search tickets in here

Kasus Kekerasan Perempuan Tertinggi Terjadi di Papua

Ilustrasi -- Antara/Setianda Perdana
Jakarta - Kekerasan terhadap wanita masih terjadi di Indonesia. Kasus kekerasan ini paling sering terjadi di Papua.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise menyatakan jumlah kasus kekerasan terhadap wanita di Papua merupakan yang tertinggi di Indonesia. Tingginya konsumsi minuman keras (miras) di provinsi tersebut ditengarai sebagai akar maraknya kasus kekerasan di sana.

“Saya prihatin kasus kekerasan pada perempuan di Papua tinggi sekali. Pemda, gereja dan masjid harus bersama-sama menangani masalah ini,” ujar Yohana, usai mengunjungi Mesjid Agung Al-Falah dan GKI Immanuel, Nabire, Papua, Selasa (27/1/2015) petang lalu.

Mengutip data Komnas Perempuan pada 2013, rata-rata kasus kekerasan pada perempuan di Papua mencapai 1.360 kasus untuk setiap 10 ribu perempuan. Kebanyakan kekerasan terjadi dalam bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Yohana mengungkapkan, mayoritas kasus kekerasan pada perempuan didominasi oleh KDRT dengan prosentase 56%, kekerasan seksual (24%), perdagangan perempuan (18%) dan kasus lainnya (2%).

Hasil pertemuan dengan sejumlah pejabat di Jayapura dan Nabire, terungkap konsumsi miras menjadi salah satu penyebab tingginya kasus kekerasan di provinsi paling Timur Indonesia itu.

Bahkan untuk menekan tingkat kekerasan akibat miras, Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, melakukan sebuah langkah ekstrem. Jika ada orang mabuk di jalan, petugas menangkap dan merendamnya di kolam buaya agar mereka kapok.

Selain itu, wali kota telah membuka tempat pelaporan khusus untuk kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kantor Pemberdayaan Perempuan Kota Jayapura yang telah bekerja sama dengan kepolisian. “Tidak dipungut biaya untuk melapor,” terang Benhur.

Sementara itu, Wakil Bupati Nabire Mesak Magai mengungkapkan kekerasan biasanya kerap terjadi, usai mabuk-mabukan, laki-laki pulang ke rumah sambil marah-marah. Dia menambahkan, jika istri melakukan kesalahan sedikit, spontan suami yang mabuk langsung memukul atau menendang istri. Perilaku seperti ini, lanjut dia, menyebabkan dampak traumatis pada anak-anak. Pasalnya praktik kekerasan itu dilakukan di depan mata mereka.

Walau hampir semua pejabat yang ditemui menuding miras sebagai pemicu tingginnya kasus kekerasan di sana, Yohana meminta agar pemerintah terkait melakukan riset terlebih dahulu.

“Banyak yang bilang kekerasan pada perempuan di Papua tinggi karena miras, adat dan budaya. Tapi saya belum bisa bilang itu secara resmi, harus diteliti dulu,” kata dia.

Yohana juga berjanji akan memerintahkan jajarannya untuk turun ke desa-desa, menyambagi gereja dan mesjid untuk menyosialisasikan kampanye antikekerasan pada perempuan. Dia juga memeringatkan praktik kekerasan pada istri di rumah kini digolongkan dalam ranah pidana. Hal ini sesuai dengan amanah UU Nomor 23/2004 tentang pencegahan KDRT. BOB 


Post a Comment