Aktivis

GempaR Papua Hadir Sebagai Langkah Perlawanan Bersama Rakyat

Spanduk kegiatan GempaR Papua – Dok. GempaR
Jayapura – Guna membenahi fungsional organisasi dan program kerja terhadap aktivitas mahasiswa, maka Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat (GempaR) Papua menggelar musyawarah II dengan tema rekontruksi internal organisasi,  18-19/06/2016 di  Port Numbay atau Jayapura.
Ketua panitia Musyawarah GempaR Papua, Alfa Rohrohmana mengatakan, seakan mahasiswa Papua tidak peka terhadap situasi sosial dan terpengaruh ke dalam kepentingan kekuasaan.
“Saat ini mahasiswa Papua di tanah Papua tidak lagi kritis terhadap situasi sosial, situasi politik yang terjadi di depan mata mereka. Itu akibat terkooptasinya mahasiswa dan pemuda yang telah terpengaruh dengan kepentingan kekuasaan yang berujung pada kepentingan pribadi,” tulis Alfa Rohromana dalam realese yang diterima Jubi, Senin (20/06/2016).
Menurut Alfa, sejauh ini banyak mahasiswa yang tidak lagi memahami persoalan, sehingga tidak lagi melihat situasi ancaman yang sedang terjai, seperti ancaman ekonomi global, ekspansi indsutri besar-besaran, hak-hak masyarakat adat yang terus dirampas bahkan pelanggaran HAM yang terus terjadi.
Dikatakan, pihaknya melakukan itu juga salah satunya merupakan kebutuhan bagi rakyat Papua dengan melakukan pemilihan pemimpin yang baru dalam organisasi. Dalam kegiatan ini, pihaknya telah menetapkan agenda perjuangan.
“Dalam pemilihan ini telah terpilih saudara Yason Ngelia dan merekontruksi internal untuk melakukan pembenahan fungsional struktural dalam kerja-kerja organisasi,” ujarnya.
Sekjen GempaR Papua, Yason Ngelia yang menggantikan Sekjen sebelumnya, Samuel Womsiwor mengatakan, GempaR bukan OKP, juga bukan wadah aspirasi pemeritah yang memajukan bakat, tetapi wadah ini hadir sebagai langkah perlawanan bersama rakyat Papua.
“Yang perlu digaris bawahi oleh kami dalam organisasi perlawanan yang lahir dan terbentuk atas kesadaran anak Papua dan berada pada lahan konflik. GempaR layaknya seperti cadangan perlawanan. Kita berikrar ketika masih ada marginasliasi dan peninadasan kepada orang Papua di situ GempaR hadir. GempaR hadir untuk melawan kolonial yang menjajah bangsa Papua,” terang Yason Ngelia.
Lanjutnya, GempaR merupakan milik rakyat Papua pada semua rakyat, sebab dalam perjalanannya GempaR mendapat banyak pengalaman dengan banyaknya anggota yang datang dan pergi.
“Kami ingin sampaikan bahwa kita satu di dalam penindasan yang sama. Sehingga, idelologi yang dianut adalah sosialisme demokratik,” pungkasnya. (*)
Sumber : www.tabloidjubi.com

About WP News

Powered by Blogger.