search tickets in here

Korban Penyiksaan Minta Anggota Brimob Diproses Hukum


Jayapura, Jubi – Lis Tabuni, keluarga korban dari dua dua mahasiswa, satu pelajar dan satu pemuda yang diduga  dianiaya oleh anggota Brimob hingga babak belur di Pasar Cigombong, Kotaraja Dalam mengatakan kasus yang menimpa adik-adiknya itu harus diproses secara hukum. Supaya keluarga korban mendapat keadilan.

“Kami keluarga korban minta supaya kasus ini tetap diproses. Karena kami ingin tahu, alasan paling mendasar anggota Brimob melakukan penganiayaan terhadap adik-adik saya itu apa. Selain itu kami juga ingin agar pelakunya segera diungkap,” kata Lis Tabuni saat dihubungi Jubi melalui telepon genggamnya, Minggu (29/3/2015).

Kata dia, kami ingin kasus ini diproses. Karena adik-adiknya tidak tahu menahu apapu yang terjadi sebelumnya. Lalu aparat menghadang mereka di jalan dan langsung melakukan penganiayaan. Sehingga kasus tersebut harus diproses supaya aparat tidak kebal hukum.

“Kami ingin sampaikan bahwa, hingga saat ini pimpinan brimob maupun dari pihak Propam Polda Papua tidak ada respon tentang kasus ini. Padahal kami sudah melaporkan. Dan untuk mencari tahu pelakunya itu sangat mudah. Ini terkesan seperti kasad Brimob Polda Papua maupun Kapolda Papua melindungi bawahannya,” kata Tabuni.

Sementara itu, Olga Hamadi, pengacara kasus penganiayaan yang diduga  dilakukan oleh anggota Brimob di Kotaraja dalam sudah dilaporkan kepada Propam Polda Papua. Tetapi hingga saat ini belum ada respon.

“Kami juga ingin kasus ini tetap dilanjutkan. Tetapi hingga saat ini tidak ada tanggapan dari laporan yang sudah pernah kami masukan ke Propam Polda Papua. Tetapi bagaimana pun caranya, kami akan tempuh langkah apa saja. Karena kalau dibiarkan aparat akan melakukan tindakan-tindakan brutal semaunya,” katanya kepada Jubi di Waena, Sabtu (28/3/2015).

Kata Olga, baik dari Kasat Brimob Polda Papua maupun dari pihak Polda Papua belum ada respon. Untuk tindak lanjut kasus ini, pihaknya menuggu respon dari kedua pihak terkait.

Seperti diberitakan Jubi sebelumnya, pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh anggota Brimob dua jam setelah terjadi perkelahian antara anggota Brimob dan masyarakat di Mal Ramayana. Dan keempat anak ini adalah korban salah sangka. Karena anak-anak tersebut berasal dari gunung maka angggota Brimob mengira mereka juga merupakan bagian dari masyarakat yang tadinya berkelahi dengan anggota Brimob.

Akibat dari pengeroyokan itu, Eldi Kogoya (18) mengalami tulang rusuk retak dan luka memar di belakang tubuh akibat diseret di aspal jalan dan kedua lutut lecet.

Timotius Tabuni (18) mengalami gigi bagian depan satu lepas dan satunya retak. Selain itu kepala luka bocor, bagian belakang badan tergores karena ditikam dengan pisau sangkur, muka lebam, dan lecet akibat pukulan, mulut luka dan kedua lutut lecet.

Lesman Jigibalom (23) ditusuk dengan pisau sangkur dibagian bahu kanan, sampai paru-paru kana bocor dan luka memar di seluruh tubuh. Lesman dioperasi pada 19 Maret karena paru-paru bocor akibat ditusuk dengan pisau. Dan Lesman masih kritis dan sedang mendapat perawatan di rumah sakit Bhayangkara.

Mies Tabo (14) luka memar di kepala bagian depan, belakang, pundak kiri dan kanan akibat diseret di jalan aspal. Dahi lecet dan lutut kiri maupun kanan juga lecet.

Untuk diketahui, Lesman Jigibalom (23) ditusuk dengan pisau sangkur dibagian bahu kanan, sampai paru-paru kana bocor, telah pulang dari rumah sakit pada hari Kamis pekan kemarin setelah menjalani operasi. (Jubi/Arnold Belau)

Post a Comment