayapura tempat putusan Rojit digelar.
Tampak massa memegang sejumlah spanduk foto almarhum Rojit yang bertuliskan aspirasi keadilan. Foto-foto mendiang Rojit yang tampak luka dan berdarah-darah ikut pula dipamerkan. Tak ketinggalan pula warga yang melintas menyaksikannya ikut menyaksikan dengan mata telanjang di spanduk berukuran raksasa itu.
“Berikan keadilan untuk Robert Jitmau,” begitulah tulisan yang terpampang dalam spanduk hitam bertuliskan tinta putih dari Solidaritas Rakyat Papua.
Aksi Solidaritas di pinggir jalan ini, adalah satu ungkapan kekecewaan terhadap penegak hukum. Massa solidaritas kecewa terhadap Kejaksan Negeri Jayapura  dan Pengadilan Negeri yang dinilai tidak mendengar tuntutan dari aspirasi solidaritas.
Aspirasi warga yang tergabung dalam Solidaritas Rakyat Papua merasa kecewa karena sudah menyampaikan permohonan pembatalan sidang pembacaan tuntutan pada 5 Oktober 2016 ke Kejaksaan negeri pada 3 Oktober 2016. Namun sayangnya tuntutan itu tidak digubris oleh pihak kejaksaan.
Bahkan Pengadilan Negeri Klas IA Jayapura tetap ngotot menggelar sidang pembacaan tuntutan pada 5 Oktober dengan menghadirkan terdakwa.
Sementara sidang berlangsung, massa aksi solidaritas Ribut di ruang sidang. Massa memohon menghentikan sidang dengan tuntutan membatalkan sidang pembacaan tuntutan dan memohon mengembangkan kasus lebih lanjut.
“Rojit bukan mati biasa tetapi dibunuh demi kepentingan Jakarta, Papua dan Papua Barat,” kata Samuel Jitmau, ayah Rojit di depan pengadilan menjelang sidang Rabu (5/10/2016)
Karena itu, sang ayah bersama solidaritas memohon pihak pengadilan membatalkan sidang pembacaan tuntutan. Pembatalan sidang demi pengembangan kasus lebih lanjut.
“Hadirkan saksi-saksi yang disebutkan saksi sebelumnya, hadirkan ahli transpotasi dan dokter yang memeriksa Rojit,” ungkap Phlipus Robaha aktivis Solidaritas Nasional Mahasiswa Papua (SONAPA) di depan ruang Sidang pada 5 Oktober 2016.
Ruang sidang pengadilan menjadi riuh, ribut dan tidak bisa knosentrasi sidang. Karena itu, jaksa menghentikan sidang sementara. Sidang tidak bisa dilanjutkan lagi karena massa solidaritas tidak mau meninggalkan pengadilan.
“Sidang tuntutan terhadap terdakwa kita tunda Kamis 6 Oktober 2016,”ungkap Hakim ketua Syarifudin  SH dalam sidang di Pengadilan Negeri Kelas IA  Jayapura, Rabu (5/10/2016).
Sidang lanjutan penundaan yang digelar Kamis (6/10/2016) sangat mengecewakan solidaritas dan keluarga. Jaksa mengelar sidang pembacaan tuntutan tanpa menghadirkan keluarga korban.
“Informasi yang kita dapat sidang yang ke 10. Kita datang sidang sudah digelar jam 8 pagi. Saya sebagai korban kecewa,”ungkap Melianus Duwitau, salah satu korban tabrak bersamaan dengan mendiang Rojit.
Simon Pattiradjawane, SH pengcara korban dari Lembaga Bantuan Hukum9LBH)  Papua mengatakan jaksa tidak transparan. Jaksa mestinya memberitahu keluarga korban soal agenda pembacaaan tuntutan tetapi ini tidak terlaksana.
“Ini catatan buat jaksa ke depan supaya transparan saja.Jaksa harus menjelaskan ke keluarga dengan baik,”ujarnya di depan Pengadilan Negeri Klas IA Kota Jayapura.
Ayah kandung Rojit, Samuel Jitmau menilai jaksa terkesan terburu-buru dalam memproses sidang kematian putra kandungnya.
“Jaksa macam lari. Macam ada apa begitu..kalau begini, kemana lagi kami mencari keadilan. Sudah tidak ada keadilan bagi Robert dan orang Papua di Negera ini,”ungkapnya serius.(*)

Sumber : www.tabloidjubi.com

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.