Berita

Trauma, Masyarakat Tolak Pangkalan Militer Di Biak

Sekretaris Forum Peduli Kawasan Byak, Suoiori,
Raja Ampat dan Teluk Wondama, Agustinus Rumaropen (kanan)
 bersama bendaharanya, Silas Usyor ketika bertandang
ke redaksi Jubi, Minggu malam – Jubi/Simon Daisiu
Jayapura – Kelompok pemuda yang tergabung dalam Forum Peduli Kawasan Byak, Suoiori, Raja Ampat dan Teluk Wondama menolak pembangunan pangkalan militer di Kabupaten Biak Numfor.
Forum ini menilai masyarakat sudah trauma terhadap militer di tanah Papua. Selain itu pulau Biak makin padat sehingga tidak memungkinkan untuk pembangunan pangkalan militer wilayah Timur Indonesia.
“Kehadiran pangkalan militer Indonesia timur di pulau Biak akan menambah kisah kelam dan tragedi yang berdampak negatif pada hak ulayat dan peningkatan ekonomi rakyat,” kata Sekretaris Forum Peduli Kawasan Byak, Suoiori, Raja Ampat dan Teluk Wondama Agustinus Rumaropen ketika bertandang ke redaksi Jubi, Minggu malam (19/6/2016).
Kami sebagai anak adat pemilik hak ulayat sangat tidak setuju dengan pembangunan markas militer tersebut,” lanjutnya.
Pihaknya juga meminta Pemerintah pusat agar menarik militer dari Biak.
“Kami mau ke hutan atau ke kebun tetapi semuanya dikuasai militer. Pembangunan pangkalan militer tidak akan berdampak positif pada pembangunan,” katanya.
Senada dikatakan bendahara FPKB Silas Usyor. Silas mengkhawatirkan kehadiran militer mengganggu aktivitas warga sebab masyarakat sudah trauma dengan militer.
“Pembangunan pangkalan militer sangat tidak disetujui masyarakat Biak. Kami butuh pembangunan, bukan pangkalan militer,” kata Silas.
Hingga berita ini ditulis belum ada pernyataan resmi di Kodam XVII/Cenderawasih. Namun Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo seperti dilansir salah satu media nasional, Kamis (3/3/2016) menyatakan pihaknya mengkaji rencana pembentukan markas baru.
“Kami masih melakukan kajian. Kemungkinan di wilayah Timur. Di sana masih kosong,” katanya. (Simon Daisiu)

About WP News

Powered by Blogger.