Berita

Suh Korok Kepada Keluarga Laki-laki

Suh erat hubungannya dengan kaum perempuan.(Jubi/ist)
Jayapura, Jubi- Mama merajut Su atau Noken semenjak bayinya masih dalam kandungan sang mama. Masyarakat Wamena masih mengganggap tidak tahu malu dan tidak tahu adat jika menjenguk bayi tanpa membekali hadiah sebuah noken. Ini sebuah tradisi yang sudah ditanamkan sejak moyang yang artinya seorang bayi yang baru lahir dengan polos dan tanpa busana ini harus dibungkus dalam noken, sebagai tempat tidur, dan untuk digendong oleh sang ibu saat beraktivitas. Ketika masyarakat mendengar kabar jika keluarganya yang sedang hamil dan telah melahirkan, mereka akan menjenguk sambil membawa Suh atau Noken yang telah disiapkan sebelumnya.
Su yang disumbang kelurga ini jumlahnya bisa mencapai 50 hingga 100 noken. Bahkan lebih tergantung jumlah keluarga sang ayah dan ibu dari bayi baru lahir tersebut.
Lalu apa yang akan dilakukan setelah noken-noken ini terkumpul? Tentu akan digunakan untuk menggendong si bayi . Tapi sebelumnya sebagian dari Su ini akan diserahkan kepada keluarga bapak dari sang bayi yang oleh masyarakat Wamena menyebutnya suh korok.

Korok (melepaskan dari gantungan) artinya melepas Su dari gantungan dan menyerahkan kepada keluarga sang ayah dari si bayi, sebagai bentuk melepaskan beban. Korok harus diserahkan kepada keluarga ayah bayi baru lahir tersebut tidak meneruskan marga atau fam kelurga perempuan, melainkan keluarga laiki-laki sehingga Korok harus diserahkan kepada pihak laki-laki.
Setelah sebagaian dari noken atau suh tersebut dibagi sebagai Korok kepada keluarga Selebihnya su yang telah disumbang keluarga digunakan sebagai tempat untuk mengisi atau menggendong bayi.
Tradisi mengisi bayi kedalam noken atau suh tidak serta merta mengisi bayi tersebut kedalam noken tapi di sini ada juga aturannya tersendiri.
Su yang terkumpul tersebut selanjutnya akan dibagi menjadi tiga bagian untuk mengisi bayi, masing-masing “Aleka, A Su” (tempat isi bayi), “salek” penutup Lapisan ke dua dan “Asu Lakulik” atau penutup paling luar. Ketiga lapisan ini masing-masing akan disisipkan empat lembar Su.

Empat noken pada lapisan pertama atau yang disebut dengan Aleka Su . Asu akan disatukan dan diikat sebagai tempat untuk mengisi bayi. Sebelum memasukan bayi pada bagian ini, dahulu sebelum adanya pemerintah akan disi daun pisang dan beberapa daun lain sebagai alas. Namun diera sekarang, lapisan ini akan dimasukan kain dan bantal menggantikan daun pisang tersebut.
Sementara empat noken lainnya dilapisan kedua yang disebut Salek sama halnya dengan Aleka Su. Bagian ini juga akan diikat jadi satu, tapi salek tidak bisa mengisi bayi, karena empat lembar. Noken tadi bukan disatukan layaknya empat su pertama melainkan disusun.
Selanjutnya lapisan paling luar adalah Suh Lakulik. Bagian ini yang biasanya harus pilih Su atau noken yang warnanya menarik, bagian paling luar ini tidak bisa dipasang sembarang noken. Biasanya akan dipilih oleh para ibuh yang suda cukup berpengalaman untuk menentukan warna maupun kualitas dari noken tersebut,
Setelah dipilih empat noken, sama halnya lapisan pertama dan ke-dua, Lapisan ini juga akan diikat jadi satu. Tapi cara mengikatnya tidak seperti lapisan-lapisan sebelumnya. Caranya setiap pegangan dari ke-4 noken tersebut akan dililit jadi satu sampe tidak kelihat bagian pangkal bawa sehingga orang awam akan sulit membedahkan bagian pangkal dan ujung atau pegangan dari Noken tersebut.

Dalam penggunaannya lapisan ini sewaktu-waktu bisa dirubah –penampilan luarnya. Dalam hal ini dari empat noken pada lapisan ke-tiga tersebut sang ibu dari si bayi sewaktu- waktu bisa gonta-ganti noken dengan warna yang berbeda setiap saat, jika ingin menggantinya.
Setelah semua tahapan ini dilalui, selanjutnya si bayi baru lahir akan di isi kedalam Suh atau Noken sebagai tempat tidur tetapi juga sebagai tempat gendong saat sang ibunya beraktivitas. Cara menggendongnya bukan di lengan sebagaimana penggunaan tas modern melainkan di kepala. Dari kepala posisi noken menggantung ke bagian belakang dan posisi bayi persis di bagian punggung ibunya.
Meski saat ini masyarakat tidak lagi merajut noken/suh dari bahan alami (kulit beberapa jenis kayu) melainkan noken yang dirajut dari benang modern. Tapi tradisi ini masih berlaku bagi masyarakat Dani di Lembah baliem – Wamena. Keluarga akan marah jika seorang ibu yang menggendong anaknya tidak dengan Noken/ Su. Naik Motor pun mama di Wamena tetap menggantung Suh yang berisi bayi di kepala menggantung ke bagian punggung(Ronny Hisage/Selesai)
Sumber : www.tabloidjubi.com

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.