Kasus BTN Organda, Kriminal Terselubung Pelanggaran HAM

6:52:00 PM
Jayapura, Jubi – Kasus Pembunuhan Fredrik Lasamahu dan Simon Sahuleka warga Organda, Pembakaran Rumah Warga di perumahan Organda, Hedam, Abepura, Kota Jayapura, Papua, pada (9/6/2015) dan penikaman dua warga, Tonny Yelipele dan Hendrik Iyai, saat arak-arak pemakaman korban BTN Organda pada (10/6/2015) itu kriminal murni tetapi kejadian disela-sela kehadiran aparat keamanan Negara menjadikan kasus itu ada unsur pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
“Telah terjadi Pelanggaran HAM. Pelanggaran atas hak hidup, hak atas kebebasan dari penyiksaan yang tak manusiawi, hak atas pemperoleh keadilan, pengusiran paksa terhadap warga yang tidak tahu menahu persoalan. Pelanggaran HAM secara tidak langsung yang terjadi,”kata Elias Petege, aktivis Hak Asasi Manusia, dari Nasional Papua Solidarity (NAPAS), di Abepura, kota Jayapura, Papua, Senin (15/6).
Pelanggaran HAM atas hak hidup itu terjadi secara tidak langsung lantaran aparat keamanan Negara yang hadir di tegah masyarakat, terutama pihak kepolisian saat kejadian dan sebelum kejadian terkesan pembiaran terhadap tindakan-tindakan warga yang menghilangkan hak hidup warga yang lain, yang juga warga negara. Warga bertindak tanpa ada tindakan perlindungan kepolsian sebagai pelindung rakyat.
Pembiaran itu terungkap dalam penelusuran Jubi peristiwa-peristiwa sebelum, saat dan setelah kejadian Organda. Penelusuran Jubi, sebelum kejadian, warga BTN Organda sudah merasa tidak nyaman sejak tahun 2010 lalu. Warga yang tidak nyaman meminta kepolisian mendirikan post permanen di wilayah itu, seperti di Perumnas III dan Skyline, namun permintaan warga tidak ditangapi secara serius hingga korban berjatuhan.
“Ada post tetapi itu hanya satu anggota polisi yang bertugas dengan tanggungjawab warga BTN Organda. Polisi itu pun ditarik ke kesatuan jadi selama itu tidak ada yang melakukan keamanan. Kasus kemarin kira-kira akumulasi. Boleh dibilang peristiwa kemarin itu kelalaian polisi,”kata Ferry Marisan, direktur Elsaham Jayapura, di ruang kerjanya, Selasa (16/6/2015).
Kata warga setempat, tujuh jam sebelum peristiwa, Senin (8/6/2015) malam hingga subuh, Selasa (9/6/2015), ada sekolompok orang pemuda menjalankan aksi pencurian motor sekitar kampus Universitas Cenderawasih Abepura dari pukul 3:00 WIT subuh hingga 5:00 WIT. Aksi mereka berhasil membawa kabur satu motor dari seorang mahasiswa. Mahasiswa pemilik motor tidak bisa mengatasi pencurian motornya lantaran para pencuri yang berkelompok, dan semuanya dirasuki minuman beralkohol itu mengancam akan membunuh korban.
“Cara mereka mencuri itu aneh. Mereka mabuk, ribut-ribut, jalan rombongan. Mereka minta korban kunci motor sambil ancam. Korban tidak bisa mengelaknya dan menyerahkan motor. Pemiliknya membuntuti dari belakang sampai ke  BTN Organda. Sampai di BTN Organda, pemilik motor pun di ancam. Dia lari dari ancaman pembunuhan,”kata salah satu mahasiswa, rekan korban yang tidak mau dimediakan nama dalam pemberitaan ini.
Pemilik yang sudah megetahui motor curian menghubunggi Polsek Abepura. Polsek tidak mau mengambil resiko dengan kekuatan personil yang ada. Polsek menghubunggi kepolisian Resort Kota Jayapura yang mendatanggi tempat penimbunan motor curian. Tanpa tanya, Polisi berhasil mengamankan motor. Polisi melakukan itu tanpa memikirkan aksi setelah motor diamankan terhadap warga setempat.
