Aksi

Mengenang 17 Tahun Tragedi Biak Berdarah, AMP Akan Gelar Aksi Serentak

Massa Aksi Dama Rakyat Papua 06 July 1998 di Biak 
Yogyakarta (04/07/2015) - 06 Juli 1998, tepat 17 Tahun yang silam, terjadi sebuah tragedi memiluhkan yang masih sangat hangat diingatan rakyat Papua pada umumnya dan khususnya rakyat Biak hingga saat ini. Mungkin sebagian besar rakyat Indonesia tidak tahu-menahu tentang apa yang terjadi saat itu, namun tragedi memiluhkan ini tidak akan mungkin dilupakan dan terhapuskan dari benak rakyat Papua, meskipun peristiwa memiluhkan ini telah terjadi belasan tahun lalu.

Tragedi memiluhkan ini selalu dikenang oleh rakyat Papua dengan sebutan Tragedi "BIAK BERDARAH", tragedi ini bermula ketika ribuan rakyat Papua di Biak melakukan aksi damai untuk mengemukakan pendapat dimuka umum, namun aksi damai yang digelar oleh rakyat Papua di Biak disikapi dengan tindakan represif aparat gabungan TNI-Polri dengan mengeluarkan tembakan secara membabi buta ke arah massa aksi, yang akhirnya menewaskan puluhan massa aksi serta ratusan lainnya terkena luka tembak. Sikap represif yang dilakukan militer Indonesia saat itu, disebabkan adanya pengibaran bendera Bintang Kejora, yang dilakukan oleh massa aksi di sebuah tower, yang terletak tak jauh dari pelabuhan. Tragedi Biak Berdarah meninggalkan banyak cerita memiluhkan yang tidak akan mungkin dapat dilupakan oleh seluruh rakyat Papua, dimana ketika peristiwa ini terjadi, ratusan orang ditangkap dan di aniaya di dalam tahanan.

Yang paling memiluhkan dari peristiwa 17 tahun silam yang terjadi di Biak adalah, ketika didapati
Korban Yang Isi Digarung dan Dibuang Kelaut Oleh TNI-Polri
pulahan jasad orang Papua mengambang di lautan, dan didapati juga di semak-semak dan bahkan banyak juga yang hilang dan tak ditemukan hingga saat ini. Meskipun peristiwa ini dikategorikan sebagai Pelanggaran HAM Berat, dan banyak desakan dari para pemerhati HAM Internasional dan Nasional yang mendesak untuk adanya penyelesaian kasus ini, dan meskipun prosesnya hukumnya sudah dinaikan ke Mahkama Agung (MA), namun hingga saat ini proses hukumnya tidak juga menunjukan adanya titik terang. MA terkesan membiarkan proses hukum tragedi Biak Berdarah ini terus berlarut-larut, sebab pelakunya adalah negara, sehingga MA pun tidak begitu peduli terhadap tragedi ini, sehingga para pelaku hingga saat ini, masih bebas menghirup udara bebas, dan bahkan para pelaku justru diberikan penghargaan oleh Negara, karena dianggap telah berhasil melaksanakan agenda negara di Papua.

Maka, bertepatan dengan peringatan 17 Tahun Tragedi "BIAK BERDARAH" pada 06 July 2015, Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] Komite Kota Yogyakarta berencana menggelar aksi damai yang dikemas dalam bentuk Malam Renungan Tragedi Biak Berdarah (Mimbar Bebas), dengan mengangkat Thema "Negara Bertanggung Jawab Atas Tragedi Biak Berdarah". Aksi mimbar bebas ini sendiri, rencananya akan diadakan di Monumen Batik (Depan Gedung Agung) Kota Yogyakarta, dan akan mulai dilakukan pada pukul 18.00 WIB. Selain di Yogyakarta, Aliansi Mahasiswa Papua [AMP] sendiri berencana menggelar aksi serentak pada hari yang sama di kota-kota di Jawa dan Bali.

Abby D, selaku ketua AMP Kk Yogyakarta ketika dimintai keterangan membenarkan rencana aksi damai tersebut, "ya.., kami akan menggerlar aksi damai pada peringatan 17 tahun tragedi Biak Berdarah, yang kami kemas dalam bentuk mimbar bebas. Aksi damai ini kami adakan serentak di seluruh kota Jawa dan Bali pada hari yang sama, tetapi bentuk aksi, disesuaikan dengan, kondisi kota-kota yang ada", terang Abby.[krbnews]

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.