Adat

Mber Uon, Pendidikan Adat Laki-laki Tambrau

Mber Uon, adalah pendidikan nilai-nilai budaya
khusus untuk kaum laki-laki suku Tambrauw (IST)
Jayapura, Jubi – Mber Uon  artinya mendidik dan memberi motivasi di dalam rumah adat selama beberapa tahun di dalam masyarakat adat Tambrauw, Papua Barat.  Pendidikan adat ini  adalah bentuk pendidikan tradisional  bagi para pemuda akil baliq masyarakat Tambrauw.  Pendidikan rumah adat,  di Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat sejak lama dilakukan turun temurun.
Mber Uon, adalah pendidikan nilai-nilai budaya khusus untuk kaum laki-laki, sedangkan untuk perempuan disebut Fenia Meroh. Materi-materi pelajaran yang diajarkan dalam rumah pendidikan adat meliputi nilai-nilai moral-etika, keterampilan, dogma adat, tabu-tabu adat, religiositas dan pendidikan karakter atau pembentukan mental.
Pelaksanaan pendidikan di dalam rumah  adat ini hanya bersifat tertutup di antara sesama masyarakat di sana saja. Pendidikan ini dilakukan sangat rahasia dan tidak boleh diketahui oleh orang-orang di kampung.Bahkan rumah adat untuk melaksanakan pendidikan tradisional ini pun dirahasiakan dan disembunyikan di tengah hutan rimba.
Pendidikan di rumah adat ini disesuaikan dengan jumlah pemuda  yang ingin ikut terutama anak-anak muda berusia akil baliq. Jika peserta yang ikut hanya satu atau dua pemuda pendidikan tetap berjalan.  “MberUon, artinya mendidik dan motivasi.
Jadi tradisi pendidikan rumah adat, peserta yang sudah masuk di bangku pendidikan itu berlangsung hanya dua tahun. Di samping itu jika mereka yang belum pernah masuk minimal bisa sampai empat tahun.
Peserta keluar dari kampung menuju rumah adat di hutan, dengan ketentuan memakai payung kampung biasanya disebut koba-koba. Tidak boleh ada suara, hanya memakai kode khusus, dengan itu hanya memakai kode khusus yang diberikan langsung, misalnya tepuk tangan, serta mengetuk kayu.
Letak Rumah Adat sangat jauh dari kampung, dengan demikian suasana dalam rumah adat benar-benar nyaman. Jauh dari keramaian tanpa ada yang ribut.

Peserta wajib berada dalam rumah adat dan menaati beberapa aturan selama berada pendidikan tidak diperkenankan untuk bertemu.bertatap muka dengan kaum perempuan. Peserta tidak diperkenankan mengkonsumsi daging secara umum, tambahan pula peserta di larang kembali ke kampung,dan juga peserta dilarang mengkonsumsi minuman yang memabukan.
Jika peserta melanggar semua aturan di atas, maka ada ganjaran yang akan diterima oleh pesrta secara langsung. Jika dengan sengaja melanggar ketentuan bisa mengalami celaka. Entah digigit babi hutan, atau jatuh dari pohon atau hanyut di sungai.
Pantangan dan larangan dimaksudkan adar peserta benar-benar bebas dari masalah duniawi sehingga peserta memiliki jiwa yang bersih, fokus mendengar motivasi yang disampaikan pembimbing di antara para gurunya. Kelak setelah keluar dari rumah adat ,tetap memiliki kemampuan-kemampuan tertentu yang tidak dimiliki masyarakat awam lainnya, di kampung tersebut.
Setelah menjalani pendidikan, peserta akan diarak keluar rumah adat, saat itulah peserta bebas bertemu dengan keluarga mereka. Keluarga mereka di rumah berpesta menyambut kepulangan anak-anak muda yang baru saja mengikuti pendidikan di rumah adat. Mama-mama akan menyambut mereka dengan berdansa dan menari-nari tarian adat khas masyarakat Tambrauw bertemu di tempat yang sudah disepakati. Anak-anak muda peserta pendidikan adat akan memakai atribut pakaian adat, begitupula keluarga mereka di kampung.
Saat ini tidak semua suku-suku tertentu di Papua dan Papua Barat sudah tidak lagi melaksanakan pendidikan adat di dalam rumah adat. Apalagi masuknya Injil dan program pembangunan menyebabkan pendidikan tradisional tersisih dan diabaikan.
Pakar antropolog Prof Dr Koentjaraningrat dalam buku Ritus Peralihan menyebutkan bahwa pendidikan ada di dalam rumah bujang adalah bentuk upacara inisiasi bagi kaum muda usia akil baliq dari dunia anak muda menuju orang dewasa. Upacara inisiasi ini penting bagi generasi muda untuk mewarisi pengetahuan lokal terutama berburu dan meramu sebelum masuk ke dalam dunia orang dewasa.
Alasan utama bagi Masyarakat Kabupaten Tambrauw, tetap melaksanakan Budaya Rumah Adat, agar masyarakat tetap menjaga nilai-nilai tradisional dan adat, agar tetap bertahan secara turun temurun. Hal ini penting agar budaya asli mereka tetap demi mempertahankan harga diri dan martabat masyarakat adat Tambrauw. (Sisahom)

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.