Aksi

Mahasiswa Uncen Demo, Desak Rektor Utamakan OAP

Mahasiswa ketika menggelar demo di auditorium Uncen, Senin (23/5/2016) – Jubi
Jayapura – Puluhan mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Peduli Orang Asli Papua (OAP) Universitas Cendrawasih (Uncen) dan calon mahasiswa baru menggelar demo di auditorium Uncen, Abepura, Kota Jayapura, Senin pagi, 23 Mei 2016.
Mereka mendesak Uncen dan rektor agar mengutamakan OAP dalam penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2016/2017.
Sejumlah spanduk dan pamflet dibawakan dalam demo tersebut. Disebutkan bahwa sesuai kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam penerimaan mahasiswa sebesar 80 persen untuk OAP dan 20 persen lainnya non Papua.
Seorang orator, Samuel Wamsiwor, dalam orasinya mengatakan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi dan Uncen segera mengubah jalur pendaftaran SMNPTN, karena tidak semua calon mahasiswa Papua menguasai teknologi informasi dan komunikasi.
“Teman-teman kami di pedalaman dan pesisir Papua belum mengetahui dan menguasai cara tes melalui jalur online (internet). Di pedalaman susah mendaftar melalui internet,” katanya.
Maka dari itu, pihaknya meminta agar panitia penerimaan mahasiswa baru jeli melihat persoalan tersebut sebelum dilakukan tes via online.
Menurutnya sebaiknya informasi disosialisasikan di semua media; baik cetak maupun media elektronik agar diketahui semua calon mahasiswa.
“Kami harap pendaftaran SMNPTN yang sudah ditutup segera diperpanjang karena teman-teman kami di pelosok belum mengetahui informasi ini,” katanya.
Ia bahkan mengancam akan memboikot aktivitas perkuliahan di Uncen jika aspirasi mereka tak segera dijawab.
Rektor Uncen Onisimus Sahuleka mengatakan bahwa jalur pertama mengunakan SMNPTN dan SBNPTN merupakan seleksi nasional.
“Desakan tadi memaksakan kehendak untuk saya tanda tangan sebagai rektor. Namun saya menolak. Ini seleksi nasional dan bukan Papua saja punya daerah tersulit, tetapi juga daerah lainnya, seperti NTT, Kalimatan, bahkan Sulawesi pun mengalami situasi dan kondisi seperti kita. Cuma persoalannya ini seleksi nasional,” katanya.
Ia melanjutkan bahwa seleksi nasional SMNPTN dan SBNPTN sudah ditentukan dan ditutup pada 20 Mei 2016. Sedangkan di daerah hanya mengikuti kebijakan di pusat.
“Kita di sini tidak bisa membuka lagi. Tuntututan mereka untuk memperpanjang pendaftaran SMNPTN tapi kami dianggap tidak profesional karena kita sudah sosialisasi kegiatan di daerah, seperti Jayawijaya, Timika, Nabire, Jayapura, Serui, Biak. Kami buka di situ dari tahun ke tahun sudah berjalan,” tegasnya. (*)


About WP News

Powered by Blogger.