Berita

33 Atase Pertahanan Negara Sahabat Kunjungi Papua

Asisten II Papua, Elia Loupatty (depan) Bersama Rombongan 33 Atase Pertahanan Negara Sahabat, Selasa (28/10). Jubi/Alex
Jayapura, Jubi – 33 Atase Pertahanan Negara sahabat kunjungi Pemerintah Provinsi Papua. Kedatangan rombongan atase ke Papua adalah untuk mendengar langsung penjelasan mengenai kondisi yang ada di provinsi paling timur di Indonesia ini.
“Kunjungan teman-teman dari atase pertahanan ke Papua adalah untuk mengetahui kondisi Papua secara dekat. Pasalnya selama ini mereka hanya melihat melalui televisi saja,” kata Asisten II Papua, Elia Loupatty usai melakukan pertemuan di Kantor Gubernur Jayapura, Papua, Selasa (28/10).
Menurut Loupatty, dari 33 Atase Pertahanan yang datang, ada beberapa orang yang baru mengetahui kalau di Papua ada Otonomi Khusus (Otsus), dan keberadaan Majelis Rakyat Papua (MRP) serta kondisi cara pemilihan kepala daerah. Padahal ini sangat perlu bagi atase pertahanan.
“Salah satu dari mereka baru tahu dan mendengar kalau di Papua ada Otsus, MRP serta kondisi cara pemilihan kepala daerah. Namun setelah dijelaskan, pola pikir mereka cukup berubah,” katanya.
Selain itu, ujar Loupatty, dirinya juga menjelaskan soal keamanan yang ada di Papua. Dimana dirinya mempersilahkan para atase untuk mengetes dimalam hari atau setidak-tidaknya sejak tiba sampai hari ini rombongan merasa aman dan nyaman berada di Papua.
“Memang dari beberapa kalimat yang dikeluarkan para atase, seolah-olah apa yang di tonton melalui televisi sifatnya kurang enak, misalnya sering terjadi perang antar suku di Timika dan juga beberapa peristiwa lainnya. Seolah-olah kondisi Papua seperti itu. Namun setelah dijelaskan, pola pikir mereka cukup berubah,” kata Loupatty.
Selain soal keamanan, kata Loupatty, rombongan Atase Pertahanan juga menanyakan tentang perbedaan antara orang asli Papua dengan non asli Papua.
“Saya jelaskan tentang integrasi tahun 63 di Papau, lalu Pepera 69. Selanjutnya ada hal-hal yang sifatnya pergumulan rakyat Papua, sehingga pembangunan juga berlangsung sejak tahun 69. Akhirnya kami menempuh pada 2001 yang mana lahirnya Otsus. Mulai saat itulah terjadi percepatan penanganan pemberdayaan ekonomi, infrastruktur dan juga jantung Otsus ada di Pendidikan dan kesehatan,” katanya.
Selain itu, rombongan Atase Pertahanan juga mempertanyakan soal ilegal fishing. Dimana mereka menanyakan negara mana yang biasa melakukan hal itu, namun sebagai pemerintah provinsi, kami tidak bisa sebutkan karena itu ilegal.
“Saya hanya sampaikan, saat ini permasalahan ilegal fishing sudah terkendali. Hal itu dikarenakan peranan Angkatan Laut Papua-Indonesia sudah sangat baik di bindang kemaritiman,” kata Loupatty.
Ditempat yang sama. Kepala Badan Perbatasan dan Kerjasama Luar Negeri Papua, Suzana Wanggai mengatakan, kunjungan 33 Atase Pertahanan negara sahabat sama sekali tidak menyinggung soal masalah batas, tetapi lebih kepada kesejahteraan di daerah perbatasan.
“Saya pikir perbatasan ini mereka lihat sebagai satu tempat yang menarik untuk dikunjungi. Intinya, ketika orang mengunjungi Papua, khususnya Jayapura, belum lengkap kalau belum kunjungi perbatasan. Jadi tidak lebih daripada itu yang mereka tanyakan,” kata Suzana Wanggai. (Alexander Loen)

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.