Berita

SKP HAM Papua Terus Lakukan Diskusi Kasus Paniai Berdarah

Aksi damai untuk penuntasan kasus Paniai Berdarah di Kota Jayapura - Jubi/Abeth You
Jayapura, Jubi – Solidaritas Korban Pelanggaraan HAM (SKP HAM) Papua melakukaan diskusi dan pemutran film kasus Paniai Berdarah yang menewaskan empat pelajar  SMA dan satu orang warga sipil terjadi pada 8 Desember 2014 lalu bekerjasama organisasi Cipayung, yakni Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) & Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Aula GMKI Padang Bulan, Kota Jayapura, Papua, Jumat (30/10/2015). 
Ketua Forum Independent Mahasiswa (FIM) Papua, Teko Kogoya mengatakan, kasus ini merupakan kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di Papua dan selama ini pihak terus melakukan aksi damai serta pengawalan untuk menuntankan kasus Paniai ini sampai tuntas.
“Tetapi, sampai saat ini orang-orang yang ada di Komnas HAM melalui perpanjgan tangannya Tim Ad Hock tidak laksanakan dengan baik. Sampai tim itu bilang negara Indonesia tidak mempunyai uang untuk menyelesaikan kasus Paniai,” ujar Teko Kogoya dalam diskusi tersebut yang dihadiri ratusan mahasiswa dan pemuda.
Ketua SKP HAM Papua, Penehas Lokbere mengatakan, pihaknya melakukan kegiatan itu terus berkontinyu agar para generasi muda Papua ini sadar akan pentingnya kekerasan yang terus dilakukan oleh negara Indonesia melalui aparat keamanannya.
“Kami lakukan ini (diskusi dan pemutaran film) supaya generasi muda Papua ini musti tahu atas situasi ini, yang negara terus membunuh orang Papua dan lindungi pelakunya ini,” kata Penehas Lokbere.
Menurut Lokbere, hingga kini negara keliru untuk atasi masalah yang dilakukannya, karena pihanya menilai negara hanya fokus pada pemberian Otonmi Khusus (Otsus). “Negara tidak angkat bicara tentang kasus penembakan pada tanggal 8 Desember 2014 di Paniai sebagai kasus pelanggaran HAM brat di atas tanah Papua,” tuturnya.
Senada juga disampaikan Ketua PMKRI St. Efrem Cabang Kota Jayapura, Simon Petrus Bame, pihaknya sebagai generasi muda harus bergandengan tangan untuk menyelesaikan kasus sejumlah kasus pelanggaran HAM berta yang semakin subur di atas tanah ini.
“Kita lihat ada dua pelanggrana HAM, yaitu fisik dan non fisik pemutaran film merupakan doktrinisasi untuk kita generasi muda dan revolusi terjadi karena gerakan bersama. Selain kita bicara kasus pelanggaraan HAM, kita harus bicara serta selamatkan hak tanah, hutan dan manusia Papua supaya bisa selematkan anak cucu Papua hari ini dan akan datang,” kata Bame.
Ketua GMKI Kota Jayapura, Sebi Seblon Ibiah mengaku,pihaknya tak akan kehabisaan untuk menyarakan sejumlah kasus tersebut, khususnya kasus Paniai Berdarah ini. Dan akan berjuang dengan cara berpikir, bertindak dan berbuat perubahaan di atas tanah Papua.
“Kami mengajak gereja, LSM, pemuda, mahasiswa dan rakyat harus angkat bicara tentang nilai kemanusian di atas tanah Papua. SKP HAM Papua di dalam gelar diskusi dan pemutaran film di setiap asrama dan biara itu merupakan suatu konsulidasi basis massa untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran di atas tanah kita Papua ini,” tuturnya.(Abeth You)
Sumber: www.tabloidjubi.com

About Karoba News

Powered by Blogger.