Alam

Buah Pandan, Kelapa Hutan Khas Papua Sumber Ekonomi Rakyat

Buah pandan yang dikenal sebagai Kelapa Hutan - Dok. Jubi
Sentani – Ada buah kelapa hutan yang sangat terkenal di daerah pegunungan Papua yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan “buah Panda”. Sedangkan dalam bahasa suku Dani dan Suku Lani disebut “Tuke dan Woromo”.
Meski buah ini belum dibisniskan dalam skala besar, namun tak jarang masyarakat menjadikannya sumber ekonomi dengan menjualnya kepada orang yang membutuhkan. Penyebab tidak dijual skala besar karena buah ini musimnya terbatas.
“Dalam setahun hanya sekali berbuah, biasanya pada pertengahan tahun antara Juni dan Juli, pas lagi musim hujan,” kata Frengky Wenda saat ditemui Jubi di Sentani, Senin (17/10/2016).

Frengky Wenda,  22 tahun, adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasih asal Lanny Jaya. Ia mengatakan, proses tumbuh dan menghasilkan buah kelapa hutan butuh bertahun-tahun. 
“Kalau kita tanam tunasnya yang baru keluar, itu membutuhkan waktu panen satu hingga dua setengah tahun, kalau kita potong satu cabang baru itu membutuhkan sekira 6 atau 8 bulan untuk menunggu siap panen,” katanya.

Menurut Frengky, sebatang pohon kelapa hutan hanya menghasilkan paling banyak 15 buah. Tak jarang ada yang tiga atau empat buah. 
Untuk mengetahui buah ini sudah matang dan siap panen tidak bisa dilihat dari luar. Seseorang harus memanjat pohon dan membungkus buahnya.

“Kalau sudah tua biasanya berjatuhan dari pohon, kalau sudah jatuh akan menjadi makanan kus kus hutan, jadi biasa dibungkus dengan daun, kalau sudah tua tidak jatuh,” ujarnya.
Ada bermacam kelapa hutan, di antaranya nggawen, lim, dan woromo. Nggawen kulitnya lembek dan isinya berair. Woromo kulitnya keras dan orang lebih suka. Sedangkan Lim tidak sembarang tumbuhnya, hanya di daerah-daerah tertentu saja.
Fenny A. Wanimbo, 23 tahun, mahasiswa Stiper Aquinas Santo Thomas asal Kabupaten Lanny Jaya mengatakan, buah kelapa hutan yang biasa disebut woromo elak paling enak kalau dimakan. Rasanya hampir sama dengan kuning telur ayam. (*)

About PAPUAtimes

Powered by Blogger.