search tickets in here

FIM: Ada Upaya Oknum Tertentu Untuk Menggagalkan Investigasi Kasus Paniai

Meleanus Duwitau, Koordinator FIM (kanan) dan Dani Yogi (kiri) saat jumpa pers di Abepura, 24/2/2015. Jubi/Arnold Belau
Meleanus Duwitau, Koordinator FIM (kanan) dan 
Dani Yogi (kiri) saat jumpa pers di Abepura, 24/2/2015. Jubi/Arnold Belau
Jayapura, Jubi – Meleanus Duwitau, Koordinator Forum Independen Mahasiswa (FIM) mengatakan, FIM menilai ada oknum-oknum tertentu yang sedang bermain untuk menggagalkan investigasi dan penyelidikan terhadap kasus Paniai berdarah yang terjadi pada 8 Desember 2014 lalu yang menewaskan empat siswa SMA di Enarotali, Paniai, Papua.
Setelah Komnas HAM tiba di Paniai utnuk mengambil data kasus penembakan empat pelajar, terjadi pembakaran gedung sekolah SMP YPPGI yang saat ini digunakan oleh dua sekolah lagi yakni SMK Yamewa dan STIKIP Touyemana. Ada delapan ruangan bagian atas tiga ruang belajar bagian bawah kantor SMP YPPGI Enarotali terbakar habis.
“Kami dari FIM justru pertanyakan kasus pembakaran sekolah ini. Apakah ada oknum-oknum tertentu untuk menakuti tim dari Komnas HAM dan masyarakat di kabupaten Paniai. Maka kami minta agar harus sadar dan kembali ke jalan benar,” ujar Duwitau kepada wartawan di Abepura, Selasa (24/2/2014).
Terkait pembakaran gedung itu, warga sudah melaporkan langsung ke kantor polisi yang jaraknya 150 meter dari TKP. Tapi polisi lambat datang ke TKP dan padamkan api. Sehingga SMA YPPGI Wissel Enarotali, masjid dan perumahan guru terselamatkan.
Dikatakan, publik perlu ketahui bahwa dua siswa atas nama Yulian Yeimo dan Simeon Degei yang ditembak mati di lapangan Karel Gobay pada 8 Desember 2014 adalah siswa SMA YPPGI.
FIM menilai, membakar sekolah itu sama saja dengan membakar masa depan generasi Mee agar tidak sekolah.
“Sekolah yang dibakar ini, SMP YPPGI, adalah sekolah tertua di Enarotali. Jadi kami kutuk orang yang bakar sekolah ini. Karena ada upaya untuk mematikan generasi penerus orang Mee yang sekolah di SMP YPPGI,” jelasnya.
Semnetara itu, Dani Yogi, anggota FIM mengatakan, orang Papua itu orang yang sangat menghargai gereja, gedung sekolah, dan gedung-gedung kesehatan. Maka itu kami minta agar polisi harus mengungkap kasus ini.
Maka, kata Dani, kepada Komnas HAM diminta untuk melakukan penyelidikan yang independen tanpa ada intervensi dari pihak lain.
“Kami minta harus berikan keadilan kepada rakyat di Paniai. Dan kami juga meminta agar dalam mengungkapkan kasus Paniai, tidak boleh mencederai hati rakyat yang menjadi korban terus. Karena kami orang Papua bukan binatang buruan,” tegas Dani. (Arnold Belau)


Post a Comment