Berita

Tinggikah ? Angka Kematian Ibu dan Anak di Provinsi Papua

Mama Papua dan anak-Jubi-ist
Jayapura, Jubi- Tanah Papua tak lepas dari kekerasan ibu dan anak tinggi, tetapi tinggi pula angka kematian ibu dan anak? Tampaknya kekerasan dan kenaikan angka kematian selalu berawal dari dalam keluarga.

Belakangan angka-angka kematian ibu dan anak  menunjukan penurunan, tercatat pada 2010 tercatat angka kematian bayi (AKB) di Provinsi Papua 54 per 100.000 kelahiran baru. Sedangkan angka nasional mencapai 32 per 100.000 kelahiran baru. Setahun lalu pada 2014, AKB di Papua tercata delapan per 100.000. Ada penurunan tajam dari 2010 ke 2014 tercatat 54 menjadi delapan anak per 100.000.
Begitupula angka kematian ibu (AKI) pada 2010 di Provinsi papua menunjukan angka 587 per 100.000 kelahiran baru dan menjadi 422 per 100.000 kelahiran baru pada 2014. Sementara itu angka nasional AKI mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup.
Tak heran kalau Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Aloysius Giyai mengatakan angka ini cukup mengagetkan dan prestasi ini benar-benar tak diduga.
Kata dia indikator keberhasilan ini karena  dengan penggunaan tiga perangkat lunak untuk memantau perkembangan kesehatan di Papua. Selain itu lanjut Giyai  didukung pula dengan Peraturan Gubernur (Pergub) No 8/2014 tentang Pemanfaatan 15 Persen Dana Otonomi Khusus di Bidang Kesehatan serta perencanaan berbasis bukti yang juga dapat dilakukan oleh masyarakat di setiap kabupaten.
Menurut mantan Direktur RSUD Abepura ini sebanyak 90 persen distrik atau kecamatan di Papua telah memiliki puskesmas. “Hal yang juga menggembirakan, sebab 100 persen orang asli Papua sudah menggunakan Kartu Papua Sehat (KPS),”katanya saat jumpa pers belum lama ini di Jayapura.
Dinkes Papua akan menetapkan enam rumah sakit (RS) menjadi  rujukan regional tipe B.  Tahun ini, RS Abepura, RS Biak, dan RS Timika menjadi RS tipe B. Awal tahun depan, RS Merauke, RS Nabire, dan RS Wamena juga menjadi rujukan regional tipe B. Rumah Sakit Biak baru naik tingkat menjadi RS Regional Tipe dan diresmikan oleh Gubernur Papua Lukas Enembe Agustus lalu di Biak.
Begitupula kata Giyai ada dua rumah sakit naik tingkat dari tipe D naik ke tipe C, yaitu RSUD Wamena yang sudah berpuluhan tahun statusnya tipe D dan susah masuk tipe C yang dilengkapi dengan berbagai tenaga serta peralatan dan juga RS Dian Harapan.
Sedangkan kata dia RSUD Dok II Jayapura juga telah ditetapkan menjadi rumah sakit rujukan nasional oleh Menteri Kesehatan (menkes) dari 14 rumah sakit rujukan nasional.  Nantinya, RSUD Jayapura dilengkapi dengan tenaga kesehatan dan kelengkapan lain dari pusat.  Menurut dia pada 2015 ini,  khusus kekurangan peralatan kedokteran telah dianggarkan Rp 21 miliar.
Bantuan dana dari Anggaran Pendapatan dan  Belanja Negara (APBN) yang semula Rp 106 miliar meningkat menjadi Rp 246 miliar. Dana ini akan digunakan membangun rumah sakit pratama Kabupaten  Lani Jaya dan Nduga, yang tadinya tidak ada sama sekali. Sejumlah dana yang sama akan diberikan pula kepada enam rumah sakit regional yang akan naik tipe D.
Kematian ibu diakibatkan oleh pendarahan, baik pada kehamilan maupun pasca persalinan, dan biasa disebut hipertensi dalam kehamilan. Kondisi ini konon terjadi ketika ibu akan melahirkan serta mengalami tensi darah tinggi, kejang-kejang dan kaki bengkak.
Kasus kematian pada bayi baru lahir, penyebab utamanya disebut afiksia atau gangguan pernafasan. Umumnya, berat bayi ketika lahir berat tidak mencukupi. Kondisi ini harus dicegah bukan saja pada saat persalinan, tetapi jauh sebelum itu terutama pada masa kehamilan ibu melakukan pemeriksaan rutin.
Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua Silwanus Sumule mengatakan kematian ibu  tinggi karena  masih rendahnya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Data Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2014 menunjukkan angka 42,76 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pertolongan persalinan kesehatan di Papua sangat buruk, dan menjadi terendah dari semua Provinsi di Indonesia Timur, sementara angka nasional telah mencapai 90,88 persen.
Begitupula pada tingginya angka kematian balita. Angka cakupan imunisasi baru mencapai 55,8 persen, terendah di semua Provinsi Indonesia Timur, sementara angka nasional telah mencapai 89,5 persen.
Ada tiga  strategi yang dirancang Dinas Kesehatan Provinsi Papua, salah satunya adalah pembangunan kesehatan yang terpadu, dari hulu hingga hilir dengan fokus pada program yang langsung dirasakan oleh masyarakat atau disebut dengan istilah Quick Wins. Salah satu program Quick Wins itu adalah Kartu Papua Sehat.(Dominggus Mampioper)

About WP News

Powered by Blogger.