Aksi

Didesak Solidaritas Rakyat Papua, Sidang Tuntutan Kasus Kematian Rojit Ditunda

Ratusan massa yang tergabung dalam Solidaritas Rakyat Papua
 untuk pengungkapan kematian Rojit menuntut jaksa menghadirkan
saksi-saksi kunci dan saksi ahli. – Jubi/Yuliana Lantipo
Jayapura – Sidang kasus kematian koordinator pedagang asli Papua, Robert Jitmau atau dikenal sebagai Rojit, dengan agenda tuntutan yang sedianya dilakukan pada Selasa (5/10/2016) terpaksa ditunda sehari atas desakan ratusan massa yang tergabung dalam Solidaritas Rakyat Papua untuk pengungkapan kematian Rojit.
“Sidang tuntutan terhadap terdakwa kita tunda besok (Rabu),” kata Hakim Ketua Syafruddin, SH dalam sidang di Pengadilan Negeri Jayapura, Selasa.  Penundaan dilakukan setelah sempat sela selama hampir 40 menit, atas desakan keluarga dan sahabat Rojit dalam sidang yang baru berjalan kurang dari 10 menit.
Sebelumnya, massa telah berkumpul di halaman kantor pengadilan sekitar pukul 12.00 waktu Papua. Beberapa spanduk dijejer di sekitar pintu masuk. Salah satunya yang memuat gambar almarhum Rojit dengan bekas luka berisi tulisan “kematian Rojit bukan kecelakaan lalu lintas melainkan pembunuhan.”
Massa bergantin melalukan orasi, menuntut pengadilan negeri menangguhkan sidang tuntutan yang dijadualkan hari itu. Dan, meminta menghadirkan saksi-saksi kunci serta saksi ahli: dokter dan ahli lakalantas pada sidang berikutnya.
“Permintaan kami sederhana, tangguhkan sidang, hadirkan saksi-saksi kuncinya..tiga orang itu. Itu yang penting bagi kami,” tegas Jimmy Iji, sepupu Rojit, saat berorasi.
Kembangkan kasus
Hal senada disampaikan ayah Rojit, Semuel Jitmau. Menurutnya, keterangan saksi—selain tiga saksi kunci yang belum dihadirkan—berbeda-beda dalam penjelasannya.
Menurut Semuel, dua dari tiga orang saksi kunci tersebut: Krisfus Kambuaya dan Yusuf Sraun, telah dihadirkan dalam persidangan sebelumnya. Sementara seorang saksi lainnya, Aprilius Jitmau, yang saat itu bersama-sama Rojit sebelum kematiannya, tidak dihadirkan hingga sidang kelima atau sidang pembacaan tuntutan, yang telah ditunda tersebut.
“Karena yang mereka (saksi) bicara sama orangtua lain, trus di tempat kejadian lain, dan di dalam sidang juga lain. Keterangannya beda-beda. Ini yang kami pertanyakan. Jadi, kami mohon pengadilan bisa melihat ini secara baik, kembangkan dari keterangan itu, dan ungkap kasus ini. Sekarang kami lihat pengadilan seakan-akan tidak menghadirkan saksi kunci dan saksi ahli dari forensik dan ahli lain,” kata Semuel kepada Jubi.
Semuel mengatakan, ia bersama seluruh keluarganya akan tetap ada bersama-sama sahabat Rojit dan seluruh mama-mama pedagang Papua yang senantiasa memperjuangkan penegakan keadilan di atas tanah Papua.
“Kami akan di sini. Kami tidak tuntut banyak, kami hanya tuntut keadilan di tanah ini, keadilan bagi anak kami,” tegasnya.
Salah satu sahabat Rojit, Cyntia, mengatakan pihaknya berharap agar penyebab kematian Rojit dikembangkan dengan menghadirkan saksi kunci dan saksi ahli.
“Perlu pembanding. Karena (keterangan) saksi sebelumnya mengarah ke lakalantas. Mestinya dokter yang bisa putuskan apakah ini (kematian) karena lakalantas atau pembunuhan dengan melihat lukanya,” katanya.
Sekitar pukul 14.55, massa mulai membubarkan diri dengan tertib setelah majelis hakim dan jaksa meninggalkan ruang sidang. Mereka meminta penundaan tersebut digunakan untuk pengembangan kasus dan menghadirkan saksi-saksi kunci dalam sidang berikutnya.
“Kami minta saksi kunci dihadirkan, bukan cuma tunda. Tunda dan kembangkan kasus, hadirkan saksi-saksi kunci,” lagi pinta ayah Rojit. (*)

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.