Alam

Akibat Pemilu, Kunjungan Wisatawan Ke Puncak Cartenz Menurun

Puncak Gunung Cartenz (belantaraindonesia.org)
Jayapura, 18/7 (Jubi) – Salah satu pemilik hak ulayat Puncak Cartensz di wilayah Kabupaten Intan Jaya, Papua, Maximus Tipagau menyatakan, kunjungan wisatawan ke wilayah itu menurun sejak beberapa bulan terakhir.
“Penurunannya sekitar 30-40 persen. Itu sejak usai Pemilihan Legislatif (Pileg), 9 April lalu. Ini karena isu keamanan di Papua. Biasanya dalam satu bulan ada dua atau tiga grup wisatawan asing yang ke sana, tapi kini terkadang tinggal satu grup saja setiap bulannya. Satu grup biasanya sekitar 10-20 orang. Paling sedikit menimal lima orang,” kata Maximus Tipagau, Jumat (18/7).
Menurutnya, menurunnya kunjungan wisatawan asing dan domestik yang datang ke Cartensz tentu mempengaruhi pendapatan bagi warga setempat yang kesehariannya bekerja sebagai porter atau pengangkut barang para pendaki.
“Biaya angkut barang pendaki berkisar Rp.6-7 juta. Kebanyakan turis yang datang mendaki berasal dari Amerika Serikat, Eropa, Australia dan Asia. Kalau turis Asia bisa dihitung kedatangannya ke Cartensz,” ujarnya.
Namun dikatakan, selama ini belum ada keberpihakan pemerintah daerah Intan Jaya kepada masyarakat yang jadi potter juga objek pariwisata. Kata Maximus, harusnya ada kesadaran pemerintah setempat dalam pengembangan pariwista itu.
“Pendakian ke Puncak Cartensz bisa ditempuh dengan dua jalur, yakni lewat jalur Mimika dan Sugapa di Kabupaten Intan Jaya. Dana untuk pendakian ini berkisar Rp. 40 juta untuk wisatawan lokal dan Rp 100 juta bagi wisatawan asing. Kalau dari Sugapa, ditempuh dengan perjalanan kaki empat sampai lima. Jika dari Timika sekitar delapan jam dari areal PT Freeport Indonesia,” ujarnya.
Sebelumnya, areal Puncak Bale-Bale Gelapa atau Puncak Cartenz yang diganti namanya menjadi Puncak Tito. Pergantian nama itu menuai kritik dari berbagai kalangan.
Salah satu anak adat Suku Moni, Intan Jaya, Thomas Sondegau menyatakan penggantian nama itu tak tepat. Ia lebih sependapat jika pergantian nama itu menggunakan bahasa daerah setempat.
“Jangan pakai nama orang. Tidak tepat kalau diberi nama puncak Tito. Saya sendiri langsung berhubungan dengan dinas pariwisata tidak terima diberi nama puncak Tito. Gunung Cartenz itu punya namanya sendiri dalam bahasa daerah Moni yakni Bai Ngela artinya Batu Putih. Kalau bahasa Moni untuk es itu Jia Puya,” kata Thomas Sondegau kepada tabloidjubi.com kala itu. (Jubi/Arjuna)

About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.