Injil Sudah Ada Dalam Budaya, Jauh Sebelum Misionaris

3:25:00 PM
Peserta Seminar Budaya dan Injil (Jubi/Mawel)
    Jayapura, 6/2 (Jubi) – Tanggal 5 Februari  2014 ini, semua umat di Papua  merayakan 156 tahun Ottow dan Geisler membawa Injil Kristus di Papua.
    Kita semua percaya itu satu fakta sejarah bahwa orang Papua melakukan kontak dengan orang luar, budaya luar. Kita menghargai fakta sejarah itu dengan hari libur regional, doa dan refleksi.
    Pertanyaan refleksinya, apakah benar misionaris yang  membawa Injil ke Papua? Kita mengakui bahwa para misionaris itu benar membawa Injil Yesus Kristus ke Papua. Kata lain Injil itu kabar baik, kabar gembira, cinta kasih, keadilan yang Yesus wartakan kepada bangsa Yahudi masa 2014 tahun silam.
    Kita mengakui itu satu kebenaran universal yang masih kena dengan konteks Papua. Kita butuh kabar cinta, kasih, keadilan dan perdamaian dalam situasi Papua yang tidak tersentuh dengan keadilan atau Papua yang masih ‘gelap’ dalam bahasa pewarta Injil yang fanatik. Papua yang masih menyembah berhala melalui benda-benda budaya. Para misionaris menghipnotis orang Papua membakar semua benda budaya. Pembakaran benda-benda budaya sangat nampak pada awal pekabaran Injil di wilayah pedalaman Papua. Orang- orang membakar itu tidak menyimpan benda budaya di dalam honai. Honai mereka menjadi tidak sakral. Honai hanya pada batas tempat berlindung dari panas dan hujan dan tempat membaringkan kepala.
    Orang Papua yang lain masih mempertahankan budaya atau adat. Orang Papua yang masih berpegang teguh pada budaya memaknai honai lebih dari yang nampak. Honai menjadi tempat sakral mereka berjumpa dan berkomunikasi dengan Tuhanya melalui bahasanya. Bahasa yang mereka temukan melalui satu perjalanan pencaharian makna hidup, dari mana saya datang dan kemana saya hendak menuju?
    Orang yang telah membakar adat mengambil alih posisi para misionaris dan mengatakan sesama orang Papua yang lain masih menyembah berhala. Kontradiksi ini telah mendarah daging dalam diri orang Papua. Kontradiksi ini masih kental dalam kehidupan kini, terlebih lagi orang yang menilai adat itu kuno, jelek, tidak manusiawi, menentang habis yang namanya adat.
    Kita tunggu saja, kelompok mana yang akan menang dalam perdebatan, menjadi banyak pengikutnya. Ah mencari pengikut itu gampang saja dengan tawaran materi. Kita kasih makan saja bisa beralih aliran. Pindah gereja, agama sangat sulit kita hindari. Kita samakan agama itu dengan persoalan makanan dan minuman.
    Kita hanya bisa bertanya mengapa kita membakar adat, pindah gereja dan pindah Agama? Apa yang salah dengan budaya anda, gereja anda, dan agama anda? Saya pikir tidak ada yang salah dengan apa yang anda pilih. Pilihan anda pada perbedaan kata percaya pada yang benar.
    Agama monoteis, animis mengajarkan tentang kebenaran. Gereja mengajarkan kebenaran melalui Injil dan budaya pun tidak kalah pentingnya mengajarkan dan membentuk pribadi yang utuh. Manusia Papua menyebut diri manusia sebelum Injil.
    “Nilai- nilai luhur dalam budaya itulah Injil,” tutur Pater John Kore OFM kepad kelompok Gladi Rohani dalam seminar sehari memperingati Injil masuk di tanah Papua dengan tema Injil dan Budaya, di Panti Asuhan Hawai Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Rabu (5/2).
    Pastor mempunyai argumen yang sangat masuk akal dan dapat dipertanggungjawabakan. Argumenya berkiblat pada kisah penciptaan manusia. Allah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya lalu menciptakan manusia untuk menguasai Alam ciptaanNya. Manusia mulai berusaha mengusai alam termasuk menemukan penciptanya melalui cara dan kemampuanNya. “Allah menyampaikan maksud lewat bahasa mereka, kebiasaan mereka”.
    Argumen itu tidak serta merta mengakui semua yang ada dalam budaya baik. Ada hal-hal tertentu yang memang kita murnikan tetapi ada hal yang harus kita pertahankan. Hal-hal baik itu telah lama membentuk manusia yang memiliki pribadi yang tangguh sesuai dengan kondisi geografis dan sosial politiknya.
    “Ada ajaran- ajaran yang sudah membentuk orang hidup baik sebelum misionaris tiba di Papua,” ujar Pater John Kore OFM mencontohkan kebiasaan orang Keerom dulu.
    “Orang sudah mengetahui batas-batas dusun. Orang tidak mengambil telur atau babi hutan dari dusun marga lain.” tambahnya lagi.

