Berita

Uskup Timika: Aparat Keamanan Jadikan Negeri Ini, Kota Najis

Uskup Keuskupan Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr (tengah) - Ist
Jayapura, Jubi – Pimpinan Gereja Keuskupan Timika, Mgr. Jhon Philip Saklil, Pr menyatakan negeri ini telah dijadikan kota najis oleh aparat keamanan Republik Indonesia. Hal ini terkait terkait pembunuhan yang terus dilakukan oleh TNI dan Polri serta Brimob di atas bumi Cenderawasih ini, terutama yang terjadi pekan lalu di Timika.
“Orang bebas melakukan apa saja yang menjadi keinginannya. Maka itu, orang saling membunuh kapan saja bebas, dan orang bebas kapan saja merusak keutuhan alam lingkungan dan hutan. Jadi, saya mau terus terang saja, bahwa pihak yang menjadi biang kedok kenajisan adalah para aparat keamanan Indonesia,” kata Mgr. John Philip Saklil, Pr melalui press release yang resmi yang dikirimkan kepada Jubi, Selasa (01/09/2015).
Karena itu, kata dia pendekatan aparat pemerintah keliru dan sengaja membiarkan bahkan membebaskan terjadi kenajisan itu bertumbuh di mana-mana, sehingga tindakan konflik dan kekerasan, pembunuhan, kerusahan lingkungan dan hutan Papua serta penjualan dan peminum minuman keras (Miras, red) bertumbuh di mana-mana.
“Baik dari tingkat produser miras, pengedar miras dan sampai konsumen miras bebas melakukan apa saja menurut maunya,” kata Saklil.
Mantan Pastor Dekan Dekenat Paniai ini mengajak untuk semua unsure, entah pemerintah, TNI, Polri, masyarakat belajar dari kasus pembunuhan yang telah terjadi untuk tidak lagi terulang.
“Kita belajar dari kasus pembunuhan yang telah terjadi. Kasus tersebut mengajar kita bahwa kematian bisa terjadi kapan dan di mana saja. Entah karena sakit, entah karena kecelakaan, entah karena bencana alam, entah karena musibah, entah karena pembunuhan, dan sebagainya. Tidak ada seorangpun yang mengijinkan kematian akibat kenajisan. Manusia selalu berusaha menghindari kematian yang disebabkan oleh segala hal dari luar diri manusia, khususnya di luar batas kemampuan manusia,” tuturnya.
Peraturan negara atau peraturan adat dibuat supaya manusia terbebaskan dari penyebab kematian baik secara langsung maupun tak langsung. “Namun peraturan yang kita buat itu kita justru melanggar lagi. Katanya TNI dan Polri itu melindungi dan mengayomi masyarakat, tapi mana buktinya? Sejauh ini bukan melindungi dan menyomi, tapi memusnahkan. Ini yang ada,” tegas John.
Sudah tahu alkohol dan narkoba menyebabkan kematian. Mengapa manusia membebaskan dirinya dan diizinkan menjadi pengguna, pengedar, dan produser alkohol dan narkoba yang menyebabkan kematian. Untuk itu, baik manusia maupun lembaga disebut menajiskan.
“Sudah tahu peperangan dan konflik atau segala bentuk kekerasan menyebabkan kematian. Mengapa manusia bebas dan biarkan saling membantai sebagai cara untuk menuntut hak dan kewajiban. Untuk itu, baik manusia maupun lembaga disebut menajiskan,” ungkapnya.
Kehidupan yang menajiskan, lanjutnya tidak bisa dihindari dalam kehidupan ini. Namun yang penting bagi semua komponen bagaimana kita menghindari segala perbuatan yang menajiskan. “Siapapun bisa buat kesalahan. Baik sengaja maupun tidak sengaja, namun kesalahan itu bukan dibalas dengan penghakiman dan balas dendam tetapi ajakan untuk bertobat,” katanya.
“Sebagai orang yang beriman kita tidak bisa menghindari segala konflik dalam hidup ini. Tetapi, tujuannnya supaya kita belajar bagaimana berdamai. Kita tidak bisa menghindari perbedaan-perbedaan dalam hidup ini entah berbeda suku atau agama, atau pendidikan atau tugas supaya kita belajar bagaimana bersatu. Kita tidak bisa menghindari hidup dalam dosa dan salah yang menajiskan supaya kita belajar bagaimana bertobat. Kita tidak bisa menghindari ada saatnya kita dalam kesedihan dan tangisan supaya kita belajar bagaimana bersikap rendah hati. Kita tidak bisa menghindari kegagalan supaya kita belajar kerja keras,” ajaknya.
Menurut Uskup Keuskupan Timika, di atas negeri ini sudah sering terjadi tindakan-tindakan yang menajiskan sehingga terkesan dianut budaya najis. Segala bentuk kenajisan selalu melahirkan kekerasan dan pembunuhan, balas dendam dan konflik, korupsi-kulusi-nepotisme, materialisme-hedonisme-sekularisme. Budaya kenajisan adalah budaya kematian. Krisis moral terjadi di segala bidang kehidupan manusia.
“Maka itu saya mengajak kita untuk mencintai kehidupan dengan cara melawan segala tindakan yang menajiskan. Kita tidak melawan militer, tetapi berperang melawan segala tindakan kenajisan yang dibuat oleh militer. Kita tidak melawan negara, tetapi kita melawan segala tindakan kenajisan yang dibuat oleh negara,” terang Uskup.
Dirinya mendesak aparat keamanan agar jangan menjadikan negeri ini sebagai negeri yang najis, jangan bebas melakukan keinginan pembunuhan. “Tetapi aparat keamanan mesti tegakkan nilai cinta kasih dan perdamaian untuk keamanan dan kenyamanan demi hidup yang damai dan adil dari negeri ini,” bebernya.
Secara terpisah, Sekretaris Daerah Kabupaten Mimika, Ausilius You mengatakan, dirinya sudah sepakat dan perintahkan kepada pihak berwajib untuk mengusut kasus tersebut hingga tutas.
“Ini sungguh tidak manusiawi. Saya kutuk pelaku. Saya juga sudah minta Dandim dan Polres Mimika serta jajarannya mengusut tuntas kasus ini. Harus selesaikan melalui prosedur hukum yang berlaku. Ini Negara hukum. Hukum harus ditegakan,” kata Ausilius You ketika dikonfirmasi Jubi, Selasa (01/09). (Abeth You)

Sumber : www.tabloidjubi.com

About Karoba News

Powered by Blogger.