Berita

Lawan Tidak Pernah Jadi Kawan, Kecuali Pura-Pura

Topeng untuk sembunyikan wajah asli. (IST - SP)
Oleh: Mbagimendoga Uligi
Bicang-bincang dengan kawan dalam perjalanan ke Pelabuhan Jayapurah. Eh bukan Jayapura. Jayapura itu nama yang diberikan pendudukan Indonesia. Nama aslinya Holandia. Eh salah juga. Hollandia itu nama pemberian pemerintah Belanda.
Nama yang sebenarnya itu, orang Kayu Pulo bilang, Bau O Wai. Nama itu teggelam dalam penuturan warga Kayu Pulo dan sekitarnya akibat bahasa kolonial. Kolonial berhasil menghilangkan kata, nama, makna dan nilai kehidupan suku-suku asli yang terkandung di dalamnya.
“Itu to kawan, itu menjadi bukti kalau mereka yang datang itu jahat. Mereka mulai menghilangkan eksistensi kita mulai dari menghilangkan nama. Bisa jadi itu proses awal penghilangan manusia Papua,”.
Ingat lagi satu ungkapan Ibrahim Peyon, dosen Antropologi Uncen, sambil mengutip salah satu Antropolog ternama Eropa, begini. “Kalau mau menghancurkan suatu bangsa, hancurkan budayanya lebih dahulu,” ungkapnya dalam satu diskusi di Aula P3W Padang Bulang Abepura pada 2012 silam.
Kawan, ingat, penghilangan penuturan Bau O Wai itu, juga penghilangan nama-nama tempat: gunung Kumul menjadi Puncak Trikora dan pergantian nama tempat lain di Papua. Itu adalah suatu upaya menghilangkan budaya. Penghilangan itu otomatis menghilangan eksistensi budaya masyarakat asli sekaligus penanaman nilai budaya baru.
Kalau sudah begitu, orang yang datang itu, siapa pun dia, kehidupan bersama selanjutnya, musuh tidak akan pernah menjadi kawan dengan alasan apapun. Dia baik-baik dengan kita hanyalah satu kepura-puraan belaka demi kepentingannya menghancurkan. Kebaikan dia, senyuman dia hanyala kebaikan semu.
Kawan, ko bisa lihat contoh, petugas bank, hotel, tokoh dan pembisnis lainnya, meleparkan senyum itu pura-pura saja. Dia berlaku begitu demi menarik perhatian supaya jualanya laris atau karena konsumen memberikan menambahkan kekayaannya.
Ko juga harus tahu, bahwa dia baik supaya kita juga baik dengan dia. Tetapi kebaikan itu membuat dia leluasa bergerak atas nama baku baik atau dong bilang sopan santun: pembawaan munafik. Atas nama sopan satun, orang kasih balik sendok, misalnya dalam budya Indonesia, usai makan, sementara masih lapar. Budaya munafik diajarkan.
Prinsip pura-pura baik atau munafik itu menjadi prinsip semua orang asing yang datang ke Papua. Lama-lama orang Papua menjadi munafik kelas kakap dalam dominasi budaya yang datang: nasional. Budaya nasional itu melalui tranmigrasi nasional, migrasi gelap, petugas abdi negara, pekerja swasta dan pemilik modal dan aparat keamanan.
Ko lihat saja gaya pura-pura baiknya dorang. Paling munafik itu aparat keamanan: polisi dan TNI. Mereka melakukan pengobatan (bisa masuk kategori pembunuhan) massal, kerja bakti bersama, kunjungan ke kampung-kampung dan tempat ibadahh membawa bantuan. Bahkan membantu dana pembangunan gereja. Komandanya diberi kesempatan naik mimbar, bicara ayat-ayat kitab suci tetapi coba lihat kelakuannya dan isi pikirannya terhadap ko atau masyarakat yang didatangginya.
“Anggota kita itu pegang tiga prinsip dalam menghadapi masyarakat. Prinsip ketiga adalah: siapapun patut kita curigai” ungkap Irjen Nana Sukarnain, kabid humas Polri dalam satu diskusi dengan kelompok studi HAM di Jakarta 7 tahun silam di Jakarta. Maaf dua prinsip lainnya, saya lupa.
