Berita

Mantri J A Rumaterai dan Dokter Silaban, Pernah Pakai Jarum Jahit Biasa, Menjahit Luka Robek di Pedalaman Jayawijaya

Mendiang Mantri JA Rumaterai-Jubi/IST
Jayapura, Jubi- Adalah bapak mantri JA Rumaterai (76 tahun) mengangkat pengalaman pelayanannya bersama dokter Tigor Silaban mantan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua semasa bertuga di Pedalaman Kabupaten Jayawijaya. Dokter boleh berganti tetapi mantri yang bertugas di sana tak pernah berpindah tugas ke kabupaten lainnya.
Mantri Rumaterai pertama kali bertugas saat masih berusia 23 tahun di Kabupaten Jayawijaya atau sekitar 1970an di Wamena saat itu kabupaten belum dimekarkan sehingga wilayah pelayanannya sangat luas dari Bokondini sampai ke Kiwirok Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang sekarang, bahkan wilayah Jayawijaya sampai ke Kobakma, ibukota Kabupaten Mamberamo Tengah sekarang.
Sedangkan dokter Tigor Silaban begitu lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1978, juga pertama kali bertugas di  Wamena, Kabupaten Jayawijaya di sana bertemu lah dengan mantri Rumaterai.
“Pak dokter ini suka sekali mencari ikan di kali-kali kecil sebab kata dokter selama kuliah di Jakarta selalu mencari ikan,”kata Mantri Rumaterai kala itu kepada Jubi di Jayapura. Sebaliknya mendiang Mantri Rumaterai yang baru saja meninggal pada Selasa( 3/5/2016) di RSUD Jayapura selalu mengisi waktu luang selama bertugas di kampung-kampung dengan membuat patung atau ukiran dari kayu.
Kebiasaan mencari ikan, dibawa pula selama Dokter Tigor bertugas di Jayawijaya dan setiap ada kesempatan selalu mencari ikan. Suatu waktu kata Mantri Rumaterai, bersama dokter Silaban melakukan perjalanan ke Kobakma, sekarang ibukota Kabupaten Mamberamo Tengah.
Suatu hari sedang duduk-duduk, tiba-tiba penduduk memikul seorang bapak untuk mengobati luka. Paitua itu terkena taring babi hutan, gara-gara warga mengejar dan mau menangkap babi tetapi babi mengamuk sehingga menyabet perut seorang babak yang sedang berkebun. “Bayangkan anak, daging terobek dan tali perut (usus besar dan halus) keluar tergantung,”kata mantri Rumaterai mengenang masa bertugas di sana.
Tidak ada benang dan jarum khusus untuk menjahit luka, si pasien, terpaksa minta kepada penduduk apakah mereka punya kelebihan jarum dan benang jahit. Ternyata masyarakat punya, seandainya tidak ada, mantri Rumaterai berencana akan memakai jarum pentul untuk menutup luka robekan akibat taring babi.
“Untung masyarakat dorang punya benang dan jarum jahit. Sulit menjahit luka pakai jarum biasa karena daging perut terlalu tebal, jahit perlahan-lahan hingga akhirnya semua selesai,”kenang Yudi panggilan akrab Mantri Rumaterai.
Selesai menjahit luka robek dan melanjutkan tugas ke kampung lain, ya pasien sudah selamat dan pelayanan tidak boleh berhenti sampai di situ di tengah peralatan medis yang terbatas.
Pengalaman JA Rumaterai ini selama bertugas di Kabupaten Jayawijaya, juga dibenarkan mantan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua yang kini bertugas sebagai konsultan kesehatan di Kabupaten Tolikara.
Kata dokter, saat bertugas di tengah hutan Jayawijaya. Tiba-tiba ada seekor babi hutan mengamuk akibat terkena panah dari para pemburu. Babi hutan itu mengamuk dan menubruk lelaki tua yang sedang mencari ubi di hutan. Taring babi menghantam tubuh korban dan robek di bagian perut hingga usus besar dan kecil keluar. Begitu pula mata dan hidung keluar darah.

Dokter Tigor pun ikut membantu si pasien tanpa peralatan medis di tengah belantara, Kobakma di Mamberamo Tengah. Karena berjalan selama dua minggu jelas semua persediaan habis mengunjungi warga di daerha terpencil. Beruntung penduduk setempat menawarkan jarum jahit dan benang baju untuk menjahit luka sobekan di tubuh bapak tua itu. Syukurlah selama dua minggu akhirnya bapak tua itu sembuh dan bertemu dokter Tigor Silaban, Sebagai tanda terima kasih bapak tua memberi anak panah buatan tangannya sendiri sebagai tokoh yang dihormati.
Dokter Tigor Silaban Mantan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua-Jubi/Ist
Dokter Tigor Silaban pertama kali bertugas di Puskesmas Kecamatan Bogondini, Kabupaten Jayawijaya. Usai bertugas di Kabupaten Jayawijaya, dokter kembali ke Kota Jayapura hingga akhirnya menjabat Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua sampai masa jabatannya diganti oleh Drg Aloysius Giyai.
Sementara Mantri JA Rumaterai tetap bertugas di Kabupaten Jayawijaya hingga pensiun, bahkan menetap di Wamena dan meninggal di Jayapura karena sakit pada Selasa (3/5/2016) dan dimakamkan pada, Kamis (5/5/2016) di daerah tempat pertama kali bertugas.Begitulah orang tua petugas kesehatan sejak jaman Belanda sampai Indonesia, selalu menekuni pekerjaan dan tetap tinggal di daerah tugas di tengah keterbatasan perlatan medis.(*)

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.