Berita

Sekilas Tentang Tiga Komando Rakyat (TRIKORA)

Seruan Aksi AMP 
Tiga Komando Rakyat (TRIKORA), merupakan sebuah komando yang dikumandangkan oleh Ir. Soekarno (Presiden Pertama RI), pada tanggal 19 Desember 1961, di Alun-Alun Utara kota Yogyakarta, dengan tujuan untuk melakukan mobilisasi massa militer dan rakyat Indonesia, guna merebut secara paksa wilayah West Papua untuk bergabung menjadi bagian dari Republik Indonesia, padahal saat itu, West Papua baru saja mendeklarasikan Kemerdekaan pada tanggal 1 Desember 1961 (18 hari sebelum dikumandangkannya TRIKORA).
Upaya-upaya yang dilakukan oleh Indonesia, untuk merebut wilayah West Papua untuk menjadi bagian dari Republik Indonesia, sesungguhnya telah berlangsung pada saat pelaksanaan Konfrensi Meja Bundar (KMB), di Denhag Belanda, pada 19 Agustus 1949, dimana saat itu saat itu, kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, baru diakui oleh belanda, tetapi dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 sendiri, sesungguhnya sudah dengan tegas menjelaskan bahwa, wilayah Republik Indonesia hanya meliputi, Sabang - Amboina, tidak termaksud Papua. 
Belanda sendiri hanya mengakui  wilayah Indonesia adalah dari Sabang sampai Amboina, tidak termaksud Papua, sebab untuk wilayah Papua, memiliki sistem administratif yang terlepas (terpisah) dari sistem administratif yang diberlakukan Belanda dengan daerah-daeraha di Indonesia, sehingga meskipun dijajah oleh negara yang sama, hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk menjadikan Papua sebagai bagian dari wilayah Republik Indonesia.
Penolakan dimasukannya wilayah West Papua sebagai bagian dari Republik Indonesiapun dipertegas oleh Drs. Mohamad Hatta (Wapres RI Pertama), yang juga saat itu ditugaskan sebagai ketua delegasi Indonesia dalam sidang Konfrensi Meja Bundar di Denhag Belanda yang digelar pada tahun 1949, saat itu Drs. Mohamat Hatta dengan tegas menyatakan bahwa "Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 Hanyalah Diperuntukan Bagi Ras Melayu, Tidak Untuk Ras Melanesia, Untuk Itu Biarkanla Mereka (Papua) Menentukan Nasibnya Sendiri".
Mendengar pernyataan itu, Ir. Soekarno, yang egois dan angkuh, tetap bersikeras untuk memasukan Papua menjadi bagian dari, akhirnya perdebatan diantara internal Indonesiapun terjadi, melihat kondisi ini, Drs. Mohamad Hatta, menyatakan mengundurkan diri dari ketua delegasi Indonesia dalam konfrensi meja bundar saat itu. 
Karena tidak tercapainya kesepakatan antara kedua bela pihak (Belanda dan Indonesia) dalam Konfrensi Meja Bundar, terkait status West Papua, maka kedua bela pihak bersepakat untuk berunding terkait status West Papua, 1 Tahun mendatang (1950). Satu tahun kemudian, tepatnya pada bulan Desember 1950, West Papua dinyatakan memiliki hak Merdeka oleh PBB, namun Indonesia mencari akal dengan mendirikan Provinsi Irian Barat, pada Tahun 1956, dengan Soasiu di Pulau Tidore sebagai ibukotanya, hal ini menjadi pemicu konflik antara Indonesia dan Belanda atas Wilayah Papua.
Indonesia yang saat itu berada dibawah kepemimpinan Soekarno, yang tekenal egois dan angkuh, mulai melakukan berbagai macam upaya untuk merebut wilayah West Papua, yang sesungguhnya telah dinyatakan memiliki hak merdeka oleh PBB pada tahun 1950. Namun sikap angkuh dan malas tahu yang ditunjukan Soekarno ini, justru mendorong Soekarno mulai membangun komunikasi dengan berbagai negara, dan melakukan persiapan-persiapan militernya, guna merebut Wilayah Papua menjadi bagian dari RI.

