Ararem, Tradisi Antar Mas Kawin Suku Byak

Antar mas kawin suku Byak (Jubi/dok)
Jayapura, Jubi- Sejak dulu tak ada aturan adat yang membenarkan keluarga laki-laki mengantar mas kawin memakai bendera nasional. Cukup memakai daun-daun dan memegang barang-barang yang telah disepakati untuk membayar mas kawin. Hanya saja jaman berubah dan nilai mas kawin bukan sekadar memperat ikatan kekerabatan antar dua klen. Tapi transaksi jual beli, tak heran kalau ada lagu yang bilang dari pirian antik sampai motor tempel hingga akhirnya menyinggung buldoser.

Masyarakat suku Biak masih mempertahankan budaya mengantar mas kawin dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Walau banyak terjadi perubahan nilai dalam budaya namun sampai sekarang masyarakat Byak masih memegang kuat tradisi pembayaran mas kawin atau ararem.

Araraem atau membayar mas kawin dari seorang pria calon suami kepada keluarga calon istri yang diantar secara adat. Keluarga yang membayar mas kawin kepada calon keluarga istrinya melakukan arak-arakan dengan iringan musik dan wor.

Sesuai tradisi Suku Biak, besarnya mas kawin (ararem) telah ditentukan oleh kedua belah pihak baik keluarga perempuan terutama kesepakatan besarnya antara sanak keluarga. Tidak benar kalau pembayaran mas kawin ditentukan sesuai kemauan tetapi telah disepakati bersama oleh kedua belah pihak yakni keluarga perempuan dan pihak keluarga pria.

Usai kesepakatan pembayaran mas kawin atau ararem barulah dilakukan, Munara Yakyaker (Upacara Pengiringan) selama tujuh hari dan tujuh malam. Kedua calon pengantin diawasi dalam rumah keluarga masing-masing dan setelah itu pengantin wanita diiring dengan suatu arak-arakan tari dan lagu yang disebut “wor” ke rumah pengantin pria, dan di sana dilangsungkan upacara pengukuhan tanda sahnya perkawinan.

Arak-arakan peserta upacara penyerahan maskawin terbagi dalam dua bagian antara lain. Bagian pertama untuk me dan mebin atau keluarga om/tante/famili berada dalam satu barisan tersendiri yang bertanggung jawab menyerahkan bagian dari mas kawin yang disebut “Abobes Kapar” (Lepas pendong) kepada ibu kandung dan anak perempuan (Calon nikah). Atau biasa juga disebut uang susu atau mas kawin lepas susu kepada anak perempuan.Jadi mas kawin ini ditujukan untuk mama atau ibu dari pihak perempuan.

Bagian dua adalah mas kawin Baken atau Inti berada dalam keret atau klen utama pihak perempuan dari marga atau fam yang terkait hubungan kekerabatan.Sebelum pembayaran mas kawin biasanya didahului dengan peminangan setelah peminangan barulah ada kesepakatan antara kedua belah pihak untuk mengantar mas kawin atau ararem kepada keluarga perempuan. (Dominggus Mampioper)

Sumber : www.tabloidjubi.com
Share:

Search This Blog

Support

Facebook