Etai dan Pikhon

12:25:00 AM
Pikhon alat musik tradisional masyarakat pedalaman di Papua.Jubi-ist
Jayapura, Jubi- Etai adalah nyanyian yang biasa dilakukan pada perayaan adat upacara perkawainan, membangun honai baru atau membukan lahan berkebun. Walaupun etai seringkali dilakukan pada upacara pesta babi di masyarakat pedalaman Papua khususnya di Lembah Baliem.
Etai juga bisa dalam pengertian dansa atau menari sesungguhnya bagi orang-orang Hubula di Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya. Gerakan kaki dan hentakan sekedarnya tanpa formasi tetap. Mereka mengikuti irama yang berjalan lambat dan suara yang melengking tinggi.
Etai jaman sekarang disesuaikan dengan perkembangan jaman dan perubahan-perubahan budaya di tanah Papua termasuk Lembah Baliem. Etai yang sering dinyanyikan anak-anak sekolah merupakan perubahan dan perkembangan terkini.

Naosa nopase hipere abue
Nite sekolah welagosik hipiri abue
Naosa nopase hipere abue
Nite suesika welagosik hipere abue

Terjemahan :

Bapa mama saya sekarang lapar
Kami baru pulang sekolah jadi kami lapar, siapkan makanan
Mama bapa kami sekarang lapar
Kami baru pulang sekolah, jadi kami lapar, siapkan makanan.

Demikian terjemahan etai yang dinyanyikan anak-anak remaja sekarang yang dikutip Jubi dari buku Perspektif Budaya Papua, editor Dr A E Dumatubun, MA.

Selain etai atau nyanyian masyarakat juga punya peralatan musik yang dalam masyarakat di Lembah Balien di sebuat Pikhon atau Pighon. Sedangkan masyarakat di Migani menyebutnya Mbigi dan orang-orang Amungme menamakannya Pugul.Orang-orang Mee di Paniai menamakan kaido.
Kaido atau pikon adalah alat musik tradisional dan khas dari suku-suku bangsa di pedalaman Tanah Papua sampai di Papua New Guinea (PNG). Alat musik ini terbuat dari sejenis bambu halus (buluh) yang diiris tipis sedemikian rupa kemudian dan diberi benang anggrek.
Kaido atau pighon awalnya hanya untuk mengusir rasa penat dan capai usai bekerja membuka kebun dan untuk menghilangkan keletihan usai kerja keras. Nada-nada yang dihasilkan merupakan suara tiruan dari kicau burung.
Namun seirama dengan perkembangan peradaban suku-suku bangsa pedalaman Papua seperti Mee, Migani, Amungme, dan Dani, maka nada-nada dari alat musik inipun dapat diterjemahkan sesuai dengan suasana hati dalam kebudayaan-kebudayaan suku-suku bangsa tersebut.
Kaido atau pikon dalam bahasa Baliem (Dani Lembah) berasal dari kata pikonane. Pikonane berarti alat musik bunyi. Alat ini terbuat dari sejenis bambu yang beruas-ruas dan berongga bernama Hite. Pikon yang ditiup sambil menarik talinya ini hanya akan mengeluarkan nada-nada dasar, berupa do, mi dan sol.(Dominggus Mampioper)

Share this

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !

Related Posts

Previous
Next Post »