    Kebiasaan Orang Keerom itu, menurut Pastor Kore, contoh Orang Papua sudah mengetahui nilai bagaimana membedakan milik orang lain dan miliknya. Nilai-nilai hidup baik itu orang tua mengajarkan melalui kehidupan praktis dan upacara inisiasi. “Apakah orang Papua masih melakukan inisiasi?” tanya Pastor Kore.
    Kalau inisiasi tidak dijalankan hari ini, menurut Pastor Kore, seorang Papua mulai meninggalkan hal yang sangat penting, kehilangan pijakan hidup yang Allah berikan sebagai pedoman hidup baik melalui bahasanya. Orang-orang Papua dipaksakan dan memaksakan diri meninggalkan nilai hidup baik yang membentuk dan melekat pada dirinya.
    “Orang Papua berusaha terpaksa menerima hal yang tidak berakar pada dirinya sangat tidak mungkin. Orang Papua harus menerima injil melalui jalur budaya supaya lebih kuat dan mengakar nantinya”.

    Menurutnya, Orang Papua tidak boleh alergi dengan budaya. Budaya itu bagian dari cara hidup baik yang nilai moralnya tidak kalah dengan agama. “Kita bicara agama berarti kita bicara budaya. Agama tidak membawa sesuatu yang baru,” kata pastor Imam Katolik  asal Timor Leste Negeri Xanana Gusmao ini.
    Argumen itu sangat jelas bahwa Injil Yesus Kristus yang kita terima hari lahir dalam budaya Yahudi. Yesus sang tokoh sentralnya tidak pernah menetang adat budaya sebagai manusia Yahudi. Yesus malah menentang ketidakadilan, praktek- praktek egoisme manusia yang bertentangan dengan hukum Musa.
    “Janganlah kamu menyangka ,bahwa aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang…mengenapinya,”ujar Pastor Kore mengutipYesus saat menyoal kehadiranya dengan hukum atau adat isti adat Yahudi. (Injil Matius 5:17).
    Karena itu, Pastor Kore mengajak orang-orang Papua kembali ke dalam budaya mengembangkan diri dan menemukan Injil yang ada di dalam budaya. “Allah itu satu hanya beda nama. Manusia itu harus berfikir mengembangkan diri dan memukan Tuhan. Manusia injil 100% dan manusia budaya 100 %,”ajak Pastor Kore.
    Yoli Hisage, sekretaris Dewan Adat Papua, wilayah Lapago yang hadir menjelaskan nilai-nilai hidup baik dalam budaya mengapresiasi refleksi Injil dalam budaya. “Kita salut dan bangga mendengar penjelasan ini pada saat semua menolak budaya,” tuturnya.
    Refleksi itu menyadarkan Yoli harus mengatakan pewartaan Injil hari ini berusaha menghancurkan nilai-nilai hidup baik dan memaksakan orang Papua menerima nilai-nilai baru. “Kita sedang menuju proses penghancuran. Kita semua dapat tipu,”tuturnya tegas.
    Karena itu,Yoli mengajak semua kaum muda kembali kepada budaya masing-masing lalu belajar hidup baik dalam budaya. “Ternyata di dalam adat itu terdapat pedoman tentang hidup baik. Kita kembali ke adat masing-masing,” tambahnya mengajak.
    Kepada para pewarta Injil, Yoli berpesan memberitakan Nilai-nilai hidup baik dalam Injil tanpa menentang adat yang merupakan pedoman hidup orang Papua jauh sebelum Injil Yesus. Kalau para pewarta terus menerus menentang injil, Yoli kritisi sikap yang suka menentang budaya itu.
    “Apakah isi adat itu pedoman hidup baik dari nenek moyang sebagaiman Orang Yahudi menerima hukum Taurat melalui Musa?” tanya Yoli. (Jubi/Mawel).

Share this

Media Online Seputar Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Pendikan, dan Kesehatan di Tanah PAPUA !

Related Posts

Previous
Next Post »