Berita

Polda Papua Pelajari Putusan MA Yang Melepaskan Teddy John Nuntia

Kapolda Papua Irjen Tito Karnavian
Jakarta - Mahkamah Agung (MA) melepaskan terdakwa makar Teddy John Nuntia (38) yang tergabung dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM). Teddy dan gerombolannya ingin mendirikan Negara Republik Federal Papua Barat (NRFPB). Lalu, bagaimana sikap aparat keamanan setempat yang sudah bersusah payah melakukan operasi penyisiran gerakan separatis tersebut?

"Kita akan pelajari dulu putusannya dan koordinasi dengan Kejati Papua. Saya sendiri belum melihat secara komprehensif putusan itu," kata Kapolda Papua Irjen Tito Karnavian kepada detikcom, Senin (2/6/2014).

Polda Papua adalah salah satu institusi yang terlibat dalam operasi penangkapan Teddy John Nuntia, di Kampung Wabuanyar, Distrik Angkaisera, Papua Barat pada 29 Mei 2012 lalu. Saat itu tongkat komando dipegang oleh Irjen Bigman Lumban Tobing. Bersama TNI, dalam operasi gabungan itu didapati puluhan orang tengah mengikuti pelatihan militer dengan bendera Bintang Kejora berkibar di tengah lapangan.

Saat aparat melepaskan tembakan peringatan dan meminta menyerahkan diri, para anggota OPM tersebut malah kocar kacir masuk ke hutan. Adapun Teddy berhasil diamankan petugas saat itu.

Bila diamati sekilas, kata Tito, MA tidak menghilangkan pasal makar yang ditimpakan penuntut kepada terdakwa. Namun lebih kepada pembuktian penyidik dan penuntut umum yang mengaitkan terdakwa dalam pelatihan militer tersebut.

"Saya melihat alat bukti yang mendukung ke arah konstruksi hukum seperti itu barang buktinya kurang kuat," kata Tito.

Tito tidak khawatir bila dikemudian hari putusan tersebut menjadi yurispundensi kasus serupa yang tengah menjalani upaya hukum. "Pendapat saya tidak pelu dikhawatirkan bahwa ini bisa menjadi yurispundensi. Ke depan, penyidik maupun jaksa harus mampu memperkuat alat bukti," kata mantan Deputi Penindakan BNPT ini.
Sementara itu, dari operasi yang dilakukan aparat gabungan mendapati beberapa barang bukti yang digunakan kelompok OPM dalam pelatihan militernya, yaitu berupa:

1. 2 pucuk senjata rakitan

2. 3 pucuk senjara angin merek Sharp
3. 1 pucuk senapan angin merek Canon
4. 1 pucuk senapan selam
5. 1 pucuk kalawai mata empat dengan panjang 1 meter
6. dua pucuk tombak
7. 3 buah kapak
8. Puluhan parang
9. 1 helai bendera Bintang Kejora
10. Ratusan amunisi berbagai kaliber
11. Buku panduan tempur
12. Dokumen struktur batalyon TNPD Kodam Yawaro

Pada 30 Januari 2013, jaksa menuntut Teddy selama 5 tahun karena turut serta melakukan perbuatan makar dengan maksud memisahkan sebagian dari wilayah negara sebagaimana diatur dan diancam Pasal 106 KUHP.

Siapa nyana, pada 13 Maret 2013 tuntutan ini tidak dikabulkan. Pengadilan Negeri (PN) Serui menyatakan Teddy terbukti melakukan makar tetapi tidak dapat dipidana dan melepaskan Teddy dari segala tuntutan hukum. Atas vonis ini, jaksa lalu kasasi. Tapi ternyata putusan tidak berubah.

Duduk selaku ketua majelis Dr Artidjo Alkostar dengan anggota Sri Murwahyuni dan Dr Dudu Duswara. Dalam putusan yang diketok pada 20 Oktober 2013 lalu, ketiganya menyatakan Teddy saat tertangkap hanya memegang tongkat yang berukuran setengah meter.

"Terdakwa tidak mengikuti rapat-rapat yang dikoordinir Erik Manitori," putus majelis hakim memberikan alasan melepaskan Teddy.

Erik merupakan Komandan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat dan statusnya kini buron. Erik hingga kini belum tertangkap.

Sumber : www.news.detik.com 


About Karoba News

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !
Powered by Blogger.