Upaya Persiapan Militer : 
Indonesia berusaha melengkapi pertahanan militer dengan cara mencari bantuan senjata dari pihak asing. Awalnya Indonesia meminta bantuan Amerika Serikat, namun negara ini menolak dan bahkan tidak mendukung penyerahan Papua Barat ke tangan Indonesia. Saat itu Uni Sovyet bersedia memberikan bantuan dengan mengadakan perjanjian jual-beli senjata.
Upaya Diplomasi : 
Demi mendapatkan Papua Barat, Indonesia melakukan diplomasi ke berbagai negara-negara seperti Australia, India, Pakistan, Thailand, Selandia Baru, Britania Raya, Perancis, hingga Jerman. Indonesia berusaha melakukan pendekatan terhadap negara-negara tersebut agar mereka tidak mendukung Belanda apabila sewaktu-waktu perang Indonesia-Belanda pecah.
Melihat kondisi ini, pada tahun 1961, U Thant selaku Sekjen PBB meminta seorang diplomat Amerika Serikat bernama Ellsworth Bunker untuk mengajukan usul penyelesaian konflik Indonesia-Belanda. Saat itu Bunker pun memberi usulan agar Belanda secepatnya menyerahkan Papua pada Indonesia dalam jangka waktu 2 tahun.
Dalam kondisi ini, rakyat Papua tidak tinggal diam, rakyat Papua mengambi langkah cepat, dengan mendeklarasikan kemerdekaan West Papua pada tanggal 1 Desember 1961, dengan berlandaskan pada keputusan PBB pada bulan Desember 1950, yang dimana menegaskan bahwa Rakyat Papua berhak Merdeka dan menentukan Nasibnya Sendiri, sihingga hal ini dimanfaatkan oleh rakyat Papua, untuk mendeklarasikan Kemerdekaan pada 1 Desember 1961, sebab pada umumnya mayoritas Rakyat Papua tidak bersepakat untuk menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Dideklarasikannya Kemeredekaan West Papua pada 1 Desember 1961, seola-oleh menjadi pukulan yang berat bagi Ir. Soekarno yang angkuh, dimana Soekarno terlihat sangat marah dan dengan keinginan kuatnya untuk menguasai wilayah West Papua, maka untuk menggagalkan kemerdekaan West Papua, Soekarno mengumandangkan Tiga Komando Rakyat (TRIKORA), pada tanggal 19 Desember 1961, bertempat di Alun-Alun utara kota Yogyakarta, dimana TRIKORA ini sendiri terdiri dari : 
•    Gagalkan pembentukan "Negara Papua" bikinan Belanda kolonial
•    Kibarkan sang merah putih di Irian Barat tanah air Indonesia
•    Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan      bangsa
Setelah pencetusan Trikora, Presiden Soekarno membentuk Komando Mandala yang dipimpin oleh Mayjen Soeharto. Tugas Komando Mandala adalah merencanakan, mempersiapkan, serta menyelenggarakan operasi militer untuk merebut wilayah West Papua ke dalam kekuasaan Republik Indonesia.
Sejak saat itu, berbagai macam operasi militer mulai gencar dilakukan oleh Indonesia ke tanah Papua, sehingga perang antara Indonesa, Belanda dan Rakyat Papuapun tak terhindarkan, dalam perang ini, ribuan nyawa rakyat Papua harus melayang, hanya demi mempertahankan wilayah mereka, dari kerakusan dan keegoisan Indonesia, yang ingin menguasai West Papua.
Dengan melihat latar belakang sejarah dan ketentuan PBB pada bulan desember 1950, serta dengan berdasarkan pada luas wilayah Indonesia yang masuk dalam proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yang dimana tercatat bahwa West Papua adalah wilayah yang terpisah dari Republik Indonesia, maka sangat jelas bahwa TRIKORA yang dikumandangkan oleh Ir. Soekarno, pada tanggal 19 Desember 1961, adalah cacat hukum dan ilegal.[rk]

About Karoba News

Powered by Blogger.