Setelah polisi membawa motor, ada dua orang mendatangi rumah Fredrik Lasamahu, suami dari ibu guru Ansaka yang juga ketua RT 02/RW04 sekitar pukul 13:00 dalam keadaan dirasuki alkohol. Saat peristiwa itu, isteri korban Lasamahu, ibu Ansaka guru bahasa Inggris sedang berangkat ke Ambon. Mereka menduga RT yang melaporkan kasus ke polisi sehingga polisi datang mengamankan sejumlah motor yang dididuga hasil curian itu. Dua orang itu adu mulut dengan Fredrik Lasamahu. Pertengkaran yang terus menerus meningkat menjadi pembacokan dan pembunuhan terhadap Fredrik Lasamahu .
“Saat itu semua orang ke kantor. Yang ada di rumah-rumah itu ibu-ibu dan anak-anak. Saya datang mau amankan tidak bisa. Saya pun diancam dibunuh. Saya tahan mereka tetapi mereka bilang saya :‘Saya bunuh kaka atau kaka tidak menghalanggi saya’. Saya pikir mereka mau melakukan aksi namun itu setelah membunuh RT,”kata saksi mata di lokasi kejadian.
Pemuda yang mengamuk itu, menurut saksi tidak bisa dimintai keterangan. Mereka sudah tidak mengendalikan emosi. Emosi mereka sudah meluap-luap, kait-kaitkan dengan masalah-masalah sebelumnya. Orang yang hendak menolong korban pun menjadi korban. “Keponakan RT, Simon Sahuleka yang menjadi korban itu pun saat hendak membela, bawa tombak namun dia satu orang berhadapan dengan dua jadi dia pun jadi korban,”katanya.
Warga sekitar ada yang menghubunggi polisi setelah melihat kejadian namun polisi tiba di lokasi terlambat. Kata warga, Polsek Abepura yang dihubunggi tidak bisa cepat karena alasan kekurangan personil dan kendaraan. Mereka masih menghubunggi Polresta Jayapura yang datang ke lokasi. “Polisi dari Polresta Jayapura datang terlambat. Polisi tiba satu jam setelah kejadian,”kata salah seorang saksi di lokasi kejadian.
Polisi datang ke lokasi setelah pembunuhan RT tidak membatasi warga melakukan pembakaran rumah-rumah warga yang diduga pelaku pembunuhan. Polisi malah membiarkan warga BTN Organda yang emosi dengan pembunuhan RT melakukan pembakaran rumah warga yang mereka duga pelaku. “Polisi bukan hadir mengamankan situasi melainkan terkesan back up pembakaran rumah. Ada 15 rumah dibakar. Hari pertama 10 rumah dan hari kedua 5 rumah, dan 7 unit motor turut terbakar,”kata seorang warga.
Kemudian, satu hari setelah peristiwa, Rabu (10/6), terjadi penikaman terhadap dua warga saat arak-arakan pemakaman korban Organda. Warga yang berarak-arakan menuju pemakanan umum yang hendak memakamkan korban insiden Organda Abepura, Kota Jayapura, Papua, Selasa (9/6) melukai dua orang, atas nama Tonny Yelipele dan Hendrikus Iyai.
Korban pertama, Tonny Yelipele (32) warga Angkasa dibacok di lingkaran Abepura, depan Toko Sumber Makmur, pada pukul 16:00 WIT. Menurut isteri korban, Anni Asso, saat kejadian berada di lokasi, suami bersama putra mereka menanti adik ipar perempuan hendak menyerahkan uang jajan. Saat menantikan adik ipar itu, ada arak-arakan pemakaman. Korban hendak menyaksikan namun bertemu dengan warga yang emosial dan brutal itu.
“Saat semua orang lari, saya bawa anak juga lari. Kami kembali ke tempat setelah situasi aman, tidak ada bapa. Kami pikir bapa lari. Kami tunggu-tunggu tidak muncul. Situasi tidak aman jadi kami ke Kota Raja, menanti bapa pulang. Malah berita bapa di rumah sakit yang kami dapat dari dokter,”kata Asso di rumah sakit Umum Abepura, Kamis (11/6/2015).
Korban kedua, Hendrikus Iyai (24) mahasiswa sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Umel Mandiri, Abepura, semester delapan, menjadi korban saat menyelamatkan diri ketika asrama Nabire, Kamkey, di serang sekelompok warga bersama sejumlah aparat keamanan, pukul 17:30. Korban kena satu tusukan senjata tajam di punggung.
Seorang saksi mata mengatakan, arak-arakan pemakaman sebelum penikaman diatur rapi. Jarak warga yang mengatar jenazah dari rumah duka di BTN Organda ke pemakaman umum Kristen tanah hitam sangat jauh dari sekelompok pria, yang nampak rencana jahat mengendari motor, sambil gas-gas motor, membawa alat tajam, berjalan 500 meter jaraknya dari mobil Ambulance, arak-arakan jenazah.
“Ambulance pengara jenazah masih di USTJ, sejumlah pria mengunakan motor kepala diikat kain merah, membawa dua motor membawa mendera hitam dan merah di depan. Mereka sudah di depan UNCEN. Di depan mereka ada motor patroli Polisi. Jarak antara mereka dan warga pengar Jenaza cukup jauh. Mereka yang didepan ini ketemu dengan warga di jalanan. Tonny Yelipele salah satu yang mereka ketemu. Sebelum Tonny, sebenarnya saya yang korban pertama tetapi saya selamat karena saya menghindari setelah melihat situasi itu di depan gapura UNCEN,”kata seorang saksi mata.
Selama beberapamenit kemudian, korbankan Hendrikus Iyai. Menurut saksi mata, penghuni Asrama Nabire, satu jam sebelum kejadian, ada seorang mengunakan seragam polisi datang memberitahu kalau situasi tidak aman. Ia meminta penghuni Asrama kunci pagar Asrama. Warga yang brutal itu pun mendatanggi Asrama Nabire.
“Polisi itu datang memberitahu kami anak-anak tidak boleh keluar pada pukul 4:30. Situasi tidak aman. Kamu kunci pintu pagar lalu tinggal. Kami minta nomor, dia tidak mau memberikan nomor. Kami tidak pernah lihat dan dia pergi,”kata Y. Tiggi.
Penghuni Asrama turuti pemberitahuan. Mereka segera mengunci pintu pagar dan tinggal di dalam. Ada yang terus berolah raga dan ada yang sibuk menyelesaikan sejumlah tugas kuliah. Tugas akhir kuliah, skripsi. Satu jam setelah pemberitahuan, sejumlah orang datang meneror penghuni Asrama.
“Pukul 17:30 WIT dua orang kepala ikat kain merah, bawa parang. Kami lihat hulu parang mereka gantung di belakang. Ada satu pakaian TNI dan ada beberapa polisi kawal mereka. Mereka teriak bunuh-bunuh. Kami panik menyelamatkan diri lompat pagar di belakang Asrama. Hendrikus lari terakhir jadi dia yang ketemu mereka yang ke belakang,”kata D. Dogomo.
Direktur ELSHAM Jayapura, Ferry Marisan mengatakan, ada unsur pembiaran terhadap rentetan kasus di BTN Organda. Polisi tidak mengantisipasi kasus-kasus kriminal, terkesan membiarkan warga bertindak main hakim sendiri ketika merasa menjadi korban. “Banyak orang bilang ada pembiaran. Sepertinya ada pembiaran terhadap kelompok korban bebas melakukan aksinya,”tegas Marisan.
Kata Marisan, dengan alasan apapun, tidak boleh ada pembiaran terhadap siapapun yang melakukan tindakan yang berlebihan, tindakan yang melanggar hukum. Polisi yang ada dilokasi harus antisipasi supaya tidak ada yang menjadi korban akibat kelalaian saja. “Polisi kawal orang bawa alat tajam kemarin saat pemakaman itu seharusnya tidak boleh terjadi. Akibatnya mengorbankan dua orang yang tidak tahu persoalan menjadi korban akibat cara pandang semua orang gunung pelaku. Untung saja korban tidak meninggal. Kalau meninggal,apa yang terjadi nanti?,”ungkap Marisan.
Peristiwa penikaman dalam arak-arakan kemarin sangat aneh, menurut Marisan, karena polisi terkesan tidak tegas. Orang demo damai tanpa mengancam siapapun dengan alat tajam saja sudah bertindak tegas tetapi kemarin itu orang bawa alat tajam di depan mayat, tetapi polisi membiarkannya. Polisi malah melakukan pengawalan terhadap orang yang bawa alat tajam bebas bergerak. “Peristiwa ini akibat kelalaian polisi,”tegasnya. (Mawel Benny)

Share this

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !

Related Posts

Previous
Next Post »