Berita

Bebaskan Pers Asing Meliput di Papua, Jokowi Dianggap Reaktif

Jakarta - Pernyataan Presiden Joko Widodo yang mencabut syarat ketat pers asing melakukan kegiatan jurnalistik di Papua, dinilai sebagai sikap reaktif. Menurut Anggota Komisi I DPR Sukamta, tindakan tersebut hanya merespons desakan dunia internasional atas ditangkapnya dua jurnalis Prancis, Thomas Dandois dan Valentine Bourrat, di Wamena, Papua, karena menyalahi izin tinggal. 
"Pendekatan yang dilakukan Jokowi adalah pendekatan reaktif bukan substantif ," kata Sukamta melalui keterangan tertulisnya, Kamis (14/5/2015). 
Sukamta menambahkan, pemerintah selama ini sering membuat kebijakan reaktif, termasuk dengan menangani pemberitaan asing tentang Papua.
Anggota DPR yang fokus pada isu pertahanan, intelijen, luar negeri dan kominfo ini, mendesak Presiden Jokowi untuk lebih mementingkan kesejahteraan masyarakat Papua terlebih dahulu. "Jika pendekatan kesejahteraan ini berhasil dibangun di Papua, baru pers asing boleh meliput sebebas-bebasnya di Papua," tambah politisi Partai Keadilan Sejahtera ini. 
Dia pun mengingatkan Jokowi, tidak ada jaminan jika pers asing masuk ke Papua akan memberikan kabar positif tentang Indonesia dan melakukan pemberitaan secara cover both side sesuai dengan etika jurnalistik. 
"Sederhananya, jika saat masih dibatasi saja, banyak berita asing yang melanggar prinsip-prinsip jurnalisme dan menyudutkan Indonesia di mata dunia, apalagi jika dibebaskan sebebas-bebasnya," tegasnya. 
Sukamta juga mengingatkan Jokowi bahwa Indonesia pernah  melepas Timor-Timur. Saat ini, hal tersebut, bisa saja terjadi kepada masyarakat Papua untuk melakukan referendum jika pers asing dibiarkan masuk. "Kalau presiden sipil dahulu melepas Timor Timur, jangan sampai presiden sipil yang sekarang juga "melepas" Papua," ucapnya.

Sumber : www.kompas.com

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.