Berita

Jokowi Diminta Hentikan Pembunuhan Terhadap Warga Papua

Solidarity Mahasiswa Papua peduli HAM di Tanah Papua saat melakukan aksi di kilometer Nol, Surabaya. Jubi/Arnold Belau
Yogyakarta, Jubi – Solidaritas Mahasiswa Papua Peduli HAM di Tanah Papua menuntut Presiden Jokowi agar menuntaskan pembunuhan secara tidak profesional yang dilakukan oleh TNI/BRIMOB belakangan ini. Pembunuhan seperti ini masih saja terjadi di seantero tanah Papua. Diantaranya kasus 8 Desember 2014 yang menewaskan 4 anak pelajar dan 1 warga sipil serta beberapa warga sipil lainnya luka-luka.
Kasus ini, belum dituntaskan oleh pemerintahan Presiden Jokowi, terjadi lagi kasus baru di kampung Ugapuga, Dogiyai pada Juni 2015 ini.
Hanya berselang enam bulan dari 2014 sampai 2015. Tepat pada 26 Juni 2015 kembali terjadi pembunuhan sadis oleh TNI/Brimob terhadap seorang pelajar kelas II SMP (Yoseni Agapa) SMP Negeri Boduda Kab. Dogiyai, Distrik Kamuu Timur, yang bernama Yoseni Agapa. Dalam peristiwa yang sama seorang pelajar lainnya tangannya terpotong oleh benda tajam dan delapan anak lainnya mengalami luka-luka serius karean tindakan yang diduga dilakukan oleh aparat keamanan.
“Untuk itu kami meminta agar Jokowi tuntaskan masalah penembakan terhadap satu anak SMP pada 26 Juni 2015 yang dilakukan oleh aparat, di Ugapuga, Dogiyai. Juga tuntaskan masalah pembantaian terhadap empat siswa pada 8 Desember 2014 oleh aparat di Paniai,” tegas Donatus Douw, koordinator umum Solidaritas Mahasiswa Papua Peduli HAM di Tanah Papua kepada Jubi melalui surat elektonik yang diterima Jubi, Kamis (2/7/2015) dari Surabaya.
Solidaritas Mahasiswa Papua peduli HAM di Tanah Papua, lanjut Douw, telah melakukan demo damai untuk mendesak Jokowi menyelesaikan berbagai masalah di papua, terutama pembunuhan, dan peembakan yang dilakukan oleh aparat militer di Papua. Aksi tersebut dilakukan oleh mahasiswa di Kilo Meter Nol, Surabaya, 2 Juli 2015.
Dalam aksi ini para mahasiswa juga meminta agar segera menarik kembali para TNI/POLRI, serta anggota intelejen Indonesia yang bertugas di Papua karena tidak profesional dalam menjalankan tugas dan fungsi mereka.
Para mahasiswa Papua ini juga mendesak Jokowi agar segera menutup perusahaan asing yang beroperasi di tanah Papua seperti, PT. Freport Indonesia, MIGAS, MIFA dan lain-lain. Karena, semua yang hadir di tanah Papua adalah telah merampas hak hidup Orang Asli Papua. Jokowi pun diminta segera membuka ruang demokrasi bagai rakyat Papua, membuka ruang bagi jurnalis asing untuk meliput berita di tanah Papua serta memberikan kebebasan bagi rakyat Papua.
Sebelumnya mahasiswa Meepago meminta pihak Polda Papua melakukan investigasi ulang di lokasi penembakan yang mengakibatkan satu warga meninggal dunia dan tujuh lainnya terluka di Ugapuga, Distrik Kamu Timur, Kabupaten Dogiyai, Papua, Kamis (25/6/2015).
Permintaan tersebut terlontar lantaran ada pernyataan dari Kepolisian Polda Papua yang mengatakan pelaku penembakan terhadap Yoseni Agapa (15) di kilometer 220, Bakobado, Distrik Kamu Timur murni dilakukan oleh sekelompok Orang Tidak Dikenal (OTK).
“Hasil identifikasi yang dilakukan pada 25 Juni oleh Polda Papua sudah keliru. Karena penembakan itu dilakukan oleh aparat keamanan yang belum diketahui identitasnya. Hal itu terbukti dari selongsong peluru yang ada di tempat kejadian,” kata Natalis Gouw, di Jayapura, Selasa (30/6/2015).
Pihak Kepolisian Daerah Papua melalui pernyataannya Selasa (30/6/2015), mengatakan pengungkapan pelaku penembakan ini butuh waktu dan proses.
“Masih diselidiki. Kesimpulan sementara, pelaku ada Orang Tak Dikenal (OTK). Mengungkap pelaku penembakan itu tak semudah yang dibayangkan. Butuh proses,” kata Kabid Humas Polda Papua, Komisaris Besar (Pol) Patrige Renwarin.
Polisi juga belum bisa memastikan jenis proyektil yang bersarang di tubuh korban meninggal dunia, Yoseni Agapa. Katanya, dibutuhkan otopsi untuk mengetahui jenis proyektil itu.
“Begitu juga selongsong peluru di lokasi dibutuhkan uji forensik untuk memastikannya. Bisa saja selongsong peluru itu berbeda dengan yang ditembakkan. Tapi belum bisa dilakukan uji forensik dan balistik terhadap selongsong itu kalau tak ada proyektil,” ucap Patrige. (Arnold Belau)

Sumber :www.tabloidjubi.com

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.