Penjelasan itu membuat saya tersentak kaget, lalu terlintas. “Oh begitu berarti semua orang Papua, baik itu ko pejabat atau pembangkang selalu dicurigai pemerintah pendudukan. Kalau benar begitu, kenapan orang Papua gila-gilaan menjadi Indonesia? Kalau begitu, kapan orang Papua tidak akan pernah dicurigai? Entalah”
Alasan yang sama saya pernah dengar aktivis Papua yang terlibat dalam Jaringan Damai Papua (JDP): Dialog Jakarta Papua. Siapapun dia yang terlibat kita harus menjaga jarak. Jarak dalam artian menjaga kerahadiran dalam membicarakan agenda-agenda dialog. Tidak semua hal atau agenda dibicarakan untuk diketahui semua yang terlibat . Ada yang menjadi rahasia pupblik dan rahasia kelompok atau individu.
“Tidak semua hal kita bisa bicara, sekalipun mereka datang mau membantu kita. Kita harus tahu diri apa yang mesti kita bicara dan tidak,” ucap salah satu kawan Papua yang terlibat dalam JDP. Itu artinya, orang Papua tetap mencurigai siapa pun yang datang terlibat dalam JDP. Papua tetap Papua, Indonesia tetap Indonesia.
Kawan, itu artinya kedua bela pihak: Papua maupun Indonesia selalu saling mencurigai. Tetapi, kawan itu satu prinsip perlawanan tanpa menyerah. Kalau tidak saling curiga, bisa terjebak dalam setingan lawan. Atau kalalu ko tidak punya prinsip, ko tidak perlu terlibat dalam pertarungan. Lebih baik ko tidur saja.
Kisa-kisah itu membuktikan, ada satu sikap yang selalu ada dalam diri setiap orang dan kelompok. Terutama yang berkepentingan dengan mengamankan dan mensukseskan kepentingannya dengan pihak lawan. Lawan punya banyak cara untuk menaklukkan lawan. Lawan kadang pura-pura berkawan dengan lawan.
Lawan orang Papua saat ini: kolonialisme dan kapitalisme. Keduanya berpura-pura bersahabat, berpura-pura baik dengan orang Papua dengan target mencuri dan membunuh orang Papua. Indonesia dulu pura-pura baik dengan orang Papua saat pelaksaan PEPERA 1969. Mereka memberikan sejumlah bantuan kepada perwakilan orang Papua.
Perlakuan macam itu berlanjut hingga kini. Kelompok milisi (misalnya BMP, LMRI dan pejabat birokrat Papua) menerima kemudahan. Aktivis Papua yang dulu teriak merdeka berbalik mendukung kesalahan sejarah Indonesia di Papua. Kecerdasan yang berbalik menjadi setingkat orang Papua saat pelaksaan PEPERA. Gampang ditipu dan dibodoh-bodohi karena tidak sekolah.
Pura-pura baik lawan kadang tidak disadari melalui peneliti dan aktivis HAM. Aktivis HAM berpura-pura mendukung gerakan Papua atau nama pembelaan HAM. Mereka membawa program kontra intelegen ke dalam kelompok orang Papua yang menentang kolonialisme.
“Mereka ini bisa jadi agresif tetapi juga pasif tetapi tetap dalam proses sedang membaca gerakan perlawanan. Karena itu, kawan ko jangan percaya strategi lawan yang dia tawarkan. Ko belajar dan merancang strategis sendiri untuk menghancurkan musuh,” tegasnya.
Atau ko boleh berteman tetapi jangan terlalu berlebihan. Ruang pertemuan, atau keterlibatan orang luar dalam pembicaraan maupun kehadiran orang luar ke dalam lingkungan kita harus dibatasi. Keamanan dan kewaspadaan perlawanan harus ditingkatan. Terutama detik-detik atau hari-hari isu Papua menggema di wilayah Pasifik.
“Lawan tetap lawan. Kawan tetap kawan. Lawan tidak pernah menjadi kawan selagi dia masih sadar.Ko hanya bisa merebut kawan dari kelompok lawan yang tidak sadar. Aktivis HAM murni masih bisa kita menjadikan kawan daripada aktivis HAM nasionalis,”.
Penulis adalah tukang angkut barang di pelabuhan Hollandia.

About Karoba News

Powered by Blogger.