Adat

Peringati Hari Noken, Mahasiswi Peduli Noken Akan Adakan Seminar Tentang "NOKEN" Di Yogyakarta

Salah Satu Noken Hasil Rajutan Lena Daby
Yogyakarta (27/11/2014) - Noken merupakan sebutan dari tas tradisonal Masyarakan Adat Papua, yang dirajut oleh mama-mama Papua menggunakan benang dengan sedemikian rupa, hingga menjadi sebuah tas, yang dapat mengisi berbagai macam benda-benda kelengkapan individu, dalam aktivitas sehari-hari.
Dahulu kala, noken digunakan oleh sebagian besar Masyarakat Adat Papua, untuk mengisi berbagai macam hasil kebun, seperti sayuran, umbi-umbian dan bahkan digunakan untuk menimang anak-anak. Namun, seiring dengan perkembangannya, noken kini mulai dirajut dengan berbagai macam ukuran dan motif, sehingga, saat ini dapat kita jumpai berbagai macam noken dengan ukuran dan motif yang berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan pemilik noken dalam memanfaatkan noken tersebut.
Pada awalnya noken memang hanyalah sebuah tas yang dirajut oleh mama-mama Papua, untuk digunakan sebagai tas untuk mengangkut hasil kebun, dan bahkan menimang bayi, namun saat ini, noken telah menjadi salah satu tren tersendiri dalam dunia fasion di tanah Papua, khusus untuk kaum muda Papua saat ini. Bagi para kaum muda Papua, noken merupakan tas yang sangat praktis dan simple, sehingga selalu dijadikan sebagai tas untuk mengisi berbagai perlengkapan kesehariannya, seperti perlengkapan belajar, kerja dan berbagai macam perlengkapan lainnya.
Ketertarikan orang dalam memiliki noken semakin tinggi, ketika noken berhasil didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan kebudayaan dunia dan pada 4 desember 2012, tidak hanya orang Papua, banya orang dari luar Papuapun saat ini tertarik untuk memiliki noken untuk dapat digunakan sebagai tas dalam keseharian mereka. Namun, seiring dengan meningkatnya jumlah peminat terhadap noken, hal ini tidak mampu disanggupi oleh mama-mama pengrajin/perajut noken, dikarenakan jumlah pengrajin/perajut noken semakin sedikit.
Dahulu membuat/merajut noken merupakan suatu ketrampilan dasar yang wajib dimiliki oleh setiap perempuan Papua, sebab dalam noken tertuang wujud kreatifitas dan ketenangan jiwa seorang peremuan PAPUA, yang memiliki makna yang luas dan mendalam. Namun, seiring termakannya perkembangan zaman, ketrampilan dalam merajut noken saat ini tidak lagi menjadi hal yang wajib dipelajari oleh perempuan Papua, sehingga menyebabkan jumlah pengrajin/perajut noken semakin sedikit. Situasi ini tentu sangat berbahaya, bagi keberlangsungan noken yang merupakan warisan budaya leluhur orang Papua.
Melihat kondisi yang sangat memprihatinkan bagi keberlangsungan noken ini, beberapa Mahasiswi Papua yang sedang menimbah ilmu di kota Yogyakarta, terdorong untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk mengajak para perempuan Papua, untuk kembali mencintai dan mempelajari cara menganyam/merajut noken, agar keberlangsungan noken akan tetap bertahan dan dapat dinikmati oleh para generasi berikutnya.
Untuk itu, beberapa mahasiswi Papua di Yogyakarta yang dikoordinir oleh Paskalena Daby, Sipora Soa dan Maria Baru, ini berencana mengadalan seminar terkait "NOKEN", sebagai awalan dari gerakan "Mencintai dan Melestarikan Noken Sebagai Warisan Budaya", yang rencananya akan diadakan dibawah payung Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA) DIY, pada tanggal 06 Desember 2014, bertempat di Aula Asrama Mahasiswa Papua "Kamasan I", dan akan dimulai pada pukul : 09:00 WIB - Selesai.
Paskalena Daby, ketika dihubungi terkait perencanaan pengadaan seminar ini, membenarkan informasi tersebut, "Iya benar, saya beserta beberapa kawan-kawan saya, berfikir untuk mengadakan seminar terkait noken pada tanggal 6 desember mendatang.  Sebenarnya seminar ini mau kami adakan pada tanggal 04 Desember, bertepatan dengan hari Noken se dunia, tetapi karena satu dan lain hal, sehingga seminar ini kami undurkan dua hari'. ungkap Daby
"Persoalan waktu yang kami undurkan dua hari, itu saya rasa bukanlah persoalan, yang penting adalah inti dan tujuan dari dilaksanakannya seminar tentang noken ini bisa tersampaikan. Untuk itu, kami mengundang semua kawan-kawan Mahasiswa/i Papua, khususnya Mahasiswi  yang ada di Yogyakarta dan peduli dan mau mempertahankan keberlangsungan noken, untuk dapat hadir dalam seminar yang akan kami adakan tanggal 06 mendatang." Sambung Daby.
Selanjutnya, Sipora Soa ditempat yang sama, mengatakan, "noken merupakan hal mendasar yang semestinya dan wajib diketahui dan dimengerti oleh seluruh individu perempuan Papua, sehingga kami harapkan, banyak teman-teman Mahasiswi yang dapat hadi dalam seminar besok. Selain itu, pada seminar besok, kawan-kawan diharapkan hadir dengan berbusana khas Papua, serta untuk tas yang dibawa, kami wajibkan agar menggunakan noken". tegas Sipora. [rk